<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7010959403829459285</id><updated>2011-04-21T17:38:54.069-07:00</updated><title type='text'>limbah</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>bayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15977229976436225652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_2uX9aQGk_BE/STf6oU3QBTI/AAAAAAAAAAk/38Md5vLO48U/S220/Picture0180.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>20</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7010959403829459285.post-8764913251210572080</id><published>2009-05-16T10:28:00.000-07:00</published><updated>2009-05-16T10:29:28.032-07:00</updated><title type='text'>Teknologi Baru Pengolahan Air Membersihkan Air dengan Katalis</title><content type='html'>&lt;div class="tags"&gt;&lt;strong&gt;Kata Kunci:&lt;/strong&gt; &lt;a href="http://www.chem-is-try.org/kata_kunci/air-bersih/" rel="tag"&gt;air bersih&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.chem-is-try.org/kata_kunci/titan-oksida/" rel="tag"&gt;titan oksida&lt;/a&gt;&lt;/div&gt; &lt;div class="time"&gt;Ditulis oleh &lt;a href="http://www.chem-is-try.org/author/Redaksi_chem-is-try_org/" title="Posts by Redaksi chem-is-try.org"&gt;Redaksi chem-is-try.org&lt;/a&gt; pada 10-08-2000&lt;/div&gt;  &lt;div class="the_content"&gt;   &lt;p&gt;Baru-baru ini, Tim peneliti dari Hitachi mengumumkan bahwa mereka berhasil menemukan teknologi baru dalam pengolahan air. Mereka telah berhasil mengembangkan&lt;br /&gt;teknologi katalis untuk menguraikan zat organik yang terkandung dalam air. Katalis yang digunakan adalah katalis yang aktif setelah dikenai sinar ultraviolet. Dikatakan bahwa lebih dari 90 persen zat organik termasuk Dioksin bisa diuraikan dengan cara ini. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kelebihan teknologi ini dibandingkan dengan teknologi yang ada selama ini adalah cukup menggunakan katalis tanpa menggunakan zat tambahan. Beaya proses ini jauh&lt;br /&gt;lebih murah dibandingkan dengan teknologi yang ada saat ini, misalnya dibandingkan dengan menggunakan membran. Di samping itu, proses penguraian zat organik dengan teknologi ini memerlukan waktu yang relatif singkat. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kelemahan dari teknologi ini adalah ambang konsentrasi polutan yang masih relatif kecil, dibawah 100 ppm. Sehingga, untuk air limbah yang memiliki tingkat konsentrasi zat organik sangat tinggi diperlukan proses pendahuluan untuk menurunkan kandungan zat organiknya. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Katalis adalah zat yang bisa mempercepat atau memacu terjadinya suatu reaksi. Dalam hal ini adalah reaksi penguraian zat organik. Untuk proses pengolahan air ini, katalis yang dipakai adalah Titan Oksida. Titan Oksida menjadi oksidator kuat setelah disinari sinar ultraviolet. Titan Oksida yang telah aktif tersebut akan mengoksidasi zat-zat organik ada. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Alat pembersih air yang dirancang oleh Hitachi memiliki bentuk yang sederhana. Yaitu berupa reaktor berbentuk silinder dengan sumber sinar ultraviolet pada bagian tengahnya. Sedangkan katalis ditempelkan pada dinding dalam silinder dengan zat perekat. Air limbah cukup dilewatkan pada reaktor silinder tersebut dan zat organik yang terkandung di dalamnya akan diuraikan oleh katalis yang di dinding silinder. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saat ini, Indonesia sedang menghadapi masalah serius tentang air bersih. Kelihatannya kita bisa menaruh harapan pada pengembangan teknologi ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sumber : Berita Iptek&lt;/p&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7010959403829459285-8764913251210572080?l=limbahlingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/feeds/8764913251210572080/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/2009/05/teknologi-baru-pengolahan-air.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default/8764913251210572080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default/8764913251210572080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/2009/05/teknologi-baru-pengolahan-air.html' title='Teknologi Baru Pengolahan Air Membersihkan Air dengan Katalis'/><author><name>bayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15977229976436225652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_2uX9aQGk_BE/STf6oU3QBTI/AAAAAAAAAAk/38Md5vLO48U/S220/Picture0180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7010959403829459285.post-3754743892634242452</id><published>2009-05-16T10:14:00.000-07:00</published><updated>2009-05-16T10:15:53.400-07:00</updated><title type='text'>Silanetion tidak tersubstitusi yang pertama berhasil diidentifikasi</title><content type='html'>Senyawa-senyawa yang berikatan rangkap silikon-sulfur (silanetion) merupakan golongan senyawa yang menarik. Senyawa ini dianggap terdapat di angkasa luar. Beberapa silanetion tersubstitusi, RR’Si=S, yang distabilkan oleh gugus alkil (R) sebelumnya telah disintesis dan strukturnya ditentukan dengan menggunakan kristalografi sinar-X. Tetapi silanetion yang tidak tersubstitusi (H&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;Si=S) − analog golongan kedua dari formaldehida − belum pernah ditemukan sebelumnya. Peneliti di Jerman untuk pertama kalinya telah mengidentifikasi silanetion tidak-tersubstitusi ini. &lt;p&gt;Sebuah tim yang dipimpin oleh Sven Thorwirth di Max Planck Institute for Radioastronomy, Bonn, mampu mengkarakterisasi molekul yang sulit dipahami ini dengan menggunakan spektroskopi mikrowave. "Di alam semesta, silikon dan sulfur merupakan unsur yang sangat melimpah," kata Thorwirth. Silanetion tidak tersubstitusi ini merupakan "sebuah molekul luar angkasa yang tidak diragukan keberadaannya" yang bisa terdapat dalam kulit debu yang mengelilingi bintang-bintang sekarat (dying stars), paparnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Thorwirth menggunakan spektroskopi mikrowave − yang mengukur perbedaan antara radiasi elektromagnetik yang diserap oleh sebuah molekul dan yang diemisikan − untuk mencari molekul tersebut. Perbedaan radiasi terkait dengan rotasi molekul ini, dan digunakan untuk mengidentifikasi spesies-spesies molekuler dan isotop-isotop. Tim ini kemudian mengolah hasil eksperimental mereka dengan perhitungan-perhitungan kimia kuantum tingkat tinggi. Dengan menjelaskan signifikansi penelitian ini, Thorwirth mengatakan bahwa "data ini menjadi basis laboratorium yang diperlukan untuk pencarian-pencarian radio-astronomi di masa mendatang untuk molekul ini di angkasa."&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penelitian ini disambut baik oleh Paul Davies, seorang anggota dari kelompok spektroskopi laser infra-merah di Universitas Cambridge, Inggris, yang mengatakan bahwa kombinasi antara spektroskopi dan perhitungan tingkat tinggi ini "seharusnya dapat diterapkan untuk mengungkap spektra dari molekul-molekul yang sangat rumit, sehingga memungkinkan realisasi potensi penuh dari spektroskopi mikrowave.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Disadur dari:&lt;a href="http://www.rsc.org/chemistryworld/" target="_new"&gt; http://www.rsc.org/chemistryworld/&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7010959403829459285-3754743892634242452?l=limbahlingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/feeds/3754743892634242452/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/2009/05/silanetion-tidak-tersubstitusi-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default/3754743892634242452'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default/3754743892634242452'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/2009/05/silanetion-tidak-tersubstitusi-yang.html' title='Silanetion tidak tersubstitusi yang pertama berhasil diidentifikasi'/><author><name>bayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15977229976436225652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_2uX9aQGk_BE/STf6oU3QBTI/AAAAAAAAAAk/38Md5vLO48U/S220/Picture0180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7010959403829459285.post-385029989107910069</id><published>2009-05-16T09:35:00.000-07:00</published><updated>2009-05-16T09:36:23.910-07:00</updated><title type='text'>Dekomposisi Hidrogen dari Air Dengan Natrium</title><content type='html'>&lt;div class="tags"&gt;&lt;strong&gt;Kata Kunci:&lt;/strong&gt; &lt;a href="http://www.chem-is-try.org/kata_kunci/dekomposisi/" rel="tag"&gt;dekomposisi&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.chem-is-try.org/kata_kunci/hidrogen/" rel="tag"&gt;hidrogen&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.chem-is-try.org/kata_kunci/natrium/" rel="tag"&gt;natrium&lt;/a&gt;&lt;/div&gt; &lt;div class="time"&gt;Ditulis oleh &lt;a href="http://www.chem-is-try.org/author/donny/" title="Posts by Donny Jaya"&gt;Donny Jaya&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="the_content"&gt;&lt;p&gt;enawarkan keuntungan sebagai sumber energi yang ramah lingkungan dan tanpa polusi. Hidrogen paling banyak diproduksi dari gas alam (48%), dan merupakan elemen paling ringan di dunia (berat atom = 1 g/mol), sehingga kemampuan difusinya sangat tinggi. Bisa juga digunakan sebagai bahan bakar reaktor fusi (masih tahap pengembangan), dan sebagai sumber bahan baku pembuatan HidroCarbon (BBM Sintetis). Salah satu kendala untuk produksi hidrogen adalah sumber gas alam sendiri adalah sumber energi yang tak dapat diperbaharui, cadangannya pun semakin menipis, dan harganya terus naik, apakah ada cara lain untuk mendapatkan hidrogen? Bagaimana mendapatkannya? Banyak caranya, diantaranya dengan elektrolisis air, namun kendalanya adalah biaya yang sangat mahal. Apakah ada cara lainnya… Ada, yaitu dengan Natrium/Sodium.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Natrium banyak tersedia dan melimpah jumlahnya di lautan Bumi sebagai NaCl (garam),  Natrium adalah elemen yang sangat reaktif, biaya produksi natrium pada tahun 1997 adalah US$ 0.30/kg - US$0.45/kg, cukup murah. Pada kondisi standar, logam natrium jika direaksikan dengan air akan menghasilkan gas hidrogen dengan reaksi sebagai berikut:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2Na + 2H&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;O    →      2NaOH + H&lt;sub&gt;2 &lt;/sub&gt; …………………………..(1) &lt;strong&gt;Eksotermal&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2H&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; + O&lt;sub&gt;2 &lt;/sub&gt; →       2H&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;O ……………………………….(2) Autoignition&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Reaksi tersebut bersifat eksotermal yang menghasilkan panas, sehingga gas hidrogen secara otomatis terbakar, ini disebabkan karena gas hidrogen mengalami proses autoignition akibat perpindahan panas dari reaksi ke lingkungan. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah mungkin gas hidrogen dari reaksi ini dipanen? Jawabnya mungkin…&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Gas Hidrogen memiliki Flammability Limit dengan kisaran volume 4 - 75 % di udara, dan memiliki Autoignition Point pada suhu 585 &lt;sup&gt;0&lt;/sup&gt;C, reaksi pembakaran selalu membutuhkan oksigen, begitu juga dengan Hidrogen, dengan reaksi sebagai berikut:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2H&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; + O&lt;sub&gt;2 &lt;/sub&gt; →      2H&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;O ……………………………….(3)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Proses Autoignition Hidrogen pada reaksi Natrium dengan Air dapat dicegah dengan cara menyingkirkan oksigen pada sistem tertutup sehingga Flammability Limit dan Autoignition tidak berlaku, bagaimana caranya? Dengan metode hampa dan gas inert (Nitrogen).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Nitrogen memiliki titik didih pada -195.79 &lt;sup&gt;0&lt;/sup&gt;C, pada kondisi cair nitrogen memilki suhu dibawah - 195.79 &lt;sup&gt;0&lt;/sup&gt;C. Pelepasan gas nitrogen secara cepat kedalam sistem tertutup dapat menggantikan posisi oksigen. Pada kondisi standar, suhu kamar 25 &lt;sup&gt;0&lt;/sup&gt;C, Nitrogen cair akan mendidih dengan sangat cepat, tuangkan nitrogen cair (suhu &lt; - 196 &lt;sup&gt;0&lt;/sup&gt;C) dari tabungnya kedalam wadah logam (yang bersuhu &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;+&lt;/span&gt; 25 &lt;sup&gt;0&lt;/sup&gt;C), maka nitrogen cair akan mendidih dengan sangat cepat namun tidak lama, bisa ditambahkan air agar lebih lama mendidihnya,  gas inilah yang akan dimanfaatkan untuk menyingkirkan oksigen.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada saat kondisi sistem (tertutup) telah dihampakan (vacum), segera isi dengan gas nitrogen, kemudian reaksikan natrium dengan air, akan menghasilkan gas hidrogen dan natrium hidroksida (produk samping), karena berada pada kondisi inert, reaksi autoignition hidrogen bisa dicegah, sekalipun efek eksotermall terus terjadi. Karena berat atom hidrogen = 1, maka hidrogen akan selalu mengisi ruang yang paling atas, difusifitasnya pun sangat cepat, tidak lupa juga hidrogen harus melewati kondensor agar suhunya turun (akibat proses eksotermal), setelah dingin bisa dikumpulkan dan dikompresi lalu hidrogen siap dipanen, sehingga proses ini memungkinkan untuk dilakukan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bisa juga untuk menurunkan efek eksotermalnya, sebelum direaksikan natrium dicelupkan dulu ke nitrogen cair ( &lt; - 195.79 &lt;sup&gt;0&lt;/sup&gt;C), baru kemudian direaksikan dengan air, diharapkan efek eksotermalnya sedikit berkurang karena suhu natrium yang berada pada kisaran - 195 &lt;sup&gt;0&lt;/sup&gt;C.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selain itu produk sampingnya yang berupa NaOH memiliki nilai jual juga, sehingga proses ini sangat menguntungkan.&lt;/p&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7010959403829459285-385029989107910069?l=limbahlingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/feeds/385029989107910069/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/2009/05/dekomposisi-hidrogen-dari-air-dengan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default/385029989107910069'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default/385029989107910069'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/2009/05/dekomposisi-hidrogen-dari-air-dengan.html' title='Dekomposisi Hidrogen dari Air Dengan Natrium'/><author><name>bayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15977229976436225652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_2uX9aQGk_BE/STf6oU3QBTI/AAAAAAAAAAk/38Md5vLO48U/S220/Picture0180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7010959403829459285.post-7557670670964360819</id><published>2009-05-16T09:19:00.000-07:00</published><updated>2009-05-16T09:20:43.799-07:00</updated><title type='text'>Menangkap karbon dioksida dengan batuan</title><content type='html'>&lt;div class="tags"&gt;&lt;strong&gt;Kata Kunci:&lt;/strong&gt; &lt;a href="http://www.chem-is-try.org/kata_kunci/batuan/" rel="tag"&gt;batuan&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.chem-is-try.org/kata_kunci/co2/" rel="tag"&gt;CO2&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.chem-is-try.org/kata_kunci/karbon_dioksida/" rel="tag"&gt;karbon dioksida&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.chem-is-try.org/kata_kunci/karbonat/" rel="tag"&gt;karbonat&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.chem-is-try.org/kata_kunci/peridotit/" rel="tag"&gt;peridotit&lt;/a&gt;&lt;/div&gt; &lt;div class="time"&gt;Ditulis oleh &lt;a href="http://www.chem-is-try.org/author/Soetrisno/" title="Posts by Soetrisno"&gt;Soetrisno&lt;/a&gt; pada&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="the_content"&gt;   &lt;p&gt;&lt;img src="http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/artikel/face_peridotite.jpg" class="alignleft" /&gt;Penelitian tentang sebuah jenis batuan yang banyak ditemukan di Oman menunjukkan bahwa batuan tersebut bisa digunakan untuk menyapu bersih milyaran ton karbon dioksida setiap tahun tanpa harus ditambang, menurut beberapa ilmuwan di Amerika Serikat .&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Peter Keleman dan Jurg Matter, di Columbia University, US, mengatakan bahwa batuan peridotit (yang sebagian besar tersusun atas mineral silikat olivin dan piroksen) bereaksi secara alami dengan CO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; dan membebaskannya dalam bentuk karbonat jauh lebih cepat dari yang diduga, berdasarkan kajian penarikhan (dating studies) &lt;sup&gt;14&lt;/sup&gt;C. Dengan mempercepat reaksi ini dengan panas dan dengan memaksa CO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; masuk ke dalam batuan melalui lubang-lubang yang telah dibor, para peneliti ini memperkirakan bahwa batuan perodotit Oman sendiri bisa menangkap milyaran ton CO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; dalam waktu setahun − sebuah proporsi signifikan dari 30 milyar ton CO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; yang diemisikan setiap tahun di dunia oleh aktivitas manusia. Periodotit juga ditemukan di pulau-pulau Pasifik Papua Nugini dan Caledonia, serta di California. &lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;img src="http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/artikel/peridotite.jpg" alt="" border="0" height="158" width="400" /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Batuan peridotit di Oman bisa menangkap lebih dari satu milyar ton karbon dioksida setahun&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ide penangkapan CO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; dalam bentuk karbonat di dalam batuan bukanlah hal yang baru sama sekali. Tetapi penangkapan CO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; secara alami tidak berlangsung sangat cepat, dan kebanyakan skema yang ada memerlukan energi untuk menambang batuan dan menyebarkannya pada sebuah permukaan, atau membawanya ke sebuah pabrik pembangkit daya. Kelemen dan Matter menunjukkan bahwa dengan sedikit panas ekstra dan beberapa persiapan, batuan peridotit bisa dibiarkan tetap pada tempatnya semula dan CO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; diarahkan ke batuan tersebut. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Salah satu pendekatan yang digunakan adalah pemanasan pendahuluan peridotit dan menginjeksikan CO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; murni atau campuran cairan yang kaya CO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;. Karena reaksi antara silikat dan CO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; untuk membentuk karbonat bersifat eksotermis, maka reaksi ini akan menjaga suhu batuan mendekati suhu optimum 200°C, sehingga memaksimalkan laju reaksi. Tetapi CO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; harus dipompakan dengan cepat ke dalam batuan agar dapat mengimbangi laju reaksi yang meningkat. Ini bisa menimbulkan masalah, karena pemurnian CO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; dari gas cerobong pabrik sangat intensif energi, papar Mercedes Maroto-Valer, yang meneliti sekuestrasi karbon di Nottingham University’s center untuk penangkapan dan penyimpanan karbon. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pendekatan kedua menghindari isu ini dengan menggunakan teknik-teknik dari industri minyak untuk mengebor dua lubang jauh ke dalam formasi batuan di bawah perairan laut dangkal, dan menyambung kedua lubang ini dengan sebuah jalur. Suhu batuan meningkat seiring dengan kedalaman dan suhu pada dasar lubang bor 5km adalah sekitar 100°C. Air laut yang dingin, yang mengandung CO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; bisa dipompakan kedalam salah satu lubang, dan jika telah mencapai dasar lubang, reaksi eksotermis selanjutnya akan mempertahankan suhu tinggi yang diperlukan untuk mengarahkan proses ini. Air yang menjadi panas pada akhirnya akan mencari jalan untuk berpindah ke lubang bor kedua (melalui jalur sambungan yang telah dibuat) dan naik ke permukaan melalui proses konveksi. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Meskipun pendekatan ini akan dibatasi oleh suplai CO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; terlarut dengan jumlah sekitar 10.000 ton CO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; per km&lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt; batuan, namun biayanya bisa jauh lebih rendah, karena air yang bersirkulasi akan berfungsi mentransport CO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Para peneliti ini sangat berhati-hati dengan usulan tersebut. Model-model yang lebih rinci dan tes lapangan akan diperlukan untuk mengevaluasinya, kata mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Disadur dari:&lt;a href="http://www.rsc.org/chemistryworld/" target="_new"&gt; http://www.rsc.org/chemistryworld/&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7010959403829459285-7557670670964360819?l=limbahlingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/feeds/7557670670964360819/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/2009/05/menangkap-karbon-dioksida-dengan-batuan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default/7557670670964360819'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default/7557670670964360819'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/2009/05/menangkap-karbon-dioksida-dengan-batuan.html' title='Menangkap karbon dioksida dengan batuan'/><author><name>bayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15977229976436225652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_2uX9aQGk_BE/STf6oU3QBTI/AAAAAAAAAAk/38Md5vLO48U/S220/Picture0180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7010959403829459285.post-4490320609377407402</id><published>2009-05-16T09:17:00.000-07:00</published><updated>2009-05-16T09:18:04.309-07:00</updated><title type='text'>Unsur-unsur toksik dalam asap rokok</title><content type='html'>&lt;div class="tags"&gt;&lt;strong&gt;Kata Kunci:&lt;/strong&gt; &lt;a href="http://www.chem-is-try.org/kata_kunci/asap/" rel="tag"&gt;asap&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.chem-is-try.org/kata_kunci/logam_berat/" rel="tag"&gt;logam berat&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.chem-is-try.org/kata_kunci/rokok/" rel="tag"&gt;rokok&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.chem-is-try.org/kata_kunci/toksik/" rel="tag"&gt;toksik&lt;/a&gt;&lt;/div&gt; &lt;div class="time"&gt;Ditulis oleh &lt;a href="http://www.chem-is-try.org/author/Soetrisno/" title="Posts by Soetrisno"&gt;Soetrisno&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="the_content"&gt;   &lt;p&gt;&lt;img src="http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/artikel/face_rokok.jpg" class="alignleft" /&gt;Logam-logam berat seperti arsenik, kadmium, dan timbal telah dideteksi dalam asap rokok,dengan menunjukkan bahwa unsur-unsur toksik ini bisa merambat sampai jarak berbeda-beda alam aliran udara.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rokok yang sedang terbakar menghasilkan lebih dari 4000 zat kimia; banyak diantaranya yang bersifat toksik dan sekitar 40 menyebabkan kanker. Senyawa-senyawa ini tetap berada di udara sebagai asap tembakau lingkungan yang dihirup oleh orang lain di kawasan tersebut. Ada dua tipe asap rokok, yaitu: asap rokok utama yang keluar dari mulut perokok dan asap sampingan yang berasal dari ujung rokok yang terbakar. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketika meneliti logam-logam berat dalam asap rokok sampingan, para peneliti di perusahaan rokok Philip Morris, US, menemukan tumpukan arsenik dalam cerobong asap yang digunakan dalam tahap pertama pada peralatan mereka. Fenomena ini tidak ditemukan untuk kadmium atau timbal. Mereka menganggap bahwa yang menyebabkan ini terjadi adalah bahwa arsenik bisa menjadi uap cair sedangkan kadmium dan timbal adalah partikulat padat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Michael Chang dan rekan-rekannya menggunakan sebuah alat yang disebut cerobong "ekor ikan" untuk menyalurkan asap dari sebatang rokok yang sedang terbakar menuju ke sebuah jet impactor yang mengumpulkan asap sebagai kondensat. Asap yang tersisa dilewatkan melalui sebuah saringan ester selulosa campuran untuk mencoba menangkap asap yang tersisa. Beberapa cara dicoba untuk mempersiapkan asap yang telah berkondensasi pada bagian-bagian yang berbeda dari alat. Metode yang terbaik adalah pengambilan sampel adukan, yang melibatkan penggunaan deterjen Triton X-100 dan asam nitrat untuk membuat adukan dengan kondensat asap. Spektroskopi massa berpasangan induktif digunakan untuk menganalisis adukan. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Deposisi persentase total arsenik yang lebih besar (20 persen), dibanding kadmium atau timbal (kurang dari 5 persen) dalam cerobong tersebut menunjukkan bahwa unsur-unsur toksik dalam asap rokok bisa merambat secara berbeda dalam aliran udara dan bisa terdeposisi pada titik-titik berbeda. Para peneliti ini menduga perilaku ini disebabkan oleh perbedaan antara unsur fase padat (partikulat) dan cair (uap).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Disadur dari:&lt;a href="http://www.rsc.org/chemistryworld/" target="_new"&gt; http://www.rsc.org/chemistryworld/&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7010959403829459285-4490320609377407402?l=limbahlingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/feeds/4490320609377407402/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/2009/05/unsur-unsur-toksik-dalam-asap-rokok.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default/4490320609377407402'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default/4490320609377407402'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/2009/05/unsur-unsur-toksik-dalam-asap-rokok.html' title='Unsur-unsur toksik dalam asap rokok'/><author><name>bayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15977229976436225652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_2uX9aQGk_BE/STf6oU3QBTI/AAAAAAAAAAk/38Md5vLO48U/S220/Picture0180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7010959403829459285.post-8938433564893565853</id><published>2009-05-16T09:16:00.001-07:00</published><updated>2009-05-16T09:17:05.534-07:00</updated><title type='text'>Pembuangan dan Penanganan Bahan Kimia Tumpahan di Laboratorium</title><content type='html'>&lt;div class="tags"&gt;&lt;strong&gt;Kata Kunci:&lt;/strong&gt; &lt;a href="http://www.chem-is-try.org/kata_kunci/laboratorium/" rel="tag"&gt;laboratorium&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.chem-is-try.org/kata_kunci/pembuangan/" rel="tag"&gt;pembuangan&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.chem-is-try.org/kata_kunci/penanganan/" rel="tag"&gt;penanganan&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.chem-is-try.org/kata_kunci/tumpahan/" rel="tag"&gt;tumpahan&lt;/a&gt;&lt;/div&gt; &lt;div class="time"&gt;Ditulis oleh &lt;a href="http://www.chem-is-try.org/author/Yoky_Edy_Saputra/" title="Posts by Yoky Edy Saputra"&gt;Yoky Edy Saputra&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="the_content"&gt;   &lt;p&gt;&lt;img src="http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/artikel/face_laboratorium.jpg" class="alignleft" /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Laboratorium yang baik adalah laboratorium yang tidak hanya memperhatikan masalah ketelitian analisa saja. Akan tetapi laboratorium yang baik juga harus memperhatikan masalah pembuangan limbah. Limbah yang dibuang sembarangan, jika masuk ke badan air tanah dan mengalir ke pemukiman penduduk akan menimbulkan bahaya. Terutama logam-logam berat. Jika tidak ditangani dengan baik dapat membahayakan makhluk hidup dan merusak lingkungan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pembuangan Limbah&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Secara umum, metoda pembuangan limbah laboratorium terbagi atas empat metoda.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pertama&lt;/strong&gt;, pembuangan langsung dari laboratorium. Metoda pembuangan langsung ini dapat diterapkan untuk bahan-bahan kimia yang dapat larut dalam air. Bahan-bahan kimia yang dapat larut dala air dibuang langsung melalui bak pembuangan limbah laboratorium. Untuk bahan kimia sisa yang mengandung asam atau basa harus dilakukan penetralan, selanjutnya baru bisa dibuang. Untuk bahan kimia sisa yang mengandung logam-logam berat dan beracun seperti Pb, Hg, Cd, dan sebagainya, endapannya harus dipisahkan terlebih dahulu. Kemudian cairannya dinetralkan dan dibuang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kedua&lt;/strong&gt;, dengan pembakaran terbuka. Metoda pembakaran terbuka dapat dterapkan untuk bahan-bahan organik yang kadar racunnya rendah dan tidak terlalu berbahaya. Bahan-bahan organik tersebut dibakar ditempat yang aman dan jauh dari pemukiman penduduk.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Ketiga&lt;/strong&gt;, pembakaran dalan insenerator. Metoda pembakaran dalam insenerator dapat diterapkan untuk bahan-bahan toksik yang jika dibakar ditempat terbuka akan menghasilkan senyawa-senyawa yang bersifat toksik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Keempat&lt;/strong&gt;, dikubur didalam tanah dengan perlindungan tertentu agar tidak merembes ke badan air. Metoda ini dapat diterapkan untuk zat-zat padat yang reaktif dan beracun.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penanganan dan Pemusnahan Bahan Kimia Tumpahan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Disamping metoda-metoda yang telah disebutkan diatas, terdapat beberapa jenis tumpahan bahan kimia sisa yang perlu mendapatkan perlakuan khusus sebelum dibuang keperairan. Bahkan diantaranya perlu dimusnahkan sebelum dibuang. Diantara bahan-bahan kimia tersebut antara lain ;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;1. Tumpahan Asam-asam Anorganik&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tumpahan asam-asam anorganik seperti HCl, HF, HNO&lt;sub&gt;3&lt;/sub&gt;, H&lt;sub&gt;3&lt;/sub&gt;PO&lt;sub&gt;4&lt;/sub&gt;, H&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;SO&lt;sub&gt;4&lt;/sub&gt; haruslah diperlakukan dengan penanganan khusus. Bahan tumpahan tersebut permukaannya ditutup dengan NaHCO&lt;sub&gt;3&lt;/sub&gt;atau campuran NaOH dan Ca(OH)&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; dengan perbandingan1:1. Selanjutnya diencerkan dengan air supaya brbentuk bubur dan selanjutnya dibuang kebak pembuangan air limbah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Basa Akali dan Amonia&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tumpahan basa-basa alkali dan ammonia seperti amonia anhidrat, Ca(OH)&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;, dan NaOH dapat ditangani dengan mengencerkannya dengan air dan dinetralkan dengan HCl 6 M. Kemudian diserap dengan kain dan dibuang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;3. Bahan-Bahan Kimia Oksidator&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tumpahan bahan-bahan kimia oksidator (padat maupun cair) seperti amonium dikromat, amonium perklorat, asam perklorat, dan sejenisnya dicampur dengan reduktor (seperti garam hypo, bisulfit, ferro sulfat) dan ditambahkan sedikit asam sulfat 3 M. selanjutnya campuran tersebut dinetralkan dan dibuang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;4. Bahan-Bahan Kimia Reduktor&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tumpahan bahan-bahan kimia reduktor ditutup atau dicampurkan dengan NaHCO&lt;sub&gt;3&lt;/sub&gt; (reaksi selesai) dan dipindahkan ke suatu wadah.. Selanjutnya kedalam campuran tersebut ditambahkan Ca(OCl)&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; secara perlahan-lahan dan air (biarkan reaksi selesai). Setelah reaksi selesai cmpuran diencerkan dan dinetralkan sebelum dibuang ke perairan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Untuk pemusnahan bahan reduktor (seperti Natrium bisulfit, NaNO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;, SO, Na&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;SO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;) dapat dipisahkan antara bentuk gas dan padat. Untuk gas (SO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;), alirkan kedalam larutan NaOH atau larutan kalsium hipoklorit. Untu k padatan, campurkan dengan NaOH (1:1) dan ditambahkan air hingga terbentuk slurry. Slurry yang terbentuk ditambahkan kalsium hipoklorit dan air dan dibiarkan selama 2 jam. Selanjutnya dinetralkan dan dibuang ke perairan. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sianida dan Nitril&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tumpahan sianida ditangani dengan menyerap tumpahan tersebut dengan kertas/tissu dan diuapkan dalam lemari asam, dibakar, atau dipindahkan kedalam wadah dan dibasakan dengan NaOH dan diaduk hingga terbentuk slurry. Kemudian ditambahkan ferro sulfat berlebih dan dibiarkan lebh kurang 1 jam dan dibuang keperairan. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pemusnahan sianda dapat dilakukan dengan cara menambahkan kedalamnya larutan asa dan kalsium hipoklorit berlebih dan dibiarkan 24 jam. Selanjutnya dibuang ke perairan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Untuk tumpahan nitril, ditambahkan NaOH berlebih dan Ca(OCl)&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;. setelah satu jam dibuang keperairan. Cuci bekas wadah dengan larutan hipoklorit.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pemusnahan nitril dilakukan dengan menambahkan kadalamnya NaOH dan alkohol. Setelah 1 jam uapkan alkohol dan ditambahkan larutan basa kalsium hipoklorit. Setelah 24 jam dapat dibuang ke perairan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demikianlah beberapa metoda dalam penanganan dan pemusnahan tumpahan bahan-bahan kimia sisa yang terdapat dilaboratorium sebelum dibuang diperairan. Semoga bermanfaat.&lt;/p&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7010959403829459285-8938433564893565853?l=limbahlingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/feeds/8938433564893565853/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/2009/05/pembuangan-dan-penanganan-bahan-kimia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default/8938433564893565853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default/8938433564893565853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/2009/05/pembuangan-dan-penanganan-bahan-kimia.html' title='Pembuangan dan Penanganan Bahan Kimia Tumpahan di Laboratorium'/><author><name>bayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15977229976436225652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_2uX9aQGk_BE/STf6oU3QBTI/AAAAAAAAAAk/38Md5vLO48U/S220/Picture0180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7010959403829459285.post-3786016896471835793</id><published>2009-05-16T08:55:00.000-07:00</published><updated>2009-05-16T08:56:29.935-07:00</updated><title type='text'>Pencemaran Limbah di Sungai Siak Meluas</title><content type='html'>&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Pekanbaru, Kompas - Pencemaran limbah di Sungai Siak yang membunuh berbagai jenis dan ukuran ikan meluas hingga meliputi rentang panjang aliran 100 kilometer dari hulu ke hilir sungai tersebut. Akibatnya, diperhitungkan ikan yang terbunuh mencapai 1,5 ton.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Direktur Rona Lingkungan dari Universitas Riau Tengku Ariful Amri mengungkapkan itu saat ditemui di Pekanbaru, Kamis (10/6). Ia mengatakan, limbah yang mencemari air Sungai Siak dan membunuh berbagai jenis dan ukuran ikan Selasa lalu dilaporkan meluas hingga kawasan hilir yang terpisah sekitar 100 kilometer dari hulu sungai berkedalaman rata-rata 29 meter itu. Perluasan tersebut diketahui setelah mendapat laporan masyarakat yang menemukan ikan yang mati akibat kekurangan oksigen di Perawang, Kabupaten Siak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Menurut Ariful, akibat luapan limbah tersebut, hingga Selasa lalu ikan yang mati akibat kekurangan oksigen mencapai 1,2 ton. Jumlah tersebut akan bertambah 0,3 ton sampai kondisi air Sungai Siak normal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;"Kematian ikan itu akan terus berlangsung hingga kadar oksigen terlarut dalam air Sungai Siak normal, dan hingga saat itu total ikan yang mati menjadi 1,5 ton," kata Ariful.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Menurut Ariful, kondisi air saat puncak pencemaran Selasa lalu menunjukkan tingkat oksigen terlarut (dissolved oxygen/DO) sangat rendah, yakni 0,2 hingga 0,7 bagian per milimeter (ppm). Padahal, kondisi normal yang diperlukan ikan yang hidup di Sungai Siak antara 2 hingga 3 ppm.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;"Pada tanggal 2 Juni lalu, saat kami mengambil contoh air dari Sungai Siak, diketahui kondisi DO di sungai ini masih baik, 2 hingga 3 ppm. Namun, hanya dalam waktu singkat, kandungan oksigen turun drastis. Hal itu hanya dapat terjadi akibat kandungan pupuk organik yang sangat tinggi. Hal tersebut terjadi karena di bagian hulu banyak pabrik pengolahan minyak kelapa sawit dan perkebunannya," kata Ariful.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Faktor musim&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Meskipun demikian, menurut Ariful, faktor utama yang menyebabkan pencemaran Sungai Siak hingga kematian ribuan ikan itu adalah pergantian musim, dari musim hujan ke musim kemarau. Musim kemarau menyebabkan volume air di sungai tersebut jauh berkurang, sementara limpahan limbahnya justru meningkat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;"Akibatnya, banyak ikan kekurangan oksigen dalam jumlah besar, sementara air yang digunakan untuk hidup berkurang. Apalagi limbah yang masuk ke aliran Sungai Siak meningkat, ketika air hujan yang terjadi sejak Senin pagi hingga Selasa malam mengalirkan limbah organik dari darat langsung ke Sungai Siak," kata Ariful.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Menurut Ariful, akibat faktor alam tersebut, kematian ikan karena kekurangan oksigen akan kembali terulang di sepanjang tahun ini. Akan tetapi, limpahan limbah tidak separah pencemaran yang membunuh ribuan ikan awal minggu ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;"Pencemaran Sungai Siak yang berujung pada kematian ikan Selasa lalu itu yang paling parah selama ini. Ini akan kembali terulang sepanjang tahun ini meskipun tidak sama parahnya," kata Ariful.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Sebelumnya diberitakan, ribuan ikan dalam berbagai ukuran dan jenis ditemukan mati mengambang di sepanjang aliran Sungai Siak di kawasan Kota Pekanbaru. Itu dikarenakan kekurangan oksigen setelah permukaan air sungai itu tertutup limbah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7010959403829459285-3786016896471835793?l=limbahlingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/feeds/3786016896471835793/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/2009/05/pencemaran-limbah-di-sungai-siak-meluas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default/3786016896471835793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default/3786016896471835793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/2009/05/pencemaran-limbah-di-sungai-siak-meluas.html' title='Pencemaran Limbah di Sungai Siak Meluas'/><author><name>bayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15977229976436225652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_2uX9aQGk_BE/STf6oU3QBTI/AAAAAAAAAAk/38Md5vLO48U/S220/Picture0180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7010959403829459285.post-7291598792892164297</id><published>2009-05-16T08:53:00.001-07:00</published><updated>2009-05-16T08:54:02.395-07:00</updated><title type='text'>Penanggulangan terhadap Terjadinya Pencemaran Air dan Pengolahan Limbah</title><content type='html'>&lt;div class="tags"&gt;&lt;strong&gt;Kata Kunci:&lt;/strong&gt; &lt;a href="http://www.chem-is-try.org/kata_kunci/limbah/" rel="tag"&gt;limbah&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.chem-is-try.org/kata_kunci/pencemaran-air/" rel="tag"&gt;Pencemaran Air&lt;/a&gt;&lt;/div&gt; &lt;div class="time"&gt;Ditulis oleh &lt;a href="http://www.chem-is-try.org/author/achmad_lutfi/" title="Posts by Achmad Lutfi"&gt;Achmad Lutfi&lt;/a&gt; pada 12-03-2009&lt;/div&gt;     &lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;Penanggulangan terjadinya pencemaran air &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Untuk mencegah agar tidak terjadi pencemaran air, dalam aktivitas kita dalam memenuhi kebutuhan hidup hendaknya tidak menambah terjadinya bahan pencemar antara lain tidak membuang sampah rumah tangga, sampah rumah sakit, sampah/limbah industri secara sembarangan, tidak membuang ke dalam air sungai, danau ataupun ke dalam selokan. Tidak menggunakan pupuk dan pestisida secara berlebihan, karena sisa pupuk dan pestisida akan mencemari air di lingkungan tanah pertanian. Tidak menggunakan deterjen fosfat, karena senyawa fosfat merupakan makanan bagi tanaman air seperti enceng gondok yang dapat menyebabkan terjadinya pencemaran air.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pencemaran air yang telah terjadi secara alami misalnya adanya jumlah logam-logam berat yang masuk dan menumpuk dalam tubuh manusia, logam berat ini dapat meracuni organ tubuh melalui pencernaan karena tubuh memakan tumbuh-tumbuhan yang mengandung logam berat meskipun diperlukan dalam jumlah kecil. Penumpukan logam-logam berat ini terjadi dalam tumbuh-tumbuhan  karena terkontaminasi oleh limbah industri. Untuk menanggulangi agar tidak terjadi penumpukan logam-logam berat, maka limbah industri hendaknya dilakukan pengolahan sebelum dibuang ke lingkungan.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Proses pencegahan terjadinya pencemaran lebih baik daripada proses penanggulangan terhadap pencemaran yang telah terjadi.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;Pengolahan limbah &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Limbah industri sebelum dibuang ke tempat pembuangan, dialirkan ke sungai atau selokan hendaknya dikumpulkan di suatu tempat yang disediakan, kemudian diolah, agar bila terpaksa harus dibuang ke sungai tidak menyebabkan terjadinya pencemaran air. Bahkan kalau dapat setelah diolah tidak dibuang ke sungai melainkan dapat digunakan lagi untuk keperluan industri sendiri.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sampah padat dari rumah tangga berupa plastik atau serat sintetis yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme dipisahkan, kemudian diolah menjadi bahan lain yang berguna, misalnya dapat diolah menjadi keset. Sampah organik yang dapat diuraikan oleh mikroorganisme dikubur dalam lubang tanah, kemudian kalau sudah membusuk dapat digunakan sebagai pupuk.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7010959403829459285-7291598792892164297?l=limbahlingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/feeds/7291598792892164297/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/2009/05/penanggulangan-terhadap-terjadinya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default/7291598792892164297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default/7291598792892164297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/2009/05/penanggulangan-terhadap-terjadinya.html' title='Penanggulangan terhadap Terjadinya Pencemaran Air dan Pengolahan Limbah'/><author><name>bayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15977229976436225652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_2uX9aQGk_BE/STf6oU3QBTI/AAAAAAAAAAk/38Md5vLO48U/S220/Picture0180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7010959403829459285.post-8198659955203514484</id><published>2009-05-16T08:49:00.000-07:00</published><updated>2009-05-16T08:50:04.225-07:00</updated><title type='text'>Terjadinya Pencemaran Udara dan Penanggulangannya</title><content type='html'>&lt;div class="time"&gt;Ditulis oleh &lt;a href="http://www.chem-is-try.org/author/achmad_lutfi/" title="Posts by Achmad Lutfi"&gt;Achmad Lutfi&lt;/a&gt; pada 12-03-2009&lt;/div&gt;     &lt;p style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;Terjadinya pencemaran udara &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kelembaban udara bergantung pada konsentrasi uap air, dan H2O yang berbeda-beda konsentrasinya di setiap daerah. Kondisi udara di dalam  atmosfer tidak pernah ditemukan dalam keadaan bersih, melainkan sudah tercampur dengan gas-gas lain dan partikulat-partikulat yang tidak kita perlukan. Gas-gas dan partikulat-partikulat yang berasal dari aktivitas alam dan juga yang dihasilkan dari aktivitas manusia ini terus-menerus masuk ke dalam udara dan mengotori/mencemari udara di lapisan atmosfer khususnya lapisan troposfer. Apabila bahan pencemar tersebut dari hasil pengukuran dengan parameter yang telah ditentukan oleh WHO konsentrasi bahan pencemarnya melewati ambang batas (konsentrasi yang masih bisa diatasi), maka udara dinyatakan dalam keadaan tercemar. Pencemaran udara terjadi apabila mengandung satu macam atau lebih bahan pencemar diperoleh dari hasil proses kimiawi seperti gas-gas CO, CO2, SO2, SO3, gas dengan konsentrasi tinggi atau kondisi fisik seperti suhu yang sangat tinggi bagi ukuran manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Adanya gas-gas tersebut dan partikulat-partikulat dengan konsentrasi melewati ambang batas, maka udara di daerah tersebut dinyatakan sudah tercemar. Dengan menggunakan parameter konsentrasi zat pencemar dan waktu lamanya kontak antara bahan pencemar atau polutan dengan lingkungan (udara), WHO menetapkan empat tingkatan pencemaran sebagai berikut:&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pencemaran tingkat pertama; yaitu pencemaran yang tidak menimbulkan kerugian bagi manusia.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pencemaran tingkat kedua; yaitu pencemaran yang mulai menimbulkan kerugian bagi manusia seperti terjadinya iritasi pada indra kita.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pencemaran tingkat ketiga; yaitu pencemaran yang sudah dapat bereaksi pada faal tubuh dan menyebabkan terjadinya penyakit yang kronis.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pencemaran tingkat keempat; yaitu pencemaran yang telah menimbulkan sakit akut dan kematian bagi manusia maupun hewan dan tumbuh-tumbuhan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;img class="aligncenter size-full wp-image-3359" src="http://www.chem-is-try.org/wp-content/uploads/2009/03/gambar3.jpg" alt="gambar3" height="351" width="400" /&gt;Gambar 3 Kebakaran menimbulkan asap yang dapat membuat pencemaran udara&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Pencemaran Udara Yang Terjadi Di Indonesia &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Indonesia merupakan negara di dunia yang paling banyak memiliki gunung berapi (sekitar 137 buah dan 30% masih dinyatakan aktif). Oleh sebab itu Indonesia mudah mengalami pencemaran secara alami. Selain itu adanya kebakaran hutan akibat musim kemarau panjang ataupun pembakaran hutan yang disengaja untuk memenuhi kebutuhan seperti terjadi di Kalimantan dan di Sumatera dalam tahun 1997 dan tahun 1998 menyebabkan terjadinya pencemaran yang cukup menghawatirkan, karena asap tebal hasil kebakaran tersebut menyeberang ke negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Asap tebal dari hasil kebakaran hutan ini sangat merugikan, baik dalam segi ekonomi, transportasi (udara, darat dan laut) dan kesehatan. Akibat asap tebal tersebut menyebabkan terhentinya alat-alat transportasi karena dikhawatirkan akan terjadi tabrakan. Selain itu asap itu merugikan kesehatan yaitu menyebabkan sakit mata, radang tenggorokan, radang paru-paru dan sakit kulit. Pencemaran udara lainnya berasal dari limbah berupa asap yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar kedaraan bermotor dan limbah asap dari industri.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;img class="aligncenter size-full wp-image-3360" src="http://www.chem-is-try.org/wp-content/uploads/2009/03/gambar4.jpg" alt="gambar4" height="288" width="400" /&gt;Gambar 4 Asap kendaraan bermotor alah satu sumber pencemaran udara&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;Cara penanggulangannya &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Untuk dapat menanggulangi terjadinya pencemaran udara dapat dilakukan beberapa usaha antara lain: mengganti bahan bakar kendaraan bermotor dengan bahan bakar yang tidak menghasilkan gas karbon monoksida dan diusahakan pula agar pembakaran yang terjadi berlangsung secara sempurna, selain itu pengolahan/daur ulang atau penyaringan limbah asap industri, penghijauan untuk melangsungkan proses fotosintesis (taman bertindak sebagai paru-paru kota), dan tidak melakukan pembakaran hutan secara sembarangan, serta melakukan reboisasi/penanaman kembali pohon­pohon pengganti yang penting adalah untuk membuka lahan tidak dilakukan pembakaran hutan, melainkan dengan cara mekanik.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;Dampak negatif dan dampak positif &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di atas telah Anda pelajari bahwa pencemaran udara dapat memberikan dampak negatif bagi makhluk hidup, manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Kebakaran hutan dan gunung api yang meletus menyebabkan banyak hewan yang kehilangan tempat berlindung, banyak hewan dan tumbuhan mati bahkan punah. Gas-gas oksida belerang (SO2 dan SO3) bereaksi dengan uap air, dan air hujan dapat menyebabkan terjadinya hujan asam yang dapat merusak gedung-gedung, jembatan, patung-patung sehingga mengakibatkan tumbuhan mati atau tidak bisa tumbuh. Gas karbon monoksida bila terhisap masuk ke dalam paru-paru bereaksi dengan haemoglobin menyebabkan terjadinya keracunan darah dan masih banyak lagi dampak negatif yang disebabkan oleh pencemaran udara.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pencemaran udara selain memberikan dampak negatif, juga dapat memberikan dampak positif antara lain, lahar dan partikulat-partikulat yang disemburkan gunung berapi yang meletus, bila sudah dingin menyebabkan tanah menjadi subur, pasir dan batuan yang dikeluarkan gunung berapi yang meletus dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan. Gas karbon monoksida bila bereaksi dengan oksigen di udara menghasilkan gas karbon dioksida bisa dimanfaatkan bagi tumbuh-tumbuhan untuk melangsungkan fotosintesis untuk menghasilkan karbohidrat yang sangat berguna bagi makhluk hidup.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7010959403829459285-8198659955203514484?l=limbahlingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/feeds/8198659955203514484/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/2009/05/terjadinya-pencemaran-udara-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default/8198659955203514484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default/8198659955203514484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/2009/05/terjadinya-pencemaran-udara-dan.html' title='Terjadinya Pencemaran Udara dan Penanggulangannya'/><author><name>bayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15977229976436225652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_2uX9aQGk_BE/STf6oU3QBTI/AAAAAAAAAAk/38Md5vLO48U/S220/Picture0180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7010959403829459285.post-8600211371773788221</id><published>2009-04-19T22:35:00.000-07:00</published><updated>2009-04-19T22:36:53.817-07:00</updated><title type='text'>Limbah Kimia dan Pengaruhnya Terhadap Reproduksi Hewan</title><content type='html'>&lt;table width="750" align="center" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="550" bgcolor="#f3f3f3"&gt;&lt;table width="100%" align="center" border="0" cellpadding="5" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: left;" align="center"&gt;Oleh: Jalius&lt;br /&gt;Nrp.P.062030041/PSL&lt;br /&gt;Institut Pertanian Bogor&lt;br /&gt;Program  Pascasarjana/S3&lt;br /&gt;E-mail: Jali_yus@yahoo.com&lt;br /&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: left;" align="center"&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;ABSTRAK&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span lang="pt-br"&gt;Ekosistem  akuatik yang tercemari oleh limbah kimia yang meliputi pestisida, herbisida,  fungisida, metal seperti mercury, cadmium, zincum, cuprum dan mangan serta  limbah bahan plastik akan mempengaruhi kehidupan dan reproduksi hewan. Pengaruh  terhadap reproduksi meliputi berkurangnya aktivitas kawin, produksi telur  menurun, kerabang telur menipis, daya tetas menurun, interval beranak panjang,  produksi hormon GnRH, FSH, estrogen dan testosteron menurun.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;" lang="pt-br"&gt; &lt;hr /&gt; Kata Kunci: Limbah logam, plastik dan reproduksi hewan&lt;br /&gt; &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%; margin-right: 4pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%; margin-right: 4pt;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;&lt;span&gt;                  &lt;/span&gt;Senyawa kimia yang secara nyata dapat  mempengaruhi perkembangan janin yang dapat menimbulkan perubahan bentuk mulai  dari kematian embrio sampai menyebabkan kelainan bentuk (malformasi) dan  keterlambatan pertumbuhan. &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Secara kolektif respon-respon  ini disebut sebagai efek embriotoksik. Hasil penelitian laboratorium terdapat  banyak zat kimia yang dapat ditunjukan sebagai penyebab kelainan bentuk embrio  atau teratogenik&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;pada manusia dan hewan seperti pemberian  talidomida, tiourasil, klorpropamida, kortison, etinil testosteron, nitrogen  mustard, uretan, kolkisin, asam nikotinat, vitamin A, biru tripan, biru evan,  aktinomisin D, fenilmerkuri asetat, plumbum dan talium (Loomis,  1978).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span&gt;                  &lt;/span&gt;Sebagaimana kita ketahui bahwa untuk  peningkatkan produksi hasil pertanian petani telah menggunakan pupuk pestisida  sebagai pupuk seperti DDT (dichloro diphenyl trychloroethane), urea, posfat dan  kalium dan banyak lagi jenis yang lainnya.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Pupuk DDT merupakan  kelompok dari chlorinated hydrocarbonat (CHs) yang mempunyai sifat polutan.  Selanjunya menurut Cox, (1997) bahwa penggunaan peptisida dapat menyebabkan  keracunan bagi organisme.&lt;span&gt;              &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Pada aliran sungai, danau, pesisir dan laut yang terkontaminasi atau  tercemar oleh pupuk DDT dapat menyebabkan penurunan aktifitas seksual pada  burung (Henny dan Herron, 1989). Penggunaan pupuk urea, pospat dan kalium oleh  patani di sawah kemunghkinan akan mencemari air sungai yang akan mengganggu  ekosistem akuatik. Demikian juga limbah plastik yang sangat sulit diatasi dan  merupakan polutan yang sukar didekomposisikan serta akan berdampak negatif  terhadap ekosistem dan organisme.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Oleh karena itu perlu dilakukan  pengkajian tentang pengaruh toksik berbagai zat kimia terhadap aktifitas  reproduksi hewan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Pencemaran Pesticida  dan Pengaruhnya pada Reproduksi Hewan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: normal;" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini obat-obat kimia untuk  meningkatkan nilai tambah produksi hasil tanaman pangan,&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;petani  telah menggunakan peptisida, herbisida, pupuk urea, pospat dan kalium semakin  gencar dipakai. Keadaan ini secara tidak langsung atau pun lansung akan  mencemari air pada aliran sungai. Menurut Ratcliffe, (1967) bahwa penggunaan  peptisida seperti chlorinated hydrocarbonate (CHs) akan mencemari aliran air  atau ekosistem akuatik dan akan mempengaruhi secara langsung kepada hewan-hewan  disekitarnya yang menkonsumsi air tersebut akan mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: normal;" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Risidu pestisida telah pula dapat ditunjukan dalam sampel yang diambil dari sungai di Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan dan Bali. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: normal;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kadar risidu dalam air dan sayuran adalah rendah dan dibawah kadar yang membahayakan kesehatan menurut standar FAO dan WHO. Hasil penelitian Soemarwoto, (1980) pada berbagai sumber air dan sayur-sayuran dapat dilihat pada Tabel 1.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;div align="center"&gt; &lt;table style="border: medium none ; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt; &lt;tbody&gt; &lt;tr style="height: 4pt;"&gt; &lt;td style="border: medium none ; padding: 0pt 5.4pt; width: 435.95pt; height: 4pt;" valign="top" width="581"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;Daftar Tabel 1. Kadar risidu pestisida dalam lingkungan di Bandung.&lt;/p&gt; &lt;table style="border: medium none ; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt; &lt;tbody&gt; &lt;tr style="height: 13.9pt;"&gt; &lt;td style="border: 0.5pt solid windowtext; padding: 0pt 5.4pt; width: 70.85pt; height: 13.9pt;" rowspan="2" valign="top" width="94"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="PT-BR"&gt;BAHAN&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 0.5pt 0.5pt 0.5pt medium; padding: 0pt 5.4pt; width: 365.1pt; height: 13.9pt;" colspan="5" valign="top" width="487"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="PT-BR"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="PT-BR"&gt;Kadar residu pestisida (10&lt;sup&gt;-4&lt;/sup&gt;mg/l)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr style="height: 13.85pt;"&gt; &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium 0.5pt 0.5pt medium; padding: 0pt 5.4pt; width: 73pt; height: 13.85pt;" valign="top" width="97"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Diazinon&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium 0.5pt 0.5pt medium; padding: 0pt 5.4pt; width: 73pt; height: 13.85pt;" valign="top" width="97"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Fenitrothlon&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium 0.5pt 0.5pt medium; padding: 0pt 5.4pt; width: 73.05pt; height: 13.85pt;" valign="top" width="97"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Dichlorvos&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium 0.5pt 0.5pt medium; padding: 0pt 5.4pt; width: 73pt; height: 13.85pt;" valign="top" width="97"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Supracid&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium 0.5pt 0.5pt medium; padding: 0pt 5.4pt; width: 73.05pt; height: 13.85pt;" valign="top" width="97"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Propoxur&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium 0.5pt 0.5pt; padding: 0pt 5.4pt; width: 70.85pt;" valign="top" width="94"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Air ledeng&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Air pompa&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Sungai&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Air Kolam&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Sumur&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Air sawah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Kangkung&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Daun Sing-&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;kong&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Daun keladi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Genjer&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium 0.5pt 0.5pt medium; padding: 0pt 5.4pt; width: 73pt;" valign="top" width="97"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;0,06 – 0,15&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;0.05 – 0,08&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;0,10 – 3,21&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;0,20 – 4,50&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;0,40 – 5,00&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;0,20 – 0,60&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;20,0 – 36,0&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;10,0 – 150,0&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;60,0 – 150&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;20,0 – 35,0&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium 0.5pt 0.5pt medium; padding: 0pt 5.4pt; width: 73pt;" valign="top" width="97"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;0,01 – 0,20&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;0,10 – 0,15&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;0,25–&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;3,00&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;0,38 – 4,00&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;0,02 – 2,00&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;0,13 – 2,00&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;8,00 – 26,0&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;20,0 – 25,0&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;20,0 -&lt;span&gt;   &lt;/span&gt;60,0&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;8,00 – 23,0&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium 0.5pt 0.5pt medium; padding: 0pt 5.4pt; width: 73.05pt;" valign="top" width="97"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;0,02 – 0,04&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;tt&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;0,08 – 0,60&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;0,02 – 0,63&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;0,03 – 1,35&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;0,03 -&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;0,63&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;20,0 – 34,0&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;tt&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;tt&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;1,50 – 2,60&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium 0.5pt 0.5pt medium; padding: 0pt 5.4pt; width: 73pt;" valign="top" width="97"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;0,01 – 0,02&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;0,04 – 0,06&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;0,02 – 4,00&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;0,01 – 2,00&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;0,03 – 5,00&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;0,02 – 1,00&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;tt&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;1,00 – 4,00&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;40,0 – 100&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;1,50 – 2,40&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium 0.5pt 0.5pt medium; padding: 0pt 5.4pt; width: 73.05pt;" valign="top" width="97"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;0,10 – 0,20&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;0,10 – 0,26&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;0,22 – 0,60&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;0,15 –0,60&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;tt&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;0,30 – 0,50&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;83,5 – 111,4&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;20,0 – 92,0&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;tt&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;81,0 – 111,4&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Catatan : tt = tidak terdeteksi&lt;span&gt;                                                                         &lt;/span&gt;Sumber : Soemarwoto, (1980).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt; &lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-right: 4pt;" align="justify"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Pencemaran air oleh peptisida akan mengakibatkan terakumulasinya peptisida pada organisme perairan tersebut terutama ikan.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Menurut Ratcliffe, (1967) bahwa burung-burung yang hidup ditempat yang tercemar oleh&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;peptisida dalam waktu yang lama dapat mengakibatkan kulit telurnya menipis. Dari beberapa species yang&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;terkontaminasi menunjukan bahwa kerabang telur yang menipis pada burung dapat menurunkan populasi sekitar 18 persen (Lincer, 1975). Pencemaran dan kontaminasi peptisida DDT pada lingkungan air sungai dapat menyebabkan berkurangnya perkawinan beberapa species burung (Dirksen et al., 1995). Pada dosis yang tinggi akan mempengaruhi jaringan tubuh organisme,&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;mengalami gangguan reproduksi dan genetik dari organisme yang bersangkutan (Smith, 1980). Selain itu juga penggunaan herbicida yang mengandung dioxin dapat mengakibaktakn berkurangnya aktifitas reproduksi dan dapat menyebabkan perkembangan abnormalitas pada itik (White dan Seginak, 1994). Penurunan aktifitas seksual akibat kontaminasi peptisida belum ada penjelasan yang mendalam, apakah target peptisida berada di kelenjar hypothalamus, atau di kelenjar hypifisa dan gonad (ovarium dan testis). Oleh karena itu perlu dikaji lebih mendalam tentang pencemaran peptisida dan pengaruhnya terhadap aktifitas reproduksi hewan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Pencemaran lingkungan kita dengan senyawa kimia lebih dai 1000 macam sintetiknya (Maugh, 1978). Sebagian zat kimia tesebut adalah pestisida yang dipakai pada pertanian sebagai pupuk, zat tersebut merupakan potensi sebagai polutan pada lingkungan hidup organisme. Sebagimana penggunaannya dilakukan secara menyemprot yang potensi sebagai pencemar bagi lingkungan. Kontaminasi senyawa pestisida selama 20 tahun pada lingkungan, sehingga terjadi akumulasi yang mengakibatkan banyak manusia mengalami penyakit kanker (Higginson dan Muir, 1979). Penggunaan fungisida dapat mengakibatkan keracunan gen (genotoxicity), dengan kata lain sintesis DNA akan terhambat (von Aufess, 1989). Lingkungan yang tercemar dengan pestisida dapat menyebabkan genetic hazards atau perubahan yang terjadi pada gen-gen pada kromoson lymphocyte (Joksic et al., 1997).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Hasil penelitian di Florida penggunaan pestisida seperti chlorinsted hydrocarbon&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;dapat menggangu respon bakteri dalam proses nitrifikasi. Penggunaan peptisida harus dibatasi kalau tidak akan mepengaruhi siklus nitrogen dan akan mempengaruhi kehidupan tanaman, hewan dan manusia (Southwick and Charles, 1972).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Menurut Clapham, (1973) bahwa suplai makanan burung murai yang tercemari oleh peptisida dapat mempengaruhi langsung terhadap mortalitas dan merusak alat reproduksinya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span&gt;                  &lt;/span&gt;Menurut Wilson dan Leigh, 1992 bahwa pestisida chlorinsted hydrocarbon dan sintetiknya dapat menyebabkan gangguan sistem reproduksi hewan dan manusia.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Dari beberapa hasil penelitian menunjukan bahwa pestisida tersebut sangat berpengaruh terhadap produksi estrogen, sedangkan apabila hewan tersebut mengalami kronik terhadap pestisida dapat menyebabkan berkurangnya jumlah anak sekelahiran dan panjangnya interval beranak. Selain itu dapat pula menghambat perkembangan follikel dan ovulasi. Juga menyebabkan perubahan struktur organ kelamin dan menghambat gonadotropin.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Limbah Metal dan Pengaruhnya pada Reproduksi Hewan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%; margin-right: 4pt;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;&lt;span&gt;                  &lt;/span&gt;Hasil penelitian Cameron dan Foster, (1963) pemberian cadmium chloride 9-18 mg/kg berat badan secara subkutan pada kelinci dapat menyebabkan hyperaemia dan haemorhage selama pemberian 5-12 hari, juga mengakibatkan rusaknya sel-sel germinal dan sel Leydig. &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Slanjutnya menurut Nath et al., (1984) bahwa pemberian selenium dapat mencegah cadmiun memperkecil kelenjar testis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span&gt;                  &lt;/span&gt;Menurut Matsumoto et al., (1965) bahwa di Jepang terdapat penyakit Muramata yaitu syaraf-syaraf di cerebelum cortex tidak terintegrasi lagi sebagai akibat mengkonsumsi ikan yang hidup pada perairan yang tercemar mercuri yang berasal dari limbah industri. Lebih lanjut hasil penelitiannya menunjukan bahwa pemberian methylmercury dapat membahayakan sistem syaraf pusat. &lt;/span&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;Selain itu senyawa mercuri sangat mempengaruhi teratogenik pada manusia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;&lt;span&gt;                  &lt;/span&gt;Menurut Burger dan Gochfeld, (1997) species burung yang kena pencemaran mercury di dalam telurnya mengandung 1,5 ppm dan pada bulunya sekitar 5 – 40 ppm dapat menggangu aktifitas reproduksinya. Selain itu dijelaskan bahwa pada burung tersebut telurnya mempunyai daya tetas yang rendah, bobot anak dan kemampuan hidup anak&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;menurun. &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Kalaupun hidup akan kelihatan tingkah lakunya tidak normal dan terjadi infertilitas. Pengaruh mercury pada berbagai species unggas terhadap gangguan reproduksi dapat dilihat Tabel 2.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div align="center"&gt; &lt;table style="margin-left: 5.4pt; border-collapse: collapse;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt; &lt;tbody&gt; &lt;tr style="height: 521.6pt;"&gt; &lt;td style="padding: 0pt 5.4pt; width: 430.55pt; height: 521.6pt;" valign="top" width="574"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;Tabel 2. Tingkat Kosentrasi Mercury (ppm) dan pengaruhnya pada burung.&lt;/p&gt; &lt;div align="center"&gt; &lt;table style="border: medium none ; border-collapse: collapse;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt; &lt;tbody&gt; &lt;tr&gt; &lt;td style="border: 0.5pt solid windowtext; padding: 0pt 5.4pt; width: 25.55pt;" valign="top" width="34"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="PT-BR"&gt;No.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 0.5pt 0.5pt 0.5pt medium; padding: 0pt 5.4pt; width: 111.65pt;" valign="top" width="149"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="PT-BR"&gt;Species&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 0.5pt 0.5pt 0.5pt medium; padding: 0pt 5.4pt; width: 99.15pt;" valign="top" width="132"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="PT-BR"&gt;Kosentrasi (ppm)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 0.5pt 0.5pt 0.5pt medium; padding: 0pt 5.4pt; width: 115pt;" valign="top" width="153"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="PT-BR"&gt;Pengaruh&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 0.5pt 0.5pt 0.5pt medium; padding: 0pt 5.4pt; width: 84.6pt;" valign="top" width="113"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Sumber&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium 0.5pt 0.5pt; padding: 0pt 5.4pt; width: 25.55pt;" valign="top" width="34"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;1.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;2.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;3.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;4.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium 0.5pt 0.5pt medium; padding: 0pt 5.4pt; width: 111.65pt;" valign="top" width="149"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Pheasant&lt;i&gt;(Phasianus&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Colchilus).&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Pheasant&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Black Duck &lt;i&gt;(Anas rubripes).&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Malard&lt;i&gt;(A.platyrhynchos)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Common tern &lt;i&gt;(Sterna hirundo)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium 0.5pt 0.5pt medium; padding: 0pt 5.4pt; width: 99.15pt;" valign="top" width="132"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;0,05-1,5 (ww)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;0,9-3,1(ww)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;5,53&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;(ww)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;4,70&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;(ww)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;0,53 (ww)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;0,70&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;0,5-0.9 (ww)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;5,46 (dw)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;1,0&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;(ww)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;5,46 (dw)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;3,65 (ww)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium 0.5pt 0.5pt medium; padding: 0pt 5.4pt; width: 115pt;" valign="top" width="153"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;-menurunkan daya tetas&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;-kemampuan hidup anak&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;berkurang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;-berat telur berkurang&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;-kulit telur tipis&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="PT-BR"&gt;-menurunkan daya tetas&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="PT-BR"&gt;&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;(50-80%).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="PT-BR"&gt;-mengurangi kemam-&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="PT-BR"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;puan hidup anak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;-Daya tetas menurun&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;-kemampuan hidup anak&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;berkurang&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;-neural shrinkage&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;-neural lesions&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;-Demyelination&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;-mortalitas tinggi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;-pertumbuhan embrio&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;berkurang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;-anak abnormal 58%.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;-embrio malformation&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;-anak abnormal 27%&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;-daya tetas menurun&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;-menghambat pertum-&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;buhan embrio.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;-anak abnormal 58%.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;-kemampuan hidu ber-&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;kurang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;-chicks hyperresponsive&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;to frightening stimuli.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;-Thinner shells&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;-gagal reproduksi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color; border-width: medium 0.5pt 0.5pt medium; padding: 0pt 5.4pt; width: 84.6pt;" valign="top" width="113"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Fimreite, 1971.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Spann et al., 1972.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Finley &amp;amp; Stendell&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;1978.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Stendell, 1978&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Hoffman dan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Moore, 1979.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="PT-BR"&gt;Heinz, 1975.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="PT-BR"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="PT-BR"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="PT-BR"&gt;Heinz, 1974,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="PT-BR"&gt;1997a,b.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="PT-BR"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="PT-BR"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="PT-BR"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="PT-BR"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="PT-BR"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="PT-BR"&gt;Heinz, 1976.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="PT-BR"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="PT-BR"&gt;Heinz, 1976.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="PT-BR"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="PT-BR"&gt;Fimreit, 1974&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;Catatan: ww= wet weight; dw= dry weight&lt;span&gt;      &lt;/span&gt;Sumber: Burger dan Gochfeld, (1997)&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Menurut Wilson dan Leigh, 1992 bahwa mercuri dapat menghambat pelepasan GnRH oleh kelenjar hypothalamus dan menghambat ovulasi, belum diketahui apa yang terjadi pada kelenjar pituitary, sedangkan pada ovarium terjadi akumulasi mercuri di corpus luteum. Selanjunya cadmium mencegah sekresi LH dan terjadi estrus secara konstan, dan sampai sekarang belum diketahui efeknya terhadap kelenjar hypofisa. Sedangkan pengaruhnya pada ovarium adalah folikel menjadi nekrosis dan aliran darah ke uterus mengurang. Kekurangan unsur merangsang pelepasan prolaktin dan unsur selenium dapat mengurangi kesuburan. Kekurangan unsur Cu menghambat pelepasan GnRH. Mattison and Thomford, 1989 bahwa timah dapat menyebabkan hypotrophy uterus, penurunan sekresi progesteron, FSH, estrogen dan menghambat terjadinya implantasi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Ferm, V.H., (1972) bahwa senyawa kimia dengan zinc yang berlebih dicampurkan dalam makanan dapat menyebabkan hydrocephalus pada tikus dan juga akan mempengaruhi metabolisme dalam perkembangan mesoderm untuk rangka. &lt;/span&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;Senyawa kimia dengan mangan (mg) dapat mempengaruhi aktifitas ezim pada organel intraseluler, khususnya dalam mitochondria. &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Kelebihan unsur ini dapat mengganggu fungsi&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;syaraf permanen. Selanjutnya dijelaskan bahwa unsur indium dapat merusak hati, tulang, otot dan kulit dan menyababkan malformasi. Unsur nikel dapat menyebabkan kanker dan unsur litium dapat menyebabkan ganguan syaraf, ganguan pembentukan corpus luteum, menghambat ovulasi dan implantasi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Limbah Industri Plastik dan Pengaruhnya pada Reproduksi hewan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%; margin-right: 4pt;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span&gt;                  &lt;/span&gt;Limbah industri plastik merupakan bagian yang terbesar dalam pencemaran lingkungan, selain itu juga waktu pelapukan plastik sangat lama. Sampah plastik sangat sukar didekomposisi sehingga sampah ini dapat dibawa oleh angin dan air yang mengakibatkan pencemaran sungai, danau, dan laut. Dengan demikian akan mempengaruhi ekosistem hewan akuatik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; margin-right: 4pt;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Bahan dasar dari plastik adalah phthalate ester, di(ethylhexyl)phthalate (DEHP) merupakan polutan utama dunia. Materi ini banyak digunakan oleh industri makanan dan juga dalam bidang kedokteran seperti botol infus, syring dan lain-lain. Phthalate dapat menyababkan sel-sel leydig dimana mitochondria dan reticulum endoplasmik halusnya mengembung, sehingga akan menghambat produksi hormon testosteron (Altterwill dan Flack, 1992). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; margin-right: 4pt;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Lingkungan yang tercemari oleh polyclorinedated biphenyl (PCB) yang merupakan bahan campuran pembuatan plastik, capasitor dan transformer yang juga banyak dibuang dilaut. PCB secara biologi akan mempengaruhi kehidupan ikan, plankton dan organisme lain di ekosistem perairan. &lt;/span&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;Seperti DDT, bahan ini juga dapat berupa risidu di dalam jaringan tubuh. Waktu paruhnya lama bisa terjadi akumulasi pada jaringan, orang yang memakan ikan yang terkontaminasi dengan PCB akan terjadi akumulasi pada tubuhnya. Pada burung yang mengandung risidu PCB akan menyababkan tipisnya telur-telur yang dihasilkannya, dan menurunkan daya tetas (Smith, 1980).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%; margin-right: 4pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kesimpulan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%; margin-right: 4pt;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;&lt;span&gt;                  &lt;/span&gt;Penggunaan pupuk pestisida, dan pembuangan limbah kimia seperti mercuri, cadmium,&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;atau sejenis harus dilakukan dengan ekstra hati-hati, sehingga tidak merusak ekosistem dan berpengaruh&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;terhadap kelangsungan reproduksi organisme dan akan memusnahkan species secara perlahan tanpa diketahui.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Daftar Pustaka&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin-right: 4pt;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Atterwill, C.K., and J.D. Flack, 1992. Endocrine Toxicology. Cambridge. University Press.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin-right: 4pt;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin-right: 4pt;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Burger J, and M. Gochfeld, 1997. Risk, Mercury levels, and Birds: Relating adverse Laboratory Effects to Field Biomonitoring. Env. Res. 75, 160-172.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin-right: 4pt;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Cameron, E and Foster, C.L., 1963. Observation on the hystological effects of sub-lethal doses of cadmium chloride in rabbit. J. Anat.97.189-95.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Clampham, W.B., 1973. Nature Ecosystem. Macmillan Publishing Co. Inc. New York.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin-right: 4pt;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Cox, G.W., 1997. Conservation Biology: Concepts and Aplications. Second Ed. WCB. Publishers. Dubuque-Toronto.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 4pt 0pt 37.4pt; text-indent: -37.4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Dirksen, S.J., T.J. Boudewijn, L.K Slager, R.G. Mes.M.J.M van Shaick, and P. de Voogt, 1995. Reduced breeding success of cormorants (Phalacrocorat carbo sinensis) in relation to presistent organochlorine pollution of aquatic habitats in Netherlands. Env. Pollut. 88.19-32.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 4pt 0pt 37.4pt; text-indent: -37.4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 4pt 0pt 37.4pt; text-indent: -37.4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Henny, C.I., and G.B. Herron, 1989.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;DDE, Selenium, Mercury and White face Ibis reproduction at Carson Lake, Navada. J. Wildl. Manag. 53.1032-45.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 4pt 0pt 37.4pt; text-indent: -37.4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 4pt 0pt 37.4pt; text-indent: -37.4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Higginson, J., dan Muir, C.S., 1979. Enviromental carcinogenesis: Misconceptions and limitations to cancer control. J. Natl. Cancer Inst. 63:1291.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 4pt 0pt 37.4pt; text-indent: -37.4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 4pt 0pt 37.4pt; text-indent: -37.4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Joksic. G., A. Vidakovie and V. Spasojevic-Tisma, 1997. Cytogenetic Monitoring of Pesticide Sprays. &lt;/span&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;Env. Res. 75:113-118.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 4pt 0pt 37.4pt; text-indent: -37.4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 4pt 0pt 37.4pt; text-indent: -37.4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;Lincer, J.L., 1975. &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;DDE-induced eggshell thinning in the American Kestrel. A Comparison of the field situation and Laboratory result. J. Appl. 12:781-93.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 4pt 0pt 37.4pt; text-indent: -37.4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 4pt 0pt 37.4pt; text-indent: -37.4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Loomis, T.A., 1978. Essentials of Toxicology. Lea and Febiger.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 4pt 0pt 37.4pt; text-indent: -37.4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 4pt 0pt 37.4pt; text-indent: -37.4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Matsumoto, H., Koya, G and Takeuchi, T., 1965. &lt;/span&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;Fetal minamata disease. &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;J. Neuropath. Exp. Neurol. 24:263-74.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 4pt 0pt 37.4pt; text-indent: -37.4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 4pt 0pt 37.4pt; text-indent: -37.4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Mattison, D.R., and Thomford, P.J., 1989. Mechanisms of action of reproductive toxicant. In. Toxicology of the male and famale reproductive system, ed P.K. Woking, pp.101-29. New York: Hemisphere Publishing Corporation.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 4pt 0pt 37.4pt; text-indent: -37.4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 4pt 0pt 37.4pt; text-indent: -37.4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Maugh, T.H., 1978. Chemicals: How many are there?. Science. 199:162.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 4pt 0pt 37.4pt; text-indent: -37.4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 4pt 0pt 37.4pt; text-indent: -37.4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Nath, R., Prasad, R., Palinal, V.K and Chopra, R.K., 1984. Molecular basis of cadmium toxicity. Prog. Food Nutr. Sci., 8, 109-64.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 4pt 0pt 37.4pt; text-indent: -37.4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 4pt 0pt 37.4pt; text-indent: -37.4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Ractcliffe, 1967. Decrease in eggshell weight in certain Birds of prey. Nature. 215:208-10.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 4pt 0pt 37.4pt; text-indent: -37.4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 4pt 0pt 37.4pt; text-indent: -37.4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Smith, R. L., 1980. Ecology and Field Biology. Third Ed. Harper and Row, Publishers, New York.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 4pt 0pt 37.4pt; text-indent: -37.4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 4pt 0pt 37.4pt; text-indent: -37.4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Soemarwoto, O., 1980. Aspek Ekologi Penganekaan Pangan. Penerbit Yayasan Pembina Fakultas Pertanian Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 4pt 0pt 37.4pt; text-indent: -37.4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 4pt 0pt 37.4pt; text-indent: -37.4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Southwick and Charles, H., 1972 Ecology and the Quality of Our Environmental. New York: Van Nostrand.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 4pt 0pt 37.4pt; text-indent: -37.4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 4pt 0pt 37.4pt; text-indent: -37.4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Von Ausfess, G., Beicht, W., Borquin, H.D., Hantage, E., Heil, J Muller, M.J., Opfermann, H., Reimer, J., Zahn, R.K., and Zimmer, K.H., 1989. Uniter-Suchugen zum Austrag von Pflauzenschutzmiteln und Nahr-stroffen aus Rebachen des Moseltals. Dtsch. Verb. Wasserwirtech. Kulturbay Schriftenr.88:1-78.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 4pt 0pt 37.4pt; text-indent: -37.4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 4pt 0pt 37.4pt; text-indent: -37.4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Wilson, C.A., dan A. J. Leigh, 1992. Endocrine toxicology of the famale reproductive system. In. Endocrine toxicology, ed: Christopher, K.A and John D. Flack, Cambridge. University Press.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 4pt 0pt 37.4pt; text-indent: -37.4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 4pt 0pt 37.4pt; text-indent: -37.4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Wurster, C.F., 1969. Chlormated hydrocarbon insectedes and the world ecosystem. Biol. Cons. !:123-29.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 4pt 0pt 37.4pt; text-indent: -37.4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 4pt 0pt 37.4pt; text-indent: -37.4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;White, D.H., and J.T. Seginak, 1994. Dioxin and Furan linked to reproductive impairment in wood ducks. J. Wildl. Manag. 58:100-6.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!-- google_ad_client = "pub-6614849183419924"; google_alternate_color = "F3F3F3"; google_ad_width = 728; google_ad_height = 15; google_ad_format = "728x15_0ads_al"; google_ad_channel ="6173558795"; google_color_border = "F3F3F3"; google_color_bg = "F3F3F3"; google_color_link = "000000"; google_color_text = "000000"; google_color_url = "000000"; //--&gt;&lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript" src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt; &lt;/script&gt;&lt;script&gt;window.google_render_ad();&lt;/script&gt;&lt;iframe name="google_ads_frame" src="http://googleads.g.doubleclick.net/pagead/ads?client=ca-pub-6614849183419924&amp;amp;dt=1240205684662&amp;amp;lmt=1240205680&amp;amp;alt_color=F3F3F3&amp;amp;prev_fmts=200x90_0ads_al&amp;amp;format=728x15_0ads_al&amp;amp;output=html&amp;amp;correlator=1240205680968&amp;amp;channel=6173558795&amp;amp;pv_ch=6173558795%2B&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fshantybio.transdigit.com%2F%3FBiology_-_Dasar_Pengolahan_Limbah%3ALimbah_Kimia_dan_Pengaruhnya_Terhadap_Reproduksi_Hewan&amp;amp;color_bg=F3F3F3&amp;amp;color_text=000000&amp;amp;color_link=000000&amp;amp;color_url=000000&amp;amp;color_border=F3F3F3&amp;amp;ea=0&amp;amp;ref=http%3A%2F%2Fshantybio.transdigit.com%2F%3FBiology_-_Dasar_Pengolahan_Limbah%3AMakalah_Limbah_Udang&amp;amp;frm=0&amp;amp;ga_vid=1585562371.1240205681&amp;amp;ga_sid=1240205681&amp;amp;ga_hid=1707449344&amp;amp;flash=9.0.124&amp;amp;u_h=1024&amp;amp;u_w=1280&amp;amp;u_ah=994&amp;amp;u_aw=1280&amp;amp;u_cd=32&amp;amp;u_tz=420&amp;amp;u_his=8&amp;amp;u_nplug=6&amp;amp;u_nmime=15&amp;amp;dtd=6" marginwidth="0" marginheight="0" vspace="0" hspace="0" allowtransparency="true" scrolling="no" width="728" frameborder="0" height="15"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt;&lt;td class="navigator" align="center" bgcolor="#329a43"&gt; &lt;a href="http://www.shantybio.de.vu/" class="navigator"&gt;© shanty bio 2004-2007&lt;/a&gt; &lt;/td&gt;&lt;td valign="top" bgcolor="#999999"&gt; &lt;table width="100%" border="0" cellpadding="5" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="navigator" valign="top" width="33%"&gt; &lt;a href="http://shantybio.transdigit.com/?Biology_-_Dasar_Pengolahan_Limbah:Tabel_Pencemaran"&gt;«&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7010959403829459285-8600211371773788221?l=limbahlingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/feeds/8600211371773788221/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/2009/04/limbah-kimia-dan-pengaruhnya-terhadap.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default/8600211371773788221'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default/8600211371773788221'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/2009/04/limbah-kimia-dan-pengaruhnya-terhadap.html' title='Limbah Kimia dan Pengaruhnya Terhadap Reproduksi Hewan'/><author><name>bayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15977229976436225652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_2uX9aQGk_BE/STf6oU3QBTI/AAAAAAAAAAk/38Md5vLO48U/S220/Picture0180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7010959403829459285.post-6707228490612412291</id><published>2009-04-19T22:25:00.000-07:00</published><updated>2009-04-19T22:28:05.471-07:00</updated><title type='text'>Makalah Limbah Udang</title><content type='html'>&lt;p class="MsoBodyText" style="margin-right: 0.1in;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: blue; font-family: Tahoma;"&gt;POTENSI LIMBAH &lt;span class="GramE"&gt;UDANG&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;SEBAGAI&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;PENYERAP LOGAM BERAT (TIMBAL, KADMIUM, DAN TEMBAGA) DI PERAIRAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-right: 0.1in;"&gt;&lt;span class="GramE"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Oleh :&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: purple; font-family: Arial;"&gt;Marganof &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;P. 062030111 PSL&lt;/b&gt;E-&lt;span class="GramE"&gt;mail :&lt;/span&gt; &lt;u&gt;&lt;a href="mailto:Marganof@yahoo.com"&gt;Marganof@yahoo.com&lt;/a&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-right: 0.1in;"&gt;&lt;u&gt;&lt;a href="http://rudyct.topcities.com/pps702_71034/marganof.htm" target="_blank"&gt;http://rudyct.topcities.com/pps702_71034/marganof.htm&lt;/a&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-right: 0.1in;"&gt;&lt;b style=""&gt;Abstrak&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-right: 0.1in; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="GramE"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Pencemaran lingkungan perairan yang disebabkan oleh logam-logam berat seperti kadmium, timbal dan tembaga yang berasal dari limbah industri sudah lama diketahui.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;span class="GramE"&gt;Untuk menghilangkan bahan pencemar perairan tersebut hingga kini masih terus dikembangkan.&lt;/span&gt; &lt;span class="GramE"&gt;Penggunaan biomaterial merupakan salah satu teknologi yang dapat dipertimbangkan, mengingat meterialnya mudah didapatkan dan membutuhkan biaya yang realtif murah sebagai bahan penyerap senyawa beracun dalam air limbah.&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-right: 0.1in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="GramE"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Limbah udang yang berupa kulit, kepala, dan ekor dengan mudah didapatkan mengandung senyawa kimia berupa khitin dan khitosan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;span class="GramE"&gt;Senyawa ini dapat diolah dan dimanfaatkan sebagai bahan penyerap logam-logam berat yang dihasilkan oleh limbah industri.&lt;/span&gt; &lt;span class="GramE"&gt;Hal ini dimungkinkan karena senyawa khitin dan khitosan mempunyai sifat sebagai bahan pengemulsi koagulasi, reaktifitas kimia yang tinggi dan menyebabkan sifat polielektrolit kation sehingga dapat berperan sebagai penukar ion (ion exchanger) dan dapat berpungsi sebagai absorben terhadap logam berat dalam air limbah.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-right: 0.1in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Kata &lt;span class="GramE"&gt;kunci :&lt;/span&gt; logam berat, khitin, khitosan, koagulasi, absorben&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-right: 0.1in; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;Pendahuluan &lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%; margin-right: 0.1in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Pembangunan yang pesat dibidang ekonomi disatu sisi &lt;span class="GramE"&gt;akan&lt;/span&gt; meningkatkan kualitas hidup manusia, yaitu dengan meningkatnya pendapatan masyarakat, tetapi di sisi lain akan berakibat pada penurunan kesehatan akibat adanya pencemaran yang berasal dari limbah industri dan rumahtangga. &lt;span class="GramE"&gt;Hal ini karena kurangnya atau tidak memadainya fasilitas atau peralatan untuk menangani dan mengelola limbah tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%; margin-right: 0.1in; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="GramE"&gt;Salah satu pencemaran pada badan air adalah masuknya logam berat.&lt;/span&gt; Peningkatan &lt;span class="GramE"&gt;kadar&lt;/span&gt; logam berat di dalam perairan akan diikuti oleh peningkatan kadar zat tersebut dalam organisme air seperti kerang, rumput laut dan biota laut lainnya. Pemanfatan organisme ini sebagai bahan makanan &lt;span class="GramE"&gt;akan&lt;/span&gt; membahayakan kesehatan manusia. &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%; margin-right: 0.1in; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="GramE"&gt;Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan maka berkembang pulalah industri-industri.&lt;/span&gt; &lt;span class="GramE"&gt;Akibatnya lingkungan menjadi salah satu sasaran pencemaran, terutama sekali lingkungan perairan yang sudah pasti terganggu oleh adanya limbah industri, baik industri pertanian maupun industri pertambangan.&lt;/span&gt; &lt;span class="GramE"&gt;Kebanyakan dari limbah itu biasanya dibuang begitu saja tanpa pengolahan terlebih dahulu.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%; margin-right: 0.1in; text-align: justify;"&gt;Berbagai metode seperti penukar ion, penyerapan dengan karbon aktif (Rama, 1990) dan pengendapan secara elektrolisis telah dilakukan untuk menyerap bahan pencemar beracun dari limbah, tetapi &lt;span class="GramE"&gt;cara&lt;/span&gt; ini membutuhkan biaya yang sangat tinggi dalam pengoperasiannya. &lt;span class="GramE"&gt;Penggunaan bahan biomaterial sebagai penyerap ion logam berat merupakan alternatif yang memberikan harapan.&lt;/span&gt; Sejumlah biomaterial seperti lumut (Low &lt;i style=""&gt;et al&lt;/i&gt;., 1977), daun teh (Tan dan Majid, 1989), sekam padi (&lt;span class="GramE"&gt;Munaf ,&lt;/span&gt; 1997), dan sabut kelapa sawit (Munaf, 1999), begitu juga dari bahan non biomaterial seperti perlit, tanah gambut, lumpur aktif dan lain-lain telah digunakan sebagai bahan penyerap logam-logam berat dalam air limbah. &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%; margin-right: 0.1in; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="GramE"&gt;Kulit udang yang mengandung senyawa kimia khitin dan khitosan merupakan limbah yang mudah didapat dan tersedia dalam jumlah yang banyak, yang selama ini belum termanfaatkan secara optimal.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%; margin-right: 0.1in; text-align: justify;"&gt;Dengan adanya sifat-sifat khitin dan khitosan yang dihubungkan dengan gugus amino dan hidroksil yang terikat, maka menyebabkan khitin dan khitosan mempunyai reaktifitas kimia yang tinggi dan menyebabkan sifat polielektrolit kation sehingga dapat berperan sebagai penukar &lt;span class="GramE"&gt;ion&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(&lt;/span&gt;ion exchanger) dan dapat berperan sebagai absorben terhadap logam berat dalam air limbah ( Hirano, 1986). &lt;span class="GramE"&gt;Karena berperan sebagai penukar ion dan sebagai absorben maka khitin dan khitosan dari limbah udang berpotensi dalam memcahkan masalah pencemaran lingkungan perairan dengan penyerapan yang lebih murah dan bahannya mudah didapatkan.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%; margin-right: 0.1in; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;Limbah Udang sebagai Material Penyerap Logam Berat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-indent: 0.5in; margin-right: 0.1in;"&gt;&lt;span class="GramE"&gt;Sebagian besar limbah udang berasal dari kulit, kepala, dan ekornya.&lt;/span&gt; &lt;span class="GramE"&gt;Fungsi kulit udang tersebut pada hewan udang (hewan golongan invertebrata) yaitu sebagai pelindung (Neely dan Wiliam, 1969).&lt;/span&gt; Kulit udang mengandung protein (25 % - 40%), kalsium karbonat (45% - 50%), dan khitin (15% - 20%), tetapi besarnya kandungan komponen tersebut tergantung pada jenis udangnya. sedangkan kulit kepiting mengandung protein (15,60% - 23,90%), kalsium karbonat (53,70 – 78,40%), dan khitin (18,70% - 32,20%), hal ini juga tergantung pada jenis kepiting dan tempat hidupnya (Focher &lt;i style=""&gt;et al&lt;/i&gt;., 1992)&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-right: 0.1in;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span class="GramE"&gt;Kandungan khitin dalam kulit udang lebih sedikit dari kulit kepiting, tetapi kulit udang lebih mudah didapat dan tersedia dalam jumlah yang banyak sebagai limbah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 0.1in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;span class="GramE"&gt;Khitin berasal dari bahasa Yunani yang berarti &lt;i style=""&gt;baju rantai besi&lt;/i&gt;, pertama kali diteliti oleh Bracanot pada tahun 1811 dalam residu ekstrak jamur yang dinamakan &lt;i style=""&gt;fungiue&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt; Pada tahun 1823 Odins mengisolasi suatu senyawa kutikula serangga &lt;span class="GramE"&gt;janis&lt;/span&gt; ekstra yang disebut dengan nama khitin (Neely dan Wiliam, 1969). &lt;span class="GramE"&gt;Khitin merupakan konstituen organik yang sangat penting pada hewan golongan orthopoda, annelida, molusca, corlengterfa, dan nematoda.&lt;/span&gt; &lt;span class="GramE"&gt;Khitin biasanya berkonyugasi dengan protein dan tidak hanya terdapat pada kulit dan kerangkanya saja, tetapi juga terdapat pada trachea, insang, dinding usus, dan pada bagian dalam kulit pada cumi-cumi (Neely dan Wiliam, 1969).&lt;/span&gt; &lt;span class="GramE"&gt;Adanya khitin dapat dideteksi dengan reaksi warna Van Wesslink.&lt;/span&gt; Pada &lt;span class="GramE"&gt;cara&lt;/span&gt; ini khitin direaksikan dengan I&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;-KI yang memberikan warna coklat, kemudian jika ditambahkan asam sulfat berubah warnanya menjadi violet. &lt;span class="GramE"&gt;Perubahan warna dari coklat hingga menjadi violet menunjukan reaksi positif adanya khitin.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 0.1in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Khitin termasuk golongan polisakarida yang mempunyai berat molekul tinggi dan merupakan melekul polimer berantai lurus dengan nama lain &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;b&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="GramE"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;-(&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;1-4)-2-asetamida-2-dioksi-D-glukosa (N-asetil-D-Glukosamin) (Hirano, 1986; Tokura, 1995). Struktur khitin sama dengan selulosa dimana ikatan yang terjadi antara monomernya terangkai dengan ikatan glikosida pada posisi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;b&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="GramE"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;-(&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;1-4). &lt;span class="GramE"&gt;Perbedaannya dengan selulosa adalah gugus hidroksil yang terikat pada atom karbon yang kedua pada khitin diganti oleh gugus asetamida (NHCOCH&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;) sehingga khitin menjadi sebuah polimer berunit N-asetilglukosamin (The Merck Indek, 1976).&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 0.1in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span class="GramE"&gt;Khitin mempunyai rumus molekul C&lt;sub&gt;18&lt;/sub&gt;H&lt;sub&gt;26&lt;/sub&gt;N&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;O&lt;sub&gt;10&lt;/sub&gt; (Hirano, 1976) merupakan zat padat yang tak berbentuk (amorphous), tak larut dalam air, asam anorganik encer, alkali encer dan pekat, alkohol, dan pelarut organik lainnya tetapi larut dalam asam-asam mineral yang pekat.&lt;/span&gt; &lt;span class="GramE"&gt;Khitin kurang larut dibandingkan dengan selulosa dan merupakan N-glukosamin yang terdeasetilasi sedikit, sedangkan khitosan adalah khitin yang terdeasetilasi sebanyak mungkin.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 0.1in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Khitosan yang disebut juga dengan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;b&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;-1&lt;span class="GramE"&gt;,4&lt;/span&gt;-2 amino-2-dioksi-D-glukosa merupakan turunan dari khitin melalui proses deasetilasi. &lt;span class="GramE"&gt;Khitosan juga merupakan suatu polimer multifungsi karena mengandung tiga jenis gugus fungsi yaitu asam amino, gugus hidroksil primer dan skunder.&lt;/span&gt; &lt;span class="GramE"&gt;Adanya gugus fungsi ini menyebabkan khitosan mempunyai kreatifitas kimia yang tinggi (Tokura, 1995).&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 0.1in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span class="GramE"&gt;Khitosan merupakan senyawa yang tidak larut dalam air, larutan basa kuat, sedikit larut dalam HCl dan HNO&lt;sub&gt;3&lt;/sub&gt;, dan H&lt;sub&gt;3&lt;/sub&gt; PO&lt;sub&gt;4&lt;/sub&gt;, dan tidak larut dalam H&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;SO&lt;sub&gt;4&lt;/sub&gt;.&lt;/span&gt; &lt;span class="GramE"&gt;Khitosan tidak beracun, mudah mengalami biodegradasi dan bersifat polielektrolitik (Hirano, 1986).&lt;/span&gt; &lt;span class="GramE"&gt;Disamping itu khitosan dapat dengan mudah berinteraksi dengan zat-zat organik lainnya seperti protein.&lt;/span&gt; Oleh karena itu, khitosan relatif lebih banyak digunakan pada berbagai bidang industri terapan dan induistri kesehatan (Muzzarelli, 1986)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%; margin-right: 0.1in; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="GramE"&gt;Saat ini budi daya udang dengan tambak telah berkembang dengan pesat, karena udang merupakan komoditi ekspor yang dapat dihandalkan dalam meningkatkan ekspor non -migas dan merupakan salah satu jenis biota laut yang bernilai ekonomis tinggi.&lt;/span&gt; &lt;span class="GramE"&gt;Udang di Indonesia pada umumnya diekspor dalam bentuk udang beku yang telah dibuang bagian kepala, kulit, dan ekornya.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%; margin-right: 0.1in; text-align: justify;"&gt;Limbah yang dihasilkan dari proses pembekuan udang, pengalengan udang, dan pengolahan kerupuk udang berkisar antara 30% - 75% dari berat udang. &lt;span class="GramE"&gt;Dengan demikian jumlah bagian yang terbuang dari usaha pengolahan udang cukup tinggi (Anonim, 1994).&lt;/span&gt; Limbah kulit udang mengandung konstituen utama yang terdiri dari protein, kalsium karbonat, khitin, pigmen, abu, dan lain-lain (Anonim, 1994)&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%; margin-right: 0.1in; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="GramE"&gt;Meningkatnya jumlah limbah udang masih merupakan masalah yang perlu dicarikan upaya pemanfaatannya.&lt;/span&gt; Hal ini bukan saja memberikan nilai tambah pada usaha pengolahan udang, &lt;span class="GramE"&gt;akan&lt;/span&gt; tetapi juga dapat menanggulangi masalah pencemaran lingkungan yang ditimbulkan, terutama masalah bau yang dikeluarkan serta estetika lingkungan yang kurang bagus (Manjang, 1993).&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%; margin-right: 0.1in; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="GramE"&gt;Saat ini di &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span class="GramE"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span class="GramE"&gt; sebagian kecil dari limbah udang sudah termanfaatkan dalam hal pembuatan kerupuk udang, petis, terasi, dan bahan pencampur pakan ternak.&lt;/span&gt; &lt;span class="GramE"&gt;Sedangkan di negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang, limbah udang telah dimanfaatkan di dalam industri sebagai bahan dasar pembuatan khitin dan khitosan.&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span class="GramE"&gt;Manfaatnya di berbagai industri modern banyak sekali seperti industri farmasi, biokimia, bioteknologi, biomedikal, pangan, kertas, tekstil, pertanian, dan kesehatan.&lt;/span&gt; &lt;span class="GramE"&gt;Khitin dan khitosan serta turunannya mempunyai sifat sebagai bahan pengemulsi koagulasi dan penebal emulsi (Lang, 1995).&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%; margin-right: 0.1in; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="GramE"&gt;Isolasi khitin dari limbah kulit udang dilakukan secara bertahap yaitu tahap pemisahan protein (deproteinasi) dengan larutan basa, demineralisasi, tahap pemutihan (bleancing) dengan aseton dan natrium hipoklorit.&lt;/span&gt; Sedangkan transformasi khitin menjadi khitosan dilakukan tahap deasetilasi dengan basa berkonsentrasi tinggi, seperti terlihat pada gambar 1 (Ferrer &lt;i style=""&gt;et al&lt;/i&gt;., 1996; Arreneuz, 1996., dan Fahmi, 1997)&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%; margin-right: 0.1in; text-align: justify;"&gt;Khitin dan khitosan yang diperoleh dari limbah kulit udang digunakan sebagai absorben untuk menyerap ion kadmium, tembaga, dan timbal dengan &lt;span class="GramE"&gt;cara&lt;/span&gt; dinamis dengan mengatur kondisi penyerapan sehingga air yang dibuang ke lingkungan menjadi air yang bebas dari ion-ion logam berat. Mengingat besarnya manfaat dari senyawa khitin dan khitosan serta tersedianya bahan &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span class="GramE"&gt;baku&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; yang banyak dan mudah didapatkan maka perlu pengkajian dan pengembangan dari limbah ini sebagai bahan penyerap terhadap logam-logam berat diperairan.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%; margin-right: 0.1in; text-align: justify;"&gt; &lt;img src="http://shantybio.transdigit.com/images/gambarket.jpg" width="467" height="903" /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%; margin-right: 0.1in; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="GramE"&gt;Gambar 1.&lt;/span&gt; Diagram Alir Metode Isolasi khitin dari Limbah Udang&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 200%; margin-right: 0.1in; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;Logam Berat Beracun di Perairan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%; margin-right: 0.1in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Logam berat adalah unsur-unsur kimia dengan bobot jenis lebih besar dari 5 gr/cm&lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt;, terletak di sudut kanan bawah sistem periodik, mempunyai afinitas yang tinggi terhadap unsur S dan biasanya bernomor atom 22 sampai 92 dari perioda 4 sampai 7 (Miettinen, 1977). &lt;span class="GramE"&gt;Sebagian logam berat seperti timbal (Pb), kadmium (Cd), dan merkuri (Hg) merupakan zat pencemar yang berbahaya.&lt;/span&gt; &lt;span class="GramE"&gt;Afinitas yang tinggi terhadap unsur S menyebabkan logam ini menyerang ikatan belerang dalam enzim, sehingga enzim bersangkutan menjadi tak aktif.&lt;/span&gt; Gugus karboksilat (-COOH) dan amina (-NH&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;) juga bereaksi dengan logam berat. Kadmium, timbal, dan tembaga terikat pada sel-sel membran yang menghambat proses transpormasi melalui dinding sel. Logam berat juga mengendapkan senyawa fosfat biologis atau mengkatalis penguraiannya (Manahan, 1977). &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%; margin-right: 0.1in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Berdasarkan sifat kimia dan fisikanya, maka tingkat atau daya racun logam berat terhadap hewan air dapat diurutkan (dari tinggi ke rendah) sebagai berikut merkuri (Hg), kadmium (Cd), seng (Zn), timah hitam (Pb), krom (Cr), nikel (Ni), dan kobalt (Co) (Sutamihardja dkk, 1982). &lt;span class="GramE"&gt;Menurut Darmono (1995) daftar urutan toksisitas logam paling tinggi ke paling rendah terhadap manusia yang mengkomsumsi ikan adalah sebagai berikut Hg&lt;sup&gt;2+&lt;/sup&gt; &gt; Cd&lt;sup&gt;2+&lt;/sup&gt; &gt;Ag&lt;sup&gt;2+&lt;/sup&gt; &gt; Ni&lt;sup&gt;2+&lt;/sup&gt; &gt; Pb&lt;sup&gt;2+&lt;/sup&gt; &gt; As&lt;sup&gt;2+&lt;/sup&gt; &gt; Cr&lt;sup&gt;2+&lt;/sup&gt; Sn&lt;sup&gt;2+&lt;/sup&gt; &gt; Zn&lt;sup&gt;2+&lt;/sup&gt;.&lt;/span&gt; Sedangkan menurut Kementrian Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup (1990) sifat toksisitas logam berat dapat dikelompokan ke dalam 3 kelompok, yaitu bersifat toksik tinggi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang terdiri dari atas unsur-unsur Hg, Cd, Pb, Cu, dan Zn. Bersifat toksik sedang terdiri dari unsur-unsur Cr, Ni, dan Co, sedangkan bersifat tosik rendah terdiri atas unsur Mn dan Fe. &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; margin-right: 0.1in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span class="GramE"&gt;Adanya logam berat di perairan, berbahaya baik secara langsung terhadap kehidupan organisme, maupun efeknya secara tidak langsung terhadap kesehatan manusia.&lt;/span&gt; Hal ini berkaitan dengan sifat-sifat logam berat &lt;span class="GramE"&gt;( PPLH&lt;/span&gt;-IPB, 1997; Sutamihardja dkk, 1982) yaitu :&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0.1in 0pt 0.25in; text-indent: -0.25in; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Sulit didegradasi, sehingga mudah terakumulasi dalam lingkungan perairan dan keberadaannya secara alami sulit terurai (dihilangkan)&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0.1in 0pt 0.25in; text-indent: -0.25in; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Dapat terakumulasi dalam organisme termasuk kerang dan ikan, dan akan membahayakan kesehatan manusia yang mengkomsumsi organisme tersebut&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0.1in 0pt 0.25in; text-indent: -0.25in; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Mudah terakumulasi di sedimen, sehingga konsentrasinya selalu lebih tinggi dari konsentrasi logam dalam air. Disamping itu sedimen mudah tersuspensi karena pergerakan masa air yang akan melarutkan kembali logam yang dikandungnya ke dalam air, sehingga sedimen menjadi sumber pencemar potensial dalam skala waktu tertentu&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; margin-right: 0.1in; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="GramE"&gt;Kadmium dalam air berasal dari pembuangan industri dan limbah pertambangan.&lt;/span&gt; &lt;span class="GramE"&gt;Logam ini sering digunakan sebagai pigmen pada keramik, dalam penyepuhan listrik, pada pembuatan alloy, dan baterai alkali.&lt;/span&gt; &lt;span class="GramE"&gt;Keracunan kadmium dapat bersifat akut dan kronis.&lt;/span&gt; Efek keracunan yang dapat ditimbulkannya berupa penyakit paru-paru, hati, tekanan darah tinggi, gangguan pada sistem ginjal dan kelenjer pencernaan serta mengakibatkan kerapuhan pada tulang (Clarkson, 1988&lt;span class="GramE"&gt;;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan&lt;/span&gt; Saeni, 1997)&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; margin-right: 0.1in; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="GramE"&gt;Tembaga merupakan logam yang ditemukan dialam dalam bentuk senyawa dengan sulfida (CuS).&lt;/span&gt; Tembaga sering digunakan pada pabrik-pabrik yang memproduksi peralatan listrik, &lt;span class="GramE"&gt;gelas ,&lt;/span&gt; dan alloy. Tembaga masuk keperairan merupakan faktor alamiah seperti terjadinya pengikisan dari batuan mineral sehingga terdapat debu, partikel-partikel tembaga yang terdapat dalam lapisan udara &lt;span class="GramE"&gt;akan&lt;/span&gt; terbawa oleh hujan. &lt;span class="GramE"&gt;Tembaga juga berasal dari buangan bahan yang mengandung tembaga seperti dari industri galangan kapal, industri pengolahan kayu, dan limbah domestik.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; margin-right: 0.1in; text-align: justify;"&gt;Pada &lt;span class="GramE"&gt;konsentrasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;2,3&lt;/span&gt; – 2,5 mg/l dapat mematikan ikan dan akan menimbulkan efek keracunan, yaitu kerusakan pada selaput lendir (Saeni, 1997). Tembaga dalam tubuh berfungsi sebagai sintesa hemoglobin dan tidak mudah &lt;span class="GramE"&gt;dieksresikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam&lt;/span&gt; urine karena sebagian terikat dengan protein, sebagian dieksresikan melalui empedu ke dalam usus dan dibuang kefeses, sebagian lagi menumpuk dalam hati dan ginjal, sehingga menyebabkan penyakit anemia dan tuberkulosis.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; margin-right: 0.1in; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="GramE"&gt;Logam timbal (Pb) berasal dari buangan industri metalurgi, yang bersifat racun dalam bentuk Pb-arsenat.&lt;/span&gt; Dapat juga berasal dari proses korosi lead bearing alloys. Kadang-kadang terdapat dalam bentuk kompleks dengan zat organik seperti hexaetil timbal, dan tetra alkil lead (TAL) (Iqbal dan Qadir, 1990)&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; margin-right: 0.1in; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="GramE"&gt;Pada hewan dan manusia timbal dapat masuk ke dalam tubuh melalui makanan dan minuman yang dikomsumsi serta melalui pernapasan dan penetrasi pada kulit.&lt;/span&gt; &lt;span class="GramE"&gt;Di dalam tubuh manusia, timbal dapat menghambat aktifitas enzim yang terlibat dalam pembentukan hemoglobin yang dapat menyebabkan penyakit anemia.&lt;/span&gt; &lt;span class="GramE"&gt;Gejala yang diakibatkan dari keracunan logam timbal adalah kurangnya nafsu makan, kejang, kolik khusus, muntah dan pusing-pusing.&lt;/span&gt; Timbal dapat juga menyerang susunan saraf dan mengganggu sistem reproduksi, kelainan ginjal, dan kelainan jiwa (Iqbal dkk 1990; Pallar, 1994)&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; margin-right: 0.1in; text-align: justify;"&gt;Proses perjalanan logam berat dari sumber pencemar hingga sampai ke tubuh manusia &lt;span class="GramE"&gt;digambarkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam&lt;/span&gt; gambar 1 (Suwirma, 1988).&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; margin-right: 0.1in; text-align: justify;"&gt; &lt;img src="http://shantybio.transdigit.com/images/gambar2.jpg" width="579" height="395" /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; margin-right: 0.1in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span class="GramE"&gt;Gambar 2.&lt;/span&gt; Skema perjalanan logam berat dari sumber pencemar sampai ke tubuh&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;manusia&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penutup&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berdasarkan urian di atas dapat dinyatakan bahwa pemanfaatan limbah udang sebagai bahan penyerap ion logam berat pada perairan sudah seharusnya dapat dikembangkan. Hal ini memungkinkan untuk dilaksanakan mengingat limbah udang yang mudah didapat dengan proses yang relatif mudah dan sekaligus dapat meningkatkan estetika lingkungan dari bau yang ditimbulkan limbah. Disamping itu dengan mengembangkan alternatif penyerapan logam berat yang bersifat racun bagi kehidupan organime &lt;span class="GramE"&gt;akan&lt;/span&gt; dapat meningkatkan kesehatan masyarakat dan juga dapat meningkatkan taraf hidup bangsa &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 0.1in;"&gt;&lt;span class="GramE"&gt;&lt;strong&gt;Daftar Pustaka&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 0.1in;"&gt;&lt;span class="GramE"&gt;Anonim, 1994.&lt;/span&gt; &lt;span class="GramE"&gt;Pengolahan dan Pemanfaatan Limbah Hasil Perairan Seri I. Dirjen&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Perikanan, &lt;/span&gt; &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span class="GramE"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span class="GramE"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt;Arreneuz, S. 1996. &lt;span class="GramE"&gt;Isolasi Khitin dan Transformasinya menjadi Khitosan dari Limbah Kepiting Bakau (&lt;i style=""&gt;Seylla Serrata&lt;/i&gt;) [Skripsi].&lt;/span&gt;  &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Bandung&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Universitas Jendral Ahmad Yani, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt;Fahmi, R. 1997. &lt;span class="GramE"&gt;Isolasi dan Transformasi Khitin Menjadi Khitosan.&lt;/span&gt; Jurnal Kimia Andalas. 3 (1&lt;span class="GramE"&gt;) :&lt;/span&gt; 61 – 68.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span class="GramE"&gt;Ferrer, J., G. Paez, Z. Marmol, E. Ramons, H. Garcia and C.F. Forster.&lt;/span&gt; 1996. Acid hydrolysis of Shrimp ShellWastes and The Production of Single Chell Protein from The Hydrolysate. &lt;span class="GramE"&gt;Journal Bioresour Technology.&lt;/span&gt; 57 (1&lt;span class="GramE"&gt;) :&lt;/span&gt; 55 – 60.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span class="GramE"&gt;Focher, B., Naggi, A., Tarri, G., Cosami, A. and Terbojevich, M. 1992.&lt;/span&gt; Structural Differences Between Chitin Polymorphs and Their &lt;span class="GramE"&gt;Precipitates&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;from&lt;/span&gt; Solution Evidence from CP-MAS 13 C-NMR, FT-IR and FT-Raman Spectroscopy. Charbohidrat Polyme&lt;i style=""&gt;r&lt;/i&gt;. 17 (2&lt;span class="GramE"&gt;) :&lt;/span&gt; 97 – 102.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt;Hirano, S. 1986. &lt;span class="GramE"&gt;Chitin and Chitosan.&lt;/span&gt; Ulmann’s Encyclopedia of Industrial Chemistry. &lt;span class="GramE"&gt;Republicka of &lt;/span&gt; &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span class="GramE"&gt;Germany&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span class="GramE"&gt;.&lt;/span&gt; &lt;span class="GramE"&gt;5&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt; .&lt;/span&gt; &lt;span class="GramE"&gt;ed&lt;/span&gt;. A 6: 231 – 232.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt;------------ 1995. &lt;span class="GramE"&gt;Biomedical and Animal Feed Additive Application of Chitin and Chitosan.&lt;/span&gt; &lt;span class="GramE"&gt;Collerction of Working Papers 28.&lt;/span&gt; &lt;span class="GramE"&gt;Universiti Kebangsaan &lt;/span&gt; &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span class="GramE"&gt;Malaysia&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span class="GramE"&gt;.&lt;/span&gt; &lt;span class="GramE"&gt;24 :&lt;/span&gt; 221 –0 226.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span class="GramE"&gt;Iqbal, H. Z. and M.A. Qodir.&lt;/span&gt; 1990. AAS determination of Lead and Cadmium in Leaves Polluted by Vehicles Exhoust. Interface. &lt;span class="GramE"&gt;Juornal Environmental Analytic Chemistry.&lt;/span&gt; 38 (4&lt;span class="GramE"&gt;) :&lt;/span&gt; 533 – 538&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span class="GramE"&gt;KPPL DKI Jakarta dan PPLH IPB.&lt;/span&gt; 1997. Studi Potensi Kawasan Perairan Teluk  &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, Laporan Akhir&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt;Lang, G. 1995. Chitosan Derivatives-Preparation and Potential Uses. &lt;span class="GramE"&gt;Collection of working Papers 28.&lt;/span&gt; &lt;span class="GramE"&gt;Universiti Kebangsaan &lt;/span&gt; &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span class="GramE"&gt;Malaysia&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span class="GramE"&gt;.&lt;/span&gt; &lt;span class="GramE"&gt;11 :&lt;/span&gt; 109 – 114&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span class="GramE"&gt;Low, K.S., C.K. Lee and S.G. Tan.&lt;/span&gt; 1997. Sorption of Trivalent Chromium from Tannery Waste by Moss. &lt;span class="GramE"&gt;Juornal Environmental Technology.&lt;/span&gt; &lt;span class="GramE"&gt;18 :&lt;/span&gt; 449 – 454&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt;Manahan, S.E. 1977. &lt;span class="GramE"&gt;Environmental Chemistry&lt;i style=""&gt;.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class="GramE"&gt;Second Ed. Williard Press.&lt;/span&gt;  &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Boston&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt;Manjang, Y. 1993. Analisa Ekstrak Berbagai Jenis Kulit Udang Terhadap Mutu Khitosan. Jurnal Penelitian Andalas. 12 (V&lt;span class="GramE"&gt;) :&lt;/span&gt; 138 – 143&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt;Mittinen, J.K. 1977. &lt;span class="GramE"&gt;Inorganic Trace Element as Water Pollutan to Healt and Aquatic Biota dalam F. Coulation an &lt;/span&gt; &lt;st1:place&gt;&lt;span class="GramE"&gt;E. Mrak&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span class="GramE"&gt;, Ed. Water Quality Procced of an Int. Forum.&lt;/span&gt; &lt;span class="GramE"&gt;Academic Press.&lt;/span&gt;  &lt;st1:state&gt;&lt;st1:place&gt;New &lt;span class="GramE"&gt;york&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span class="GramE"&gt;Munaf, E dan R. Zein.&lt;/span&gt; &lt;span class="GramE"&gt;1999. Pemanfaatan Sabut Kelapa Sawit untuk Menyerap Ion Logam Kadmium dan Kromium Dalam Air Limbah.&lt;/span&gt; Jurnal Kimia Andalas.  &lt;st1:time hour="17" minute="10"&gt;5 (1&lt;span class="GramE"&gt;) :&lt;/span&gt; 10&lt;/st1:time&gt; – 14&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt;Muzzarelli, R.A.A. 1986. &lt;span class="GramE"&gt;Chitin.&lt;/span&gt; &lt;span class="GramE"&gt;Faculty of Medicine Univeersity of &lt;/span&gt; &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span class="GramE"&gt;Ancona&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span class="GramE"&gt;.&lt;/span&gt;  &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Italy&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Pergamon Press. 81 –87&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span class="GramE"&gt;Neely, M.C.H and William.&lt;/span&gt; 1969. Chitin and Its Derivates in Industrial. &lt;span class="GramE"&gt;Gums Kelco Company &lt;/span&gt; &lt;st1:state&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span class="GramE"&gt;California&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt;&lt;span class="GramE"&gt;.&lt;/span&gt; 193 – 212&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span class="GramE"&gt;Pallar, H. 1994.&lt;/span&gt; &lt;span class="GramE"&gt;Pencemaran dan Toksikologi Logam Bera&lt;i style=""&gt;t&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt; Rineka Cipta.  &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. &lt;span class="GramE"&gt;pp.61&lt;/span&gt; –73, 116 – 137&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt;Rama, D.P., and Rama Krisha Naidu, G. 1990. &lt;span class="GramE"&gt;Enrichment of Trace Metals in Water on Activated Carbon.&lt;/span&gt; &lt;span class="GramE"&gt;Analyst.&lt;/span&gt; &lt;span class="GramE"&gt;115 :&lt;/span&gt; 1469 – 1471&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt;Saeni, M.S. 1997. &lt;span class="GramE"&gt;Penentuan Tingkat Pencemaran Logam Berat dengan Analisis Rambut.&lt;/span&gt; Orasi Ilmiah, Guru Besar Tetap Ilmu Kimia Lingkungan, Fakultas Matematika dan IPA IPB.  &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Bogor&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt;Sutamihardja, R.T.M., Adnan, K. dan Sanusi. 1982. Perairan Teluik Jakarta Ditinjau dar Tingkat Pencemarannya. Fakultas Pascasarjana, Jurusan PSL. IPB&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span class="GramE"&gt;Suwirma, S., Surtipanti, S., dan Thamsil, L. 1988.&lt;/span&gt; &lt;span class="GramE"&gt;Distribusi Logam Berat Hg, Pb, Cd, Cr, Cu, dan Zn dalam Tubuh Ikan.&lt;/span&gt; Majalah Batan. 9 (8&lt;span class="GramE"&gt;) :&lt;/span&gt; 9 – 16&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt;Tan, W. T. and &lt;span class="GramE"&gt;A.r&lt;/span&gt;. Majid Khan. 1989. Removal of Lead, Cadmium and Zinc by Waste Tea Leaves. &lt;span class="GramE"&gt;Journal Environmental Technology.&lt;/span&gt; 9: 1223 – 1232&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt;The Merck Indek an Encyclopedia of Chemicals and Drugs. 1976. Chitin. &lt;span class="GramE"&gt;9&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt; .&lt;/span&gt; &lt;span class="GramE"&gt;Ed. Merck and Co. Int.Rahway.&lt;/span&gt; &lt;span class="GramE"&gt;N.J. &lt;/span&gt; &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span class="GramE"&gt;USA&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span class="GramE"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pp. 259&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0in 0.1in 0pt 56.7pt; text-indent: -56.7pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span class="GramE"&gt;Tokura, S. and N. Nishi.&lt;/span&gt; 1995. Specification and Characterization of Chitin and Chitosan. &lt;span class="GramE"&gt;Collection of Working Papers.&lt;/span&gt; 28. Univesiti Kebangsaan  &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Malaysia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; &lt;span class="GramE"&gt;8 :&lt;/span&gt; 67 – 78&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7010959403829459285-6707228490612412291?l=limbahlingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/feeds/6707228490612412291/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/2009/04/makalah-limbah-udang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default/6707228490612412291'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default/6707228490612412291'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/2009/04/makalah-limbah-udang.html' title='Makalah Limbah Udang'/><author><name>bayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15977229976436225652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_2uX9aQGk_BE/STf6oU3QBTI/AAAAAAAAAAk/38Md5vLO48U/S220/Picture0180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7010959403829459285.post-5067282609365459572</id><published>2009-04-19T22:12:00.000-07:00</published><updated>2009-04-19T22:23:22.116-07:00</updated><title type='text'>Pengolangan Limbah Cair</title><content type='html'>&lt;table width="750" align="center" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="550" bgcolor="#f3f3f3"&gt;&lt;table width="100%" align="center" border="0" cellpadding="5" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top"&gt;&lt;p align="justify"&gt;Industri primer pengolahan hasil hutan merupakan salah satu penyumbang limbah cair yang berbahaya bagi lingkungan. Bagi industri-industri besar, seperti industri pulp dan kertas, teknologi pengolahan limbah cair yang dihasilkannya mungkin sudah memadai, namun tidak demikian bagi industri kecil atau sedang. Namun demikian, mengingat penting dan besarnya dampak yang ditimbulkan limbah cair bagi lingkungan, penting bagi sektor industri kehutanan untuk memahami dasar-dasar teknologi pengolahan limbah cair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi pengolahan air limbah adalah kunci dalam memelihara kelestarian lingkungan. Apapun macam teknologi pengolahan air limbah domestik maupun industri yang dibangun harus dapat dioperasikan dan dipelihara oleh masyarakat setempat. Jadi teknologi pengolahan yang dipilih harus sesuai dengan kemampuan teknologi masyarakat yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai teknik pengolahan air buangan untuk menyisihkan bahan polutannya telah dicoba dan dikembangkan selama ini. Teknik-teknik pengolahan air buangan yang telah dikembangkan tersebut secara umum terbagi menjadi 3 metode pengolahan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. pengolahan secara fisika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. pengolahan secara kimia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. pengolahan secara biologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk suatu jenis air buangan tertentu, ketiga metode pengolahan tersebut dapat diaplikasikan secara sendiri-sendiri atau secara kombinasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pengolahan Secara Fisika&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umumnya, sebelum dilakukan pengolahan lanjutan terhadap air buangan, diinginkan agar bahan-bahan tersuspensi berukuran besar dan yang mudah mengendap atau bahan-bahan yang terapung disisihkan terlebih dahulu. Penyaringan (screening) merupakan cara yang efisien dan murah untuk menyisihkan bahan tersuspensi yang berukuran besar. Bahan tersuspensi yang mudah mengendap dapat disisihkan secara mudah dengan proses pengendapan. Parameter desain yang utama untuk proses pengendapan ini adalah kecepatan mengendap partikel dan waktu detensi hidrolis di dalam bak pengendap.&lt;br /&gt;&lt;img alt="Shantybio - Biology Resources" src="http://shanty.redhat.googlepages.com/gambar1.JPG" width="448" border="0" height="545" /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 1. Skema Diagram Pengolahan Fisik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses flotasi banyak digunakan untuk menyisihkan bahan-bahan yang mengapung seperti minyak dan lemak agar tidak mengganggu proses pengolahan berikutnya. Flotasi juga dapat digunakan sebagai cara penyisihan bahan-bahan tersuspensi (clarification) atau pemekatan lumpur endapan (sludge thickening) dengan memberikan aliran udara ke atas (air flotation). Proses filtrasi di dalam pengolahan air buangan, biasanya dilakukan untuk mendahului proses adsorbsi atau proses reverse osmosis-nya, akan dilaksanakan untuk menyisihkan sebanyak mungkin partikel tersuspensi dari dalam air agar tidak mengganggu proses adsorbsi atau menyumbat membran yang dipergunakan dalam proses osmosa. Proses adsorbsi, biasanya dengan karbon aktif, dilakukan untuk menyisihkan senyawa aromatik (misalnya: fenol) dan senyawa organik terlarut lainnya, terutama jika diinginkan untuk menggunakan kembali air buangan tersebut. Teknologi membran (reverse osmosis) biasanya diaplikasikan untuk unit-unit pengolahan kecil, terutama jika pengolahan ditujukan untuk menggunakan kembali air yang diolah. Biaya instalasi dan operasinya sangat mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pengolahan Secara Kimia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengolahan air buangan secara kimia biasanya dilakukan untuk menghilangkan partikel-partikel yang tidak mudah mengendap (koloid), logam-logam berat, senyawa fosfor, dan zat organik beracun; dengan membubuhkan bahan kimia tertentu yang diperlukan. Penyisihan bahan-bahan tersebut pada prinsipnya berlangsung melalui perubahan sifat bahan-bahan tersebut, yaitu dari tak dapat diendapkan menjadi mudah diendapkan (flokulasi-koagulasi), baik dengan atau tanpa reaksi oksidasi-reduksi, dan juga berlangsung sebagai hasil reaksi oksidasi.&lt;br /&gt;&lt;img alt="Shantybio - Biology Resources" src="http://shanty.redhat.googlepages.com/gambar2.JPG" width="299" height="344" /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 2. Skema Diagram pengolahan Kimiawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendapan bahan tersuspensi yang tak mudah larut dilakukan dengan membubuhkan elektrolit yang mempunyai muatan yang berlawanan dengan muatan koloidnya agar terjadi netralisasi muatan koloid tersebut, sehingga akhirnya dapat diendapkan. Penyisihan logam berat dan senyawa fosfor dilakukan dengan membubuhkan larutan alkali (air kapur misalnya) sehingga terbentuk endapan hidroksida logam-logam tersebut atau endapan hidroksiapatit. Endapan logam tersebut akan lebih stabil jika pH air &gt; 10,5 dan untuk hidroksiapatit pada pH &gt; 9,5. Khusus untuk krom heksavalen, sebelum diendapkan sebagai krom hidroksida [Cr(OH)&lt;sub&gt;3&lt;/sub&gt;], terlebih dahulu direduksi menjadi krom trivalent dengan membubuhkan reduktor (FeSO&lt;sub&gt;4&lt;/sub&gt;, SO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;, atau Na&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;S&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;O&lt;sub&gt;5&lt;/sub&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyisihan bahan-bahan organik beracun seperti fenol dan sianida pada konsentrasi rendah dapat dilakukan dengan mengoksidasinya dengan klor (Cl&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;), kalsium permanganat, aerasi, ozon hidrogen peroksida. Pada dasarnya kita dapat memperoleh efisiensi tinggi dengan pengolahan secara kimia, akan tetapi biaya pengolahan menjadi mahal karena memerlukan bahan kimia.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Pengolahan secara biologi&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Semua air buangan yang biodegradable dapat diolah secara biologi. Sebagai pengolahan sekunder, pengolahan secara biologi dipandang sebagai pengolahan yang paling murah dan efisien. Dalam beberapa dasawarsa telah berkembang berbagai metode pengolahan biologi dengan segala modifikasinya.&lt;br /&gt;Pada dasarnya, reaktor pengolahan secara biologi dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Reaktor pertumbuhan tersuspensi (suspended growth reaktor);&lt;br /&gt;2. Reaktor pertumbuhan lekat (attached growth reaktor).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam reaktor pertumbuhan tersuspensi, mikroorganisme tumbuh dan berkembang dalam keadaan tersuspensi. Proses lumpur aktif yang banyak dikenal berlangsung dalam reaktor jenis ini. Proses lumpur aktif terus berkembang dengan berbagai modifikasinya, antara lain: oxidation ditch dan kontak-stabilisasi. Dibandingkan dengan proses lumpur aktif konvensional, oxidation ditch mempunyai beberapa kelebihan, yaitu efisiensi penurunan BOD dapat mencapai 85%-90% (dibandingkan 80%-85%) dan lumpur yang dihasilkan lebih sedikit. Selain efisiensi yang lebih tinggi (90%-95%), kontak stabilisasi mempunyai kelebihan yang lain, yaitu waktu detensi hidrolis total lebih pendek (4-6 jam). Proses kontak-stabilisasi dapat pula menyisihkan BOD tersuspensi melalui proses absorbsi di dalam tangki kontak sehingga tidak diperlukan penyisihan BOD tersuspensi dengan pengolahan pendahuluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolam oksidasi dan lagoon, baik yang diaerasi maupun yang tidak, juga termasuk dalam jenis reaktor pertumbuhan tersuspensi. Untuk iklim tropis seperti Indonesia, waktu detensi hidrolis selama 12-18 hari di dalam kolam oksidasi maupun dalam lagoon yang tidak diaerasi, cukup untuk mencapai kualitas efluen yang dapat memenuhi standar yang ditetapkan. Di dalam lagoon yang diaerasi cukup dengan waktu detensi 3-5 hari saja.&lt;br /&gt;Di dalam reaktor pertumbuhan lekat, mikroorganisme tumbuh di atas media pendukung dengan membentuk lapisan film untuk melekatkan dirinya. Berbagai modifikasi telah banyak dikembangkan selama ini, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. trickling filter&lt;br /&gt;2. cakram biologi&lt;br /&gt;3. filter terendam&lt;br /&gt;4. reaktor fludisasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh modifikasi ini dapat menghasilkan efisiensi penurunan BOD sekitar 80%-90%.&lt;br /&gt;Ditinjau dari segi lingkungan dimana berlangsung proses penguraian secara biologi, proses ini dapat dibedakan menjadi dua jenis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Proses aerob, yang berlangsung dengan hadirnya oksigen;&lt;br /&gt;2. Proses anaerob, yang berlangsung tanpa adanya oksigen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila BOD air buangan tidak melebihi 400 mg/l, proses aerob masih dapat dianggap lebih ekonomis dari anaerob. Pada BOD lebih tinggi dari 4000 mg/l, proses anaerob menjadi lebih ekonomis.&lt;br /&gt;&lt;img alt="Shantybio - Biology Resources" src="http://shanty.redhat.googlepages.com/gambar3.JPG" width="296" height="350" /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 3. Skema Diagram pengolahan Biologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam prakteknya saat ini, teknologi pengolahan limbah cair mungkin tidak lagi sesederhana seperti dalam uraian di atas. Namun pada prinsipnya, semua limbah yang dihasilkan harus melalui beberapa langkah pengolahan sebelum dibuang ke lingkungan atau kembali dimanfaatkan dalam proses produksi, dimana uraian di atas dapat dijadikan sebagai acuan. [DAW]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source : http://www.dephut.go.id/INFORMASI/SETJEN/PUSSTAN/info_5_1_0604/isi_5.htm&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!-- google_ad_client = "pub-6614849183419924"; google_alternate_color = "F3F3F3"; google_ad_width = 728; google_ad_height = 15; google_ad_format = "728x15_0ads_al"; google_ad_channel ="6173558795"; google_color_border = "F3F3F3"; google_color_bg = "F3F3F3"; google_color_link = "000000"; google_color_text = "000000"; google_color_url = "000000"; //--&gt;&lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript" src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt; &lt;/script&gt;&lt;script&gt;window.google_render_ad();&lt;/script&gt;&lt;iframe name="google_ads_frame" src="http://googleads.g.doubleclick.net/pagead/ads?client=ca-pub-6614849183419924&amp;amp;dt=1240204771585&amp;amp;lmt=1240204769&amp;amp;alt_color=F3F3F3&amp;amp;prev_fmts=200x90_0ads_al&amp;amp;format=728x15_0ads_al&amp;amp;output=html&amp;amp;correlator=1240204769851&amp;amp;channel=6173558795&amp;amp;pv_ch=6173558795%2B&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fshantybio.transdigit.com%2F%3FBiology_-_Dasar_Pengolahan_Limbah%3APengolangan_Limbah_Cair&amp;amp;color_bg=F3F3F3&amp;amp;color_text=000000&amp;amp;color_link=000000&amp;amp;color_url=000000&amp;amp;color_border=F3F3F3&amp;amp;ea=0&amp;amp;ref=http%3A%2F%2Fshantybio.transdigit.com%2F%3FBiology_-_Dasar_Pengolahan_Limbah%3APENGOLAHAN_DAN_PEMANFAATAN_LIMBAH_TEKSTIL&amp;amp;frm=0&amp;amp;ga_vid=1248473830.1240204770&amp;amp;ga_sid=1240204770&amp;amp;ga_hid=908387743&amp;amp;flash=9.0.124&amp;amp;u_h=1024&amp;amp;u_w=1280&amp;amp;u_ah=994&amp;amp;u_aw=1280&amp;amp;u_cd=32&amp;amp;u_tz=420&amp;amp;u_his=4&amp;amp;u_nplug=6&amp;amp;u_nmime=15&amp;amp;dtd=5" marginwidth="0" marginheight="0" vspace="0" hspace="0" allowtransparency="true" scrolling="no" width="728" frameborder="0" height="15"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt;&lt;td class="navigator" align="center" bgcolor="#329a43"&gt; &lt;a href="http://www.shantybio.de.vu/" class="navigator"&gt;© shanty bio 2004-2007&lt;/a&gt; &lt;/td&gt;&lt;td valign="top" bgcolor="#999999"&gt; &lt;table width="100%" border="0" cellpadding="5" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="navigator" valign="top" width="33%"&gt; &lt;a href="http://shantybio.transdigit.com/?Biology_-_Dasar_Pengolahan_Limbah:Pengolahan_Air_Limbahdengan_Teknologi_Bersih"&gt;«&lt;/a&gt;&lt;/td&gt; &lt;td class="navigator" valign="top" width="33%" align="center"&gt; &lt;a href="http://www.cmsimple.dk/" target="_blank"&gt;CMSimple.dk&lt;/a&gt;&lt;/td&gt; &lt;td class="navigator" valign="top" width="33%" align="right"&gt; &lt;a href="http://shantybio.transdigit.com/?Biology_-_Dasar_Pengolahan_Limbah:Pengolangan_Limbah_Cair#TOP"&gt;ATAS&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://shantybio.transdigit.com/?Biology_-_Dasar_Pengolahan_Limbah:Pengembangan_Bahan_Plastik_Biodegradabel_Berbahanbaku_Pati_Tropis"&gt;»&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7010959403829459285-5067282609365459572?l=limbahlingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/feeds/5067282609365459572/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/2009/04/pengolangan-limbah-cair.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default/5067282609365459572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default/5067282609365459572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/2009/04/pengolangan-limbah-cair.html' title='Pengolangan Limbah Cair'/><author><name>bayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15977229976436225652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_2uX9aQGk_BE/STf6oU3QBTI/AAAAAAAAAAk/38Md5vLO48U/S220/Picture0180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7010959403829459285.post-6318172933967039478</id><published>2009-04-19T22:10:00.000-07:00</published><updated>2009-04-19T22:11:44.921-07:00</updated><title type='text'>PENGOLAHAN DAN PEMANFAATAN LIMBAH TEKSTIL</title><content type='html'>&lt;table width="750" align="center" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="550" bg style="color:#f3f3f3;"&gt;&lt;table width="100%" align="center" border="0" cellpadding="5" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top"&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;APAKAH LIMBAH TEKSTIL ITU ?&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Limbah tekstil merupakan limbah yang dihasilkan dalam proses pengkanjian, proses penghilangan kanji, penggelantangan, pemasakan, merserisasi, pewarnaan, pencetakan dan proses penyempurnaan. Proses penyempurnaan kapas menghasil kan limbah yang lebih banyak dan lebih kuat dari pada limbah dari proses penyempurnaan bahan sistesis. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Gabungan air limbah pabrik tekstil di Indonesia rata-rata mengandung 750 mg/l padatan tersuspensi dan 500 mg/l BOD. Perbandingan COD : BOD adalah dalam kisaran 1,5 : 1 sampai 3 : 1. Pabrik serat alam menghasilkan beban yang lebih besar. Beban tiap ton produk lebih besar untuk operasi kecil dibandingkan dengan operasi modern yang besar, berkisar dari 25 kg BOD/ton produk sampai 100 kg BOD/ton. Informasi tentang banyaknya limbah produksi kecil batik tradisional belum ditemukan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PROSES PEMBUATAN TEKSTIL&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Serat buatan dan serat alam (kapas) diubah menjadi barang jadi tekstil dengan menggunakan serangkaian proses. Serat kapas dibersihkan sebelum disatukan menjadi benang. Pemintalan mengubah serat menjadi benang. Sebelum proses penenunan atau perajutan, benang buatan maupun kapas dikanji agar serat menjadi kuat dan kaku. Zat kanji yang lazim digunakan adalah pati, perekat gelatin, getah, polivinil alkohol (PVA) dan karboksimetil selulosa (CMC). Penenunan, perajutan, pengikatan dan laminasi merupakan proses kering. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Sesudah penenunan serat dihilangkan kanjinya dengan asam (untuk pati) atau hanya air (untuk PVA atau CMC). Penghilangan kanji pada kapas dapat memakai enzim. Sering pada waktu yang sama dengan pengkanjian, digunakan pengikisan (pemasakan) dengan larutan alkali panas untuk menghilangkan kotoran dari kain kapas. Kapas juga dapat dimerserisasi dengan perendaman dalam natrium hidroksida, dilanjutkan pembilasan dengan air atau asam untuk meningkatkan kekuatannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Penggelantangan dengan natrium hipoklorit, peroksida atau asam perasetat dan asam borat akan memutihkan kain yang dipersiapkan untuk pewarnaan. Kapas memerlukan pengelantangan yang lebih ekstensif daripada kain buatan (seperti pendidihan dengan soda abu dan peroksida).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Pewarnaan serat, benang dan kain dapat dilakukan dalam tong atau dengan memakai proses kontinyu, tetapi kebanyakan pewarnaan tekstil sesudah ditenun. Di Indonesia denim biru (kapas) dicat dengan zat warna. Kain dibilas diantara kegiatan pemberian warna. Pencetakan memberikan warna dengan pola tertentu pada kain diatas rol atau kasa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;SUMBER LIMBAH&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Larutan penghilang kanji biasanya langsung dibuang dan ini mengandung zat kimia pengkanji dan penghilang kanji pati, PVA, CMC, enzim, asam. Penghilangan kanji biasanya memberi kan BOD paling banyak dibanding dengan proses-proses lain. Pemasakan dan merserisasi kapas serta pemucatan semua kain adalah sumber limbah cair yang penting, yang menghasilkan asam, basa, COD, BOD, padatan tersuspensi dan zat-zat kimia. Proses-proses ini menghasilkan limbah cair dengan volume besar, pH yang sangat bervariasi dan beban pencemaran yang tergantung pada proses dan zat kimia yang digunakan. Pewarnaan dan pembilasan menghasilkan air limbah yang berwarna dengan COD tinggi dan bahan-bahan lain dari zat warna yang dipakai, seperti fenol dan logam. Di Indonesia zat warna berdasar logam (krom) tidak banyak dipakai. Proses pencetakan menghasilkan limbah yang lebih sedikit daripada pewarnaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;JENIS LIMBAH&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;1. Logam berat terutama As, Cd, Cr, Pb, Cu, Zn.&lt;br /&gt;2. Hidrokarbon terhalogenasi (dari proses dressing dan finishing)&lt;br /&gt;3. Pigmen, zat warna dan pelarut organic&lt;br /&gt;4. Tensioactive (surfactant)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;PENANGANAN LIMBAH&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Langkah pertama untuk memperkecil beban pencemaran dari operasi tekstil adalah program pengelolaan air yang efektif dalam pabrik, menggunakan :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Pengukur dan pengatur laju alir&lt;/span&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Pengendalian permukaan cairan untuk mengurangi tumpahan&lt;/span&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Pemeliharaan alat dan pengendalian kebocoran&lt;/span&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Pengurangan pemakaian air masing-masing proses&lt;/span&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Otomatisasi proses atau pengendalian proses operasi secara cermat&lt;/span&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Penggunaan kembali alir limbah proses yang satu untuk penambahan (make-up) dalam proses lain (misalnya limbah merserisasi untuk membuat penangas pemasakan atau penggelantangan)&lt;/span&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Proses kontinyu lebih baik dari pada proses batch (tidak kontinyu)&lt;/span&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Pembilasan dengan aliran berlawanan&lt;/span&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Penggantian dan pengurangan pemakaian zat kimia dalam proses harus diperiksa pula :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Penggantian kanji dengan kanji buatan untuk mengurangi BOD&lt;/span&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Penggelantangan dengan peroksi da menghasilkan limbah yang kadarnya kurang kuat daripada penggelantangan pemasakan hipoklorit&lt;/span&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Penggantian zat-zat pendispersi, pengemulsi dan perata yang menghasilkan BOD tinggi dengan yang BOD-nya lebih rendah.&lt;/span&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Zat pewarna yang sedang dipakai akan menentukan sifat dan kadar limbah proses pewarnaan. Pewarna dengan dasar pelarut harus diganti pewarna dengan dasar air untuk mengurangi banyaknya fenol dalam limbah. Bila digunakan pewarna yang mengandung logam seperti krom, mungkin diperlukan reduksi kimia dan pengendapan dalam pengolahan limbahnya. Proses penghilangan logam menghasilkan lumpur yang sukar diolah dan sukar dibuang. Pewarnaan dengan permukaan kain yang terbuka dapat mengurangi jumlah kehilangan pewarna yang tidak berarti.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Pengolahan limbah cair dilakukan apabila limbah pabrik mengandung zat warna, maka aliran limbah dari proses pencelupan harus dipisahkan dan diolah tersendiri. Limbah operasi pencelupan dapat diolah dengan efektif untuk menghilangkan logam dan warna, jika menggunakan flokulasi kimia, koagulasi dan penjernihan (dengan tawas, garam feri atau poli-elektrolit). Limbah dari pengolahan kimia dapat dicampur dengan semua aliran limbah yang lain untuk dilanjutkan ke pengolahan biologi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Jika pabrik menggunakan pewarnaan secara terbatas dan menggunakan pewarna tanpa krom atau logam lain, maka gabungan limbah sering diolah dengan pengolahan biologi saja, sesudah penetralan dan ekualisasi. Cara-cara biologi yang telah terbukti efektif ialah laguna aerob, parit oksidasi dan lumpur aktif. Sistem dengan laju alir rendah dan penggunaan energi yang rendah lebih disukai karena biaya operasi dan pemeliharaan lebih rendah. Kolom percik adalah cara yang murah akan tetapi efisiensi untuk menghilangkan BOD dan COD sangat rendah, diperlukan lagi pengolahan kimia atau pengolahan fisik untuk memperbaiki daya kerjanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Untuk memperoleh BOD, COD, padatan tersuspensi, warna dan parameter lain dengan kadar yang sangat rendah, telah digunakan pengolahan yang lebih unggul yaitu dengan menggunakan karbon aktif, saringan pasir, penukar ion dan penjernihan kimia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;PEMANFAATAN LIMBAH&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Industri tekstil tidak banyak menghasilkan banyak limbah padat. Lumpur yang dihasilkan pengolahan limbah secara kimia adalah sumber utama limbah pada pabrik tekstil. Limbah lain yang mungkin perlu ditangani adalah sisa kain, sisa minyak dan lateks. Alternatif pemanfaatan sisa kain adalah dapat digunakan sebagai bahan tas kain yang terdiri dari potongan kain-kain yang tidak terpakai, dapat juga digunakan sebagai isi bantal dan boneka sebagai pengganti dakron.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Lumpur dari pengolahan fisik atau kimia harus dihilangkan airnya dengan saringan plat atau saringan sabuk (belt filter). Jika pewarna yang dipakai tidak mengandung krom atau logam lain, lumpur dapat ditebarkan diatas tanah. Jika lumpur mengandung logam, maka ia harus disimpan ditempat yang aman, sampai ada suatu tempat pengolahan limbah berbahaya yang dikembangkan di Indonesia, dan yang ada pada saat ini adalah Pengolahan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B-3) di Cilengsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!-- google_ad_client = "pub-6614849183419924"; google_alternate_color = "F3F3F3"; google_ad_width = 728; google_ad_height = 15; google_ad_format = "728x15_0ads_al"; google_ad_channel ="6173558795"; google_color_border = "F3F3F3"; google_color_bg = "F3F3F3"; google_color_link = "000000"; google_color_text = "000000"; google_color_url = "000000"; //--&gt;&lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript" src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt; &lt;/script&gt;&lt;script&gt;window.google_render_ad();&lt;/script&gt;&lt;iframe name="google_ads_frame" src="http://googleads.g.doubleclick.net/pagead/ads?client=ca-pub-6614849183419924&amp;amp;dt=1240204222130&amp;amp;lmt=1240204219&amp;amp;alt_color=F3F3F3&amp;amp;prev_fmts=200x90_0ads_al&amp;amp;format=728x15_0ads_al&amp;amp;output=html&amp;amp;correlator=1240204220010&amp;amp;channel=6173558795&amp;amp;pv_ch=6173558795%2B&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fshantybio.transdigit.com%2F%3FBiology_-_Dasar_Pengolahan_Limbah%3APENGOLAHAN_DAN_PEMANFAATAN_LIMBAH_TEKSTIL&amp;amp;color_bg=F3F3F3&amp;amp;color_text=000000&amp;amp;color_link=000000&amp;amp;color_url=000000&amp;amp;color_border=F3F3F3&amp;amp;ea=0&amp;amp;ref=http%3A%2F%2Fshantybio.transdigit.com%2F%3FBiology_-_Dasar_Pengolahan_Limbah%3ADampak_Negatif_Limbah_Sampah_Terhadap_Lingkungan_dan_Pemanfaatannya&amp;amp;frm=0&amp;amp;ga_vid=1808544498.1240204220&amp;amp;ga_sid=1240204220&amp;amp;ga_hid=115262010&amp;amp;flash=9.0.124&amp;amp;u_h=1024&amp;amp;u_w=1280&amp;amp;u_ah=994&amp;amp;u_aw=1280&amp;amp;u_cd=32&amp;amp;u_tz=420&amp;amp;u_his=3&amp;amp;u_nplug=6&amp;amp;u_nmime=15&amp;amp;dtd=4" marginwidth="0" marginheight="0" vspace="0" hspace="0" allowtransparency="true" scrolling="no" width="728" frameborder="0" height="15"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt;&lt;td class="navigator" align="center" bgcolor="#329a43"&gt; &lt;a href="http://www.shantybio.de.vu/" class="navigator"&gt;© shanty bio 2004-2007&lt;/a&gt; &lt;/td&gt;&lt;td valign="top" bgcolor="#999999"&gt; &lt;table width="100%" border="0" cellpadding="5" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="navigator" valign="top" width="33%"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7010959403829459285-6318172933967039478?l=limbahlingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/feeds/6318172933967039478/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/2009/04/pengolahan-dan-pemanfaatan-limbah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default/6318172933967039478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default/6318172933967039478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/2009/04/pengolahan-dan-pemanfaatan-limbah.html' title='PENGOLAHAN DAN PEMANFAATAN LIMBAH TEKSTIL'/><author><name>bayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15977229976436225652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_2uX9aQGk_BE/STf6oU3QBTI/AAAAAAAAAAk/38Md5vLO48U/S220/Picture0180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7010959403829459285.post-7539100629479709150</id><published>2009-04-19T22:07:00.000-07:00</published><updated>2009-04-19T22:08:33.605-07:00</updated><title type='text'>Dampak Negatif Limbah Sampah Terhadap Lingkungan dan Pemanfaatannya</title><content type='html'>&lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt; text-indent: 0.15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Trebuchet MS;"&gt;Nature tour area is place that interesting to visited, either by local tourist also foreign countries tourist lovely natural nuance. besides nature tour area place tool the happening of social interaction and economy activity.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;to fish society and tourist as many as possible, every nature tour area must watch over uniqueness, preservation,  and the beauty. more and more tourist visit, so activity supervision will increase, good also economy. every activity that done, will produce economy benefit for area. but that must be rememberred that waste or rubbish that evoked from activity can threaten nature tour area.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;when be let not be managed be threat serious for continuance and nature tour area preservation. on the contrary, when managed well, has potential value, like penyediaan job field, quality enhanced and environment aesthetics,  and utilization other upon which compost maker that can be used to repair critical tune at various region in indonesia,  and can also influence state's stock exchange acceptance.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt; text-indent: 0.15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Trebuchet MS;"&gt;Kawasan wisata alam  merupakan tempat yang menarik untuk dikunjungi, baik oleh wisatawan lokal maupun  wisatawan mancanegara yang menyenangi nuansa alami.  Selain itu kawasan wisata  alam adalah sarana tempat terjadinya interaksi sosial dan aktivitas ekonomi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt; text-indent: 0.15pt;"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Trebuchet MS;"&gt;Untuk menjaring  masyarakat dan wisatawan sebanyak mungkin, setiap kawasan wisata alam harus  menjaga keunikan, kelestarian, dan keindahannya. Semakin banyak kunjungan  wisatawan, maka aktivitas dikawasan tersebut akan meningkat, baik aktivitas  sosial maupun ekonomi. Setiap aktivitas yang dilakukan, akan menghasilkan  manfaat ekonomi bagi kawasan tersebut.  Namun yang harus diingat adalah bahwa  limbah atau sampah yang ditimbulkan dari kegiatan tersebut dapat mengancam  kawasan wisata alam.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt;"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Trebuchet MS;"&gt;Sampah apabila  dibiarkan tidak dikelola dapat menjadi ancaman yang serius bagi kelangsungan dan  kelestarian kawasan wisata alam. Sebaliknya, apabila dikelola dengan baik,  sampah memiliki nilai potensial, seperti penyediaan lapangan pekerjaan,  peningkatan kualitas dan estetika lingkungan, dan pemanfaatan lain sebagai bahan  pembuatan kompos yang dapat digunakan untuk memperbaiki lahan kritis di berbagai  daerah di Indonesia, dan dapat juga mempengaruhi penerimaan devisa negara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin: 12pt 0in 0.0001pt;"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;Pengertian Sampah&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt;"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Trebuchet MS;"&gt;Sampah adalah semua  material yang dibuang dari kegiatan rumah tangga, perdagangan, industri dan  kegiatan pertanian. Sampah yang berasal dari kegiatan rumah tangga dan tempat  perdagangan dikenal dengan limbah &lt;i&gt;municipal&lt;/i&gt; yang tidak berbahaya (&lt;i&gt;non  hazardous&lt;/i&gt;).  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt;"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Trebuchet MS;"&gt;Soewedo   (1983)  menyatakan bahwa sampah adalah bagian dari sesuatu yang tidak dipakai, tidak  disenangi atau sesuatu yang harus dibuang, yang umumnya berasal dari kegiatan  yang dilakukan manusia (termasuk kegiatan industri), tetapi bukan yang biologis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin: 12pt 0in 0.0001pt;"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;Komposisi Sampah&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin-left: 0in;"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Berdasarkan komposisinya, sampah dibedakan menjadi dua,  yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-indent: -28px; text-align: left; margin-left: 28px;"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;1.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-family: Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Sampah Organik, yaitu sampah yang mudah  membusuk seperti sisa makanan, sayuran, daun-daun kering, dan sebagainya. Sampah  ini dapat diolah lebih lanjut menjadi kompos;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin: 3pt 0in 0.0001pt 28px; text-indent: -28px; text-align: left;"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;2.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-family: Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Sampah  Anorganik, yaitu sampah yang tidak mudah membusuk, seperti plastik wadah  pembungkus makanan, kertas, plastik mainan, botol dan gelas minuman, kaleng,  kayu, dan sebagainya. Sampah ini dapat dijadikan sampah komersil atau sampah  yang laku dijual untuk dijadikan produk lainnya.  Beberapa sampah anorganik yang  dapat dijual adalah plastik wadah pembungkus makanan, botol dan gelas bekas  minuman, kaleng, kaca, dan kertas, baik kertas koran, HVS, maupun karton;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin-left: 0in;"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Di negara-negara berkembang komposisi sampah terbanyak  adalah sampah organik, sebesar 60 – 70%, dan sampah anorganik sebesar &lt;/span&gt;± &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;30%.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin: 12pt 0in 0.0001pt;"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;Ancaman Bagi Kawasan Wisata Alam &lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin-left: 0in;"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Dampak negatif yang ditimbulkan dari sampah yang tidak  dikelola dengan baik adalah sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-indent: -28px; text-align: left; margin-left: 28px;"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;a.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-family: Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Gangguan Kesehatan:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 50px; text-indent: -20px;"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;·&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-family: Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Timbulan sampah dapat menjadi tempat  pembiakan lalat yang dapat mendorong penularan infeksi;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 50px; text-indent: -20px;"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;·&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-family: Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Timbulan sampah dapat menimbulkan  penyakit yang terkait dengan tikus;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-indent: -28px; margin-top: 3pt; margin-left: 28px;"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;b.    Menurunnya kualitas lingkungan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-indent: -28px; margin-top: 3pt; margin-left: 28px;"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;c.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-family: Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Menurunnya  estetika lingkungan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin: 3pt 0in 0.0001pt 28px;"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Timbulan sampah yang bau, kotor dan berserakan akan  menjadikan lingkungan tidak indah untuk dipandang mata;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin: 3pt 0in 0.0001pt 28px; text-indent: -28px; text-align: left;"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;d.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-family: Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Terhambatnya pembangunan negara&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin: 3pt 0in 0.0001pt 28px;"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Dengan menurunnya kualitas dan estetika lingkungan,  mengakibatkan pengunjung atau wisatawan enggan untuk mengunjungi daerah wisata  tersebut karena merasa tidak nyaman, dan daerah wisata tersebut menjadi tidak  menarik untuk dikunjungi. Akibatnya jumlah kunjungan wisatawan menurun, yang  berarti devisa negara juga menurun.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoHeading7" style="margin-top: 12pt;"&gt; &lt;span style="font-family: Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pengelolaan Sampah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Agar pengelolaan sampah berlangsung dengan baik  dan mencapai tujuan yang diinginkan, maka setiap kegiatan pengelolaan sampah  harus mengikuti filosofi pengelolaan sampah. Filosofi pengelolaan sampah adalah  bahwa semakin sedikit dan semakin dekat sampah dikelola dari sumbernya, maka  pengelolaannya akan menjadi lebih mudah dan baik, serta lingkungan yang terkena  dampak juga semakin sedikit.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Tahapan Pengelolaan sampah yang dapat dilakukan  di kawasan wisata alam adalah:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 28px; text-indent: -28px; text-align: left;"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;a.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-family: Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt; Pencegahan dan Pengurangan Sampah dari Sumbernya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 3pt 0in 0.0001pt 28px;"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Kegiatan ini dimulai  dengan kegiatan pemilahan atau pemisahan sampah organik dan anorganik dengan  menyediakan tempat sampah organik dan anorganik  disetiap kawasan yang sering  dikunjungi wisatawan.   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 28px; text-indent: -28px;"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;b.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-family: Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt; Pemanfaatan Kembali&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 3pt 0in 0.0001pt 28px;"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Kegiatan pemanfaatan  sampah kembali, terdiri atas:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 55px; text-indent: -24px;"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;1).  Pemanfaatan sampah  organik, seperti &lt;i&gt;composting &lt;/i&gt;(pengomposan).  Sampah yang mudah membusuk  dapat diubah menjadi pupuk kompos yang ramah lingkungan untuk melestarikan  fungsi kawasan wisata.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 55px;"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Berdasarkan hasil,  penelitian diketahui bahwa dengan melakukan kegiatan &lt;i&gt;composting &lt;/i&gt;sampah  organik yang komposisinya mencapai 70%, dapat direduksi hingga mencapai 25%.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;table style="border-collapse: collapse;" id="AutoNumber1" width="100%" border="0" bordercolor="#111111" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;   &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td width="7%"&gt; &lt;/td&gt;     &lt;td width="42%"&gt; &lt;/td&gt;     &lt;td width="51%"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td width="7%"&gt; &lt;/td&gt;     &lt;td width="42%"&gt;     &lt;img src="http://shantybio.transdigit.com/images/pemilihan_sampah.jpg" alt="Pemilihan Sampah" width="283" border="0" height="196" /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;Gb.1. Proses Pemilahan Sampah&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td width="51%"&gt;     &lt;img src="http://shantybio.transdigit.com/images/pembuatan_kompos.jpg" alt="Pembuatan Kompos" width="260" border="0" height="196" /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;Gb.2. Proses Pembuatan Kompos&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td width="7%"&gt; &lt;/td&gt;     &lt;td width="42%"&gt; &lt;/td&gt;     &lt;td width="51%"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 55px; text-indent: -24px;"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; 2).  Pemanfaatan  sampah anorganik, baik secara langsung maupun tidak langsung.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 3pt 0in 0.0001pt 55px;"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Pemanfaatan kembali  secara langsung, misalnya pembuatan kerajinan yang berbahan baku dari barang  bekas, atau kertas daur ulang.  Sedangkan pemanfaatan kembali secara tidak  langsung, misalnya menjual barang bekas seperti kertas, plastik, kaleng, koran  bekas, botol, gelas dan botol air minum dalam kemasan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;c.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-family: Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Tempat  Pembuangan Sampah Akhir&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 3pt 0in 0.0001pt 28px;"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Sisa sampah yang tidak  dapat dimanfaatkan secara ekonomis baik dari kegiatan &lt;i&gt;composting &lt;/i&gt;maupun  pemanfaatan sampah anorganik, jumlahnya mencapai &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;± &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; 10%, harus dibuang ke  Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA).  Di Indonesia, pengelolaan TPA menjadi  tanggung jawab masing-masing Pemda.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText3" style="margin-top: 6pt;"&gt; &lt;span style="font-family: Trebuchet MS;"&gt;Dengan pengelolaan sampah yang baik,  sisa sampah akhir yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan lagi hanya sebesar &lt;/span&gt;± &lt;span style="font-family: Trebuchet MS;"&gt;10%.  Kegiatan ini tentu saja  akan menurunkan biaya pengangkutan sampah bagi pengelola kawasan wisata alam,  mengurangi luasan kebutuhan tempat untuk lokasi TPS, serta memperkecil  permasalahan sampah yang saat ini dihadapi oleh banyak pemerintah daerah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;Penutup&lt;/span&gt; &lt;p class="MsoBodyText3" style="margin-top: 6pt;"&gt; &lt;span style="font-family: Trebuchet MS;"&gt;Pengelolaan sampah yang dilakukan di kawasan wisata alam, akan memberikan banyak manfaat, diantaranya adalah:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 3pt 0in 0.0001pt 28px; text-align: justify; text-indent: -28px;"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;a.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-family: Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Menjaga keindahan, kebersihan dan estetika lingkungan kawasan sehingga menarik wisatawan untuk berkunjung;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 3pt 0in 0.0001pt 28px; text-align: justify; text-indent: -28px;"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;b.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-family: Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Tidak memerlukan TPS yang luas, sehingga pengelola wisata dapat mengoptimalkan penggunaan pemanfaatan kawasan;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 3pt 0in 0.0001pt 28px; text-align: justify; text-indent: -28px;"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;c.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-family: Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Mengurangi biaya angkut sampah ke TPS;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 3pt 0in 0.0001pt 28px; text-align: justify; text-indent: -28px;"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;d.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-family: Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Mengurangi beban Pemda dalam mengelola sampah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 3pt 0in 0.0001pt 28px; text-align: justify; text-indent: -28px;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; Source : http://www.dephut.go.id/INFORMASI/SETJEN/PUSSTAN/info_5_1_0604/isi_4.htm&lt;br /&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!-- google_ad_client = "pub-6614849183419924"; google_alternate_color = "F3F3F3"; google_ad_width = 728; google_ad_height = 15; google_ad_format = "728x15_0ads_al"; google_ad_channel ="6173558795"; google_color_border = "F3F3F3"; google_color_bg = "F3F3F3"; google_color_link = "000000"; google_color_text = "000000"; google_color_url = "000000"; //--&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7010959403829459285-7539100629479709150?l=limbahlingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/feeds/7539100629479709150/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/2009/04/dampak-negatif-limbah-sampah-terhadap.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default/7539100629479709150'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default/7539100629479709150'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/2009/04/dampak-negatif-limbah-sampah-terhadap.html' title='Dampak Negatif Limbah Sampah Terhadap Lingkungan dan Pemanfaatannya'/><author><name>bayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15977229976436225652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_2uX9aQGk_BE/STf6oU3QBTI/AAAAAAAAAAk/38Md5vLO48U/S220/Picture0180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7010959403829459285.post-9173047020065009441</id><published>2009-04-19T08:41:00.000-07:00</published><updated>2009-04-19T08:42:36.212-07:00</updated><title type='text'>Ramah Lingkungan dari Hulu Hingga Hilir - AutoCar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_2uX9aQGk_BE/SetGX23kIZI/AAAAAAAAACc/CO-bkJkCpTk/s1600-h/toyota.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 300px; height: 209px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_2uX9aQGk_BE/SetGX23kIZI/AAAAAAAAACc/CO-bkJkCpTk/s320/toyota.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326428359975248274" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Toyota terus mengembangkan aktivitas ramah lingkungan. Aplikasinya dimulai dari pabrik dan lingkungannya, hingga berputarnya roda mobil produksi mereka di jalan-jalan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Persoalan lingkungan hidup saat ini hadir darisemakin tingginya output karbon yang dihasilkan oleh hampir seluruh sektor industri mulai dari hulu hingga hilir. Kendaraan, scbagai salah satu bagian penting roda kehidupan pun menjadi salah satu penyumbang terbesar tercemarnya udara, bahkan bisa dibilang sebagai salah satu perusak lingkungan utama. Mulai dari produksi, distribusi, operasi hingga usai masa pakainya, mobil menghasilkan kontribusi terhadap kerusakan lingkungan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Saat ini diperkirakan kepemilikan mobil di dunia mencapai 900 juta unit. Asosiasi Industri Otomotif Jepang (JAMA) bahkan memperkirakan tahun 2010, kepemilikan mobil di dunia akan mencapai satu miliar unit dan menjadi 1,5 miliar unit di 2020. Tentunya, dampak lingkungan yang terjadi akibat produksi hingga pemakaian mobil sebanyak ini akan semakin buruk terhadap lingkungan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Toyoota, sebagai salah satu produsen otomotif terbesar di dunia pun bergerak cepat untuk tidak menjadi yang terbesar pula dalam menyumbang kerusakan lingkungan. Dalam acara Toyota Environmental Forum (TEF) 2008 di Tokyo bulan Juni lalu, mereka pun menyosialisasikan beberapa tindakan aktif untuk memberikan kontribusi positif terhadap masa depan dunia yang lebih baik dengan merealisasikan lingkungan masyarakat rendah karbon (low carbon society).&lt;/p&gt;&lt;p&gt; "Sejak berdiri, Toyota telah menjalankan bisnisnya berdasarkan prinsip untuk berkontribusi pada pengembangan masyarakat sejahtera melalui manufaktur otomotif," ujar Presiden Toyota Motor Corporation (TMC), Katsuaki Watanabe. "Toyota mencari jalan mengombinasikan tenaga manusia dan teknologi untuk membantu mewujudkan masyarakat yang dapat menjaga keseimbangan antara aktivitas perusahaan dan pemeliharaan lingkungan," tambahnya. Untuk itu, Toyota merencanakan tiga aktivitas dengan fokus pada penelitian dan pengembangan, proses produksi, dan kontribusi sosial. Singkatnya, ramah lingkungan dari hulu sampai hilir.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;   &lt;strong&gt;PROSES PRODUKSI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dimulai dari pabriknya, TMC sudah mengindikasikan proses produksi yang ramah lingkungan. Semua aktivitas di pabrik Toyota menunjukkan tanggung jawab besar terhadap lingkungannya di semua aspek produksi dan distribusi. Pengembangan teknologi pengurangan emisi CO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; misalnya, pada pabrik  Tsutsumi di Nagoya, TMC sukses mengurangi emisi CO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; hingga 51%  dibandingkan tahun 1990. Pengurangan CO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; yang dicapai hingga 740 ton/tahun itu setara dengan penghematan 1.500 barrel minyak mentah. Hal tersebut antara lain didapat berkat penggunaan bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar minyak pada sistem pembangkit turbin gas yang mereka miliki dengan pengalihan penggunaan bahan bakar gas petroleum cair (LPG) menjadi gas alam cair (LNG).&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Penggunaan energi terbarukan juga menjadi salah satu aktivitas ramah lingkungan TMC untuk menghasilkan mobil yang juga ramah lingkungan. Masih di Tsutsumi, di pabrik yang memproduksi mobil hybrid Toyota Prius ini, terdapat barisan 12.000 panel surya di atap pabrik untuk memasok sistem pembangkit foto-voltaik yang mampu menghasilkan output listrik hingga 2.000 kW untuk proses produksi mereka. Sumber energi tersebut, dapat memasok sumber listrik hingga 5% dari kebutuhan listrik total pabrik Tsutsumi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;   &lt;strong&gt;PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN&lt;br /&gt; &lt;/strong&gt;Isu soal energi dan lingkungan yang berhubungan erat dengan produk otomotif adalah soal ketergantungan pada bahan bakar minyak dan munculnya emisi CO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;. Pengembangan teknologi otomotif yang dilakukan Toyota menunjukkan bahwa dalam sepuluh tahun terakhir (1997-2007), nilai efisiensi bahan bakar rata-rata dari mobil Toyota yang dijual di Jepang meningkat sekitar 28%. Toyota pun terus melakukan pengembangan dengan memperkenalkan mesin dan transmisi baru dengan efisiensi lebih baik lagi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Peningkatan efisiensi bahan bakar ini dapat diwujudkan antara lain berkat kemampuan mesin-mesin Toyota mengonsumsi bahan bakar alternatif (Flexible Fuel Vehicle). Sejak 2006, semua mobil yang diproduksi Toyota sanggup menenggak bahan bakar E10 (10% ethanol), bahkan di bulan Mei 2007, Toyota memperkenalkan Toyota Corolla di Brasil yang mampu menenggak bahan bakar ethanol 100% (E100).&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Hal lain yang menjadi fokus utama Toyota saat ini adalah penggunaan teknologi hybrid pada mobil produksi mereka. Tak hanya soal efisiensi bahan bakar, teknologi hybrid yang memadukan penggunaan mesin bensin/diesel yang efisien dengan motor listrik menawarkan emisi gas buang lebih rendah. Toyota saat ini terus melakukan peningkatan penggunaan teknologi hybrid dengan menawarkan lebih banyak varian hybrid di antara model mobil produksinya. Hingga tahun 2008, total penjualan model hybrid Toyota telah mencapai 1,5 juta unit di seluruh dunia, di mana hal itu sama dengan keberhasilan mengurangi tujuh juta ton emisi CO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; dan memangkas konsumsi bahan bakar minyak hingga 2,7 juta  kiloliter.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Penggunaan teknologi hybrid pun terus dikembangkan oleh Toyota. Teknologi hybrid kini dikembangkan dengan meningkatkan kemampuan motor listriknya (Plug-in Hybrid Vehicle/ Electric Vehicle) dan mengombinasikannya dengan bahan bakar alternatif, seperti hidrogen (Fuel Cell Hybrid Vehicle). Toyota bahkan menargetkan dapat memasarkan mobil berteknologi plug-in hybrid ini pada tahun 2010. "Dan pada tahun 2020 akan ada varian hybrid dari semua model Toyota yang dijual," tegas Watanabe.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;   &lt;strong&gt;BATERAI&lt;br /&gt; &lt;/strong&gt;Lebih jauh lagi, untuk mendukung teknologi plug-in hybrid (PHV) dan mobil listrik (EV) mereka, TMC lebih serius untuk mengembangkan baterai sebagai unit utama pemasok energi. Bisa dibi-lang baterai merupakan kunci dari perkembangan teknologi plug-in hybrid dan kendaraan listrik Toyota di masa yang akan datang. Untuk menghadapi itu, sejak Juni 2008, TMC membentuk departemen yang secara khusus mengembangkan baterai yang jauh lebih baik dari teknologi baterai lithium-ion masa kini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; "Di saat kami dapat mengembangkan baterai yang mengalahkan performa baterai lithium-ion (di masa akan datang), kami akan memperkenalkan mobil bertenaga listrik di semua model kami," ujar Masatami TaMmoto, Executive Vice President TMC. Baterai ini pula yang akan menjadi kunci bagi kelangsungan PHV di masa yang akan datang. Watanabe optimis Prius berteknologi plug-in bahkan sudah mulai dipasarkan pada tahun 2010, paling tidak di pasar domestik Jepang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;   &lt;strong&gt;MASA DEPAN HYBRID Dl INDONESIA&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; PERKEMBANGAN teknologi hybrid juga berada di ambang pintu Indonesia. Pernyataan President TMC, Katsuaki Watanabe, bahwa pada tahun 2020 semua model Toyota akan mendapatkan teknologi hybrid menjadi salah satu kunci. Hal ini menjadi tak tertutup kemungkinan varian Toyota Kijang Innova bahkan Toyota Avanza juga akan mencicipi teknologi 'hijau' ini dalam dua dekade mendatang. Apalagi General Manager Planning Dept. Asia-Oceania-Middle East TMC, Shuji Eguchi sempat mengungkapkan, "Hal tersebut mungkin saja," usai berlangsungnyaTEF 2008 di Jepang. Indikasi lain adalah mulai diproduksinya Toyota Camry Hybrid di Thailand. Seperti kita tahu, hampir sebagian besar produk global Toyota yang nadir di Indonesia datang dari pabrikdi Thailand.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Meski begitu, Senior Managing Director TMC Dato Akira Okabe justru melihat Indonesia belum menjadi pasar potensial bagi produk hybrid. "Harga mobil hybrid yang tinggi dan karakteristik pembeli mobil yang berbeda," menjadi alasan Okabesan. Menurutnya, saat ini yang lebih dibutuhkan masyarakat di Asia adalah mobil kecilyangefisien.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Sedangkan menurut Joko Trisanyoto, Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor, selain karena tingginya harga mobil hybrid, skema insentif pemerintah bagi industri di Indonesia juga belum menguntungkan bagi mobil berteknologi hybrid. "Padahal insentif bisa turut menekan harga jual mobil (berteknologi) hybrid," ujarnya. Meski begitu, PT TAM tetap memasarkan Toyota Prius hybrid bagi mereka yang menginginkannya.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7010959403829459285-9173047020065009441?l=limbahlingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/feeds/9173047020065009441/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/2009/04/ramah-lingkungan-dari-hulu-hingga-hilir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default/9173047020065009441'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default/9173047020065009441'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/2009/04/ramah-lingkungan-dari-hulu-hingga-hilir.html' title='Ramah Lingkungan dari Hulu Hingga Hilir - AutoCar'/><author><name>bayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15977229976436225652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_2uX9aQGk_BE/STf6oU3QBTI/AAAAAAAAAAk/38Md5vLO48U/S220/Picture0180.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_2uX9aQGk_BE/SetGX23kIZI/AAAAAAAAACc/CO-bkJkCpTk/s72-c/toyota.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7010959403829459285.post-6119501788527103473</id><published>2009-04-19T08:24:00.000-07:00</published><updated>2009-04-19T08:26:17.744-07:00</updated><title type='text'>Membantu Menyelamatkan Planet Bumi melalui Renovasi Rumah</title><content type='html'>&lt;p class="PH"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="ep"&gt;Menurut sebuah survei tahun 2006, hampir sepertiga dari para pemilik rumah di Inggris telah melakukan renovasi penghematan energi di dalam rumah mereka pada tahun lalu. Renovasi rumah ini berguna bagi para pemilik rumah, karena pada akhirnya dapat menghemat uang dengan memotong biaya gas, tagihan listrik, serta dapat membantu menurunkan pemanasan global dengan mengurangi emisi karbon dioksida. Survei yang dilakukan oleh Halifax Building Society mencerminkan komitmen yang tengah berlangsung pada umat manusia untuk meningkatkan efisiensi energi dengan memikirkan masa depan planet dan generasi mendatang. &lt;/p&gt;             &lt;p class="reference"&gt; Referensi:&lt;br /&gt;            &lt;a target="_blank" href="http://www.thisislancashire.co.uk/news/localnews/display.var.958434.0.how_you_can_help_save_the_planet.php"&gt;http://www.thisislancashire.co.uk/news/localnews/display.var.958434.0.how_you_can_help_save_the_planet.php&lt;/a&gt;             &lt;/p&gt;             &lt;p class="ep"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7010959403829459285-6119501788527103473?l=limbahlingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/feeds/6119501788527103473/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/2009/04/membantu-menyelamatkan-planet-bumi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default/6119501788527103473'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default/6119501788527103473'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/2009/04/membantu-menyelamatkan-planet-bumi.html' title='Membantu Menyelamatkan Planet Bumi melalui Renovasi Rumah'/><author><name>bayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15977229976436225652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_2uX9aQGk_BE/STf6oU3QBTI/AAAAAAAAAAk/38Md5vLO48U/S220/Picture0180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7010959403829459285.post-240342439066612790</id><published>2009-04-19T08:22:00.000-07:00</published><updated>2009-04-19T08:24:15.637-07:00</updated><title type='text'>Perkembangan Positif Bumi</title><content type='html'>&lt;div class="IL2"&gt;Upaya Global dalam&lt;br /&gt;Gerakan Ramah Lingkungan &lt;/div&gt;             &lt;p class="quote"&gt;Sekarang ini, ketika kita melihat ke sekeliling dunia ini, kita benar-benar melihat gerakan ramah lingkungan yang sedang berkembang pesat. Hal ini merupakan perkembangan yang menandai datangnya Zaman Keemasan. Kita melihat para pemimpin bermunculan di sektor swasta, organisasi pemerintah, nonpemerintah, maupun inisiatif warga negara perorangan untuk melindungi ketahanan lingkungan. &lt;/p&gt;             &lt;p class="PH"&gt;Transformasi Ramah Lingkungan Global &lt;/p&gt;             &lt;div class="NL2"&gt;Oleh Grup Berita Singapura (Asal dalam bahasa Inggris) &lt;/div&gt;             &lt;p class="ep"&gt;Para ilmuwan di bidang iklim telah menyajikan bukti-bukti meyakinkan bahwa pemanasan global benar-benar terjadi. Pemanasan global bertanggung jawab atas aktivitas angin topan yang kuat, mencairnya es di kutub, dan telah menyebabkan perubahan drastis terhadap pola iklim kita yang mengakibatkan kekeringan, banjir, dan gelombang panas yang hebat di seluruh dunia. Untuk mengatasi krisis ini, usaha bersama secara global diperlukan untuk mengurangi emisi karbon. Untuk mencapai tujuan ini, peningkatan efisiensi energi adalah salah satu tindakan pelaksanaan yang paling mudah diambil. &lt;/p&gt;             &lt;p class="ep"&gt;Berita baiknya adalah ada banyak cara untuk menghemat energi yang telah terbukti berhasil dan tidak mahal biayanya. majalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Newsweek&lt;/span&gt; terbitan 29 Januari Tahun Emas 4 (2007) menguraikan tujuh cara yang bisa memberikan dampak positif terbesar dalam menyelamatkan dunia dari pemanasan global melalui efisiensi energi: &lt;/p&gt;             &lt;p class="ep"&gt;1. Menggunakan bahan insulasi yang efektif&lt;br /&gt;Pemanas dan penyejuk ruangan menyedot 36% dari energi total dunia. Sebagaimana diperlihatkan oleh prototipe rumah-rumah 'nol-energi' di Swiss dan Jerman, penggunaan bahan insulasi yang mutakhir dapat menurunkan atau bahkan menghapuskan pemakaian alat pemanas dan pendingin udara; dan jumlah penghematannya bisa besar sekali. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7010959403829459285-240342439066612790?l=limbahlingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/feeds/240342439066612790/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/2009/04/perkembangan-positif-bumi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default/240342439066612790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default/240342439066612790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/2009/04/perkembangan-positif-bumi.html' title='Perkembangan Positif Bumi'/><author><name>bayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15977229976436225652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_2uX9aQGk_BE/STf6oU3QBTI/AAAAAAAAAAk/38Md5vLO48U/S220/Picture0180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7010959403829459285.post-8029792034408765014</id><published>2009-04-19T08:13:00.000-07:00</published><updated>2009-04-19T08:14:02.165-07:00</updated><title type='text'>PERTAMINA GELAR CARA PENANGANAN LIMBAH RUMAH TANGGA</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Cilacap. PT Pertamina UP IV Cilacap sangat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memperhatikan terhadap lingkungan,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;perhatian tersebut tidak hanya dengan melakukan aksi penanaman pohon dan berbagai kegiatan lapangan. Namun perusahaan tersebut juga tidak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;segan memanggil tokoh lingkungan yang teruji menjadi pelopor penyelamatan lingkungan, yakni dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menghadirkan Hartini Bambang Wahono 77 tahun, seorang praktisi lingkungan asal Jakarta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bertempat di Gedung Wanita Patra Pertamina Cilacap, sosok peraih penghargaan Kalpataru dan pelopor pengelolaan limbah rumah tangga ini, akhir pekan lalu memberikan pelatihan mengubah limbah dapur menjadi barang yang bermanfaat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kegiatan yang digelar dalam rangka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hari lingkungan hidup&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tersebut, di hadiri peserta&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mencapai 200 orang lebih. Mereka adalah para anggota PKK yang ada di Cilacap kota dan sekitarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Menurut Hartini Bambang Wahono, bahwa dapur adalah sumber limbah, jika kita bisa mengolah limbah dapur, kita bisa ikut menyelamatkan lingkungan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Yang bisa membusuk di olah menjadi kompos,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sedang sampah yang tidak busuk di olah menjadi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;barang yang berguna.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dengan perbandingan yang sesuai, sampah daun kol, kangkung, timun dan sayur lain bisa jadi kompos. Semua sampah organik itu dicacah, dicampur dengan kompos yang sudah ada, dipendam di dalam tanah, dan jadilan kompos. Sementara yang non-organik, seperti plastik dan bungkus diterjen, dianyam menjadi kerajinan tangan sederhana seperti tas belanja dan dompet.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lebih lanjut menurut Hartini, dalama hal ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang penting niat, sebab pihaknya sudah melakukannya puluhan tahun dan tidak ada limbah dapur yang terbuang, semuanya berguna. Pupuk dari limbah dapur bisa digunakan untuk memupuk tanaman, baik tanaman hias maupun tanaman keras. Sementara hasil olah sampah non organik bisa digunakan untuk keperluan sehari-hari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Langkah seperti itu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;efektif, karena kalau&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;membuang plastik bungkus deterjen butuh waktu 400 tahun agar plastik tersebut bisa dibusukan oleh tanah, hal itu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sesuai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;data akademis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pada kesempatan tersebut juga dipaparkan sekaligus dipraktekan bagaimana mengubah sampai oganik dapur menjadi kompos. Selain itu juga ditunjukan bagaimana sampah non-organik (yang tak bisa membusuk) diolah menjadi barang berharga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sementara itu menurut&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Wakil ketua panitia acara tersebut, Teguh Irmantoro yang juga Kabid Lindungan Lingkungan Pertamina UP IV Cilacap, acara tersebut adalah bagian dari agenda peringatan hari lingkungan hidup 2008, dengan melibatkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;ibu-ibu untuk peduli lingkungan dengan pemanfaatan sampah domestik menjadi kompos.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dikatakan melalui kegiatan tersebut setidaknya ada upaya untuk mengubah pola pikir mengenai sampai rumah tangga sebagai sesuatu yang tidak berguna untuk diubah menjadi yang berguna. (Rien)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7010959403829459285-8029792034408765014?l=limbahlingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/feeds/8029792034408765014/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/2009/04/pertamina-gelar-cara-penanganan-limbah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default/8029792034408765014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default/8029792034408765014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/2009/04/pertamina-gelar-cara-penanganan-limbah.html' title='PERTAMINA GELAR CARA PENANGANAN LIMBAH RUMAH TANGGA'/><author><name>bayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15977229976436225652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_2uX9aQGk_BE/STf6oU3QBTI/AAAAAAAAAAk/38Md5vLO48U/S220/Picture0180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7010959403829459285.post-1950718057631209225</id><published>2009-04-18T03:02:00.000-07:00</published><updated>2009-04-18T03:04:03.280-07:00</updated><title type='text'>Sejumlah RS Swasta Tak Miliki Pengolahan Limbah</title><content type='html'>&lt;p&gt;Berdasarkan hasil peninjauan anggota Komisi IV DPRD Kota Serang, diketahui masih ada rumah sakit maupun klinik swasta di wilayah tersebut yang belum memiliki sistem pengolahan limbah. Bahkan, ada juga klinik yang prakteknya diduga menyalahi perijinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="more-24"&gt;&lt;/span&gt;Dalam pantauan DPRD Kota Serang di RS Sari Asih, RS Budi Asih, RS Bedah Benggala dan Klinik Pury Gracia, diketahui beberapa lembaga pengobatan itu tak memiliki instalasi pengolahan limbah sebagaimana diatur dalam peraturan di wilayah tersebut. Kondisi tersebut dinilai bisa membahayakan lingkungan maupun kesehatan masyarakat di sekitar rumah sakit. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Memang ada rumah sakit yang belum memiliki unit pengolahan limbah,” ungkap Anggota Komisi IV DPRD Kota Serang, Rudi Kurniadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Meski demikian, Rudi tidak menyebutkan nama-nama rumah sakit maupun klinik yang dituding tidak memiliki unit pengolah limbah itu. Menurutnya, hal itu harus segera ditindaklanjuti oleh pengelola rumah sakit dan klinik agar nantinya kondisi itu tidak menimbulkan keresahan di tengah-tengah masyarakat. Meski demikian, pihak dewan sendiri mengaku belum akan mengambil tindakan mengingat sejauh ini pihak pengelola rumah sakit maupun klinik yang bermasalah itu berkomitmen untuk segera membangun instalasi pengolahan limbah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Selain tidak memiliki instalasi pengolahan limbah, dewan juga menemukan satu unit klinik bersalin yang ternyata beroperasi tidak sesuai ijin yang dimiliki. Klinik Puri Gracia, yang berlokasi di Desa Drangong Kecamatan Taktakan, dinilai telah melakukan praktek selayaknya rumah sakit, sementara ijin operasionalnya hanyalah untuk klinik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Kami memberikan kesempatan bagi mereka untuk segera memperbaharui perijinan. Dan mereka juga berjanji untuk memperbaiki semua administrasi agar sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Kota Serang,” imbuh Rudi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bila ternyata temuan dewan itu tidak ditindaklanjuti pihak pengelola rumah sakit dan klinik yang bermasalah, Rudi berjanji tidak akan segan-segan mengambil tindakan sesuai peraturan yang berlaku.&lt;br /&gt;Di tempat terpisah, pimpinan Klinik Pury Gracia Hans L Tobing, menolak untuk dikonfirmasi. Bahkan ketika akan mengambil foto gerbang klinik tersebut, Hans sempat membentak dengan nada keras. “Hey, siapa yang ijinkan kamu memfoto? Saya pimpinan di sini, silakan tulis yang besar di koran anda, ini nama saya,” kata Hans saat menyuruh wartawan untuk keluar dari kliniknya sambil memperlihatkan nama yang tertera di bagian dada pada pakaiannya. Selain mengusir, Hasn juga melarang wartawan memfoto klinik tersebut. &lt;strong&gt;(terasnetwork)&lt;/strong&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7010959403829459285-1950718057631209225?l=limbahlingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/feeds/1950718057631209225/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/2009/04/sejumlah-rs-swasta-tak-miliki.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default/1950718057631209225'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default/1950718057631209225'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/2009/04/sejumlah-rs-swasta-tak-miliki.html' title='Sejumlah RS Swasta Tak Miliki Pengolahan Limbah'/><author><name>bayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15977229976436225652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_2uX9aQGk_BE/STf6oU3QBTI/AAAAAAAAAAk/38Md5vLO48U/S220/Picture0180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7010959403829459285.post-3619047309923063331</id><published>2009-04-18T01:54:00.000-07:00</published><updated>2009-04-18T02:12:01.137-07:00</updated><title type='text'>situs pengolahan limbah cair</title><content type='html'>&lt;h3&gt;&lt;a href="http://forumsanitasi.blogspot.com/2007/12/situs-pengolahan-limbah-cair.html"&gt;Situs Pengolahan Limbah Cair&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://www.wef.org/Home"&gt;http://www.wef.org/Home&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Water Enviroment Federation&lt;/strong&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_sOMvCBRYXlE/R2dBTzfYgyI/AAAAAAAAAP8/uV0WJNkYCfQ/s1600-h/foto-1.jpg"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="BLOGGER_PHOTO_ID_5145152907789239074" spid="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" alt="" href="http://1.bp.blogspot.com/_sOMvCBRYXlE/R2dBTzfYgyI/AAAAAAAAAP8/uV0WJNkYCfQ/s1600-h/foto-1.jpg" style="'width:150pt;height:112.5pt'" button="t"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.jpg" href="http://1.bp.blogspot.com/_sOMvCBRYXlE/R2dBTzfYgyI/AAAAAAAAAP8/uV0WJNkYCfQ/s200/foto-1.jpg"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;Seberapa ahlikah anda menangani kualitas air ? ujilah kemampuan dan pengetahuan anda di situs ini ! Dikelola WEF (Water Environmental Federation), sebuah organisasi nirlaba yg bergerak pada perlindungan dan peningkatan kualitas air global, situs ini memiliki sebuah kuis yg menantang wawasan anda. Atau buka saja sebuah kamus kecil yg memuat istilah-istilah umum, konversi, konstanta, formula rumus dan daftar senyawa kimia yg sering ditemui dalam penanganan masalah air. Mungkin anda akan menemukan penjelasan mengenai istilah yg selama ini masih menjadi pertanyaan dibenak anda. Meskipun bukan anggota, anda masih bisa membaca beberapa berita dan isu terakhir masalah perairan global, beberapa topik diskusi, toko buku on-line dan perpustakaan, produk, dan jadwal seminar internasional yg akan berlangsung. Beberapa topik diskusi yg berkaitan dengan air yg pernah dibahas forum ini antara lain penanganan limbah tekstil dan disinfeksi. Buat anda yg benar-benar berkecimpung di bidang ini, cebaiknya bergabung menjadi anggota untuk mendapatkan berbagai keuntungan lebih bersama WEF, antara lain potongan harga buku, kelompok diskusi teknis dan prioritas keikutsertaan dalam berbagai kegiatan WEF.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="http://www.sewage.net/"&gt;http://www.sewage.net/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sewage World&lt;/strong&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_sOMvCBRYXlE/R2dBlDfYgzI/AAAAAAAAAQE/T4ZXODB4S5s/s1600-h/foto-2.jpg"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="BLOGGER_PHOTO_ID_5145153204141982514" spid="_x0000_i1026" type="#_x0000_t75" alt="" href="http://2.bp.blogspot.com/_sOMvCBRYXlE/R2dBlDfYgzI/AAAAAAAAAQE/T4ZXODB4S5s/s1600-h/foto-2.jpg" style="'width:150pt;height:112.5pt'" button="t"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image002.jpg" href="http://2.bp.blogspot.com/_sOMvCBRYXlE/R2dBlDfYgzI/AAAAAAAAAQE/T4ZXODB4S5s/s200/foto-2.jpg"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;Di situs ini anda dapat jalan-jalan ke berbagai instalasi pengolahan air dan air limbah yg kebanyakan berada di Amerika Serikat dan Kanada, selain juga &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;di Belanda&lt;/st1:City&gt;, &lt;st1:country-region st="on"&gt;Australia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, Mesir dan Jepang. Anda bisa mendapatkan gambaran dari instalasi tersebut, spesifikasinya, apa yg diolah dan bagaimana pengolahannya. Siapa tahu ada yg bisa diterapkan di sini. Sealin itu, situs ini juga menyediakan berbagai flowcaharts dan deskripsi proses yg dapat memudahkan anda dalam memahami proses pada instalasi pengolahan air dan air limbah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://www.ecoiq.com/water/"&gt;http://www.ecoiq.com/water/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Water Supply, Reuse and Treatment&lt;/strong&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_sOMvCBRYXlE/R2dCAjfYg0I/AAAAAAAAAQM/YsWQfibbqDI/s1600-h/foto-3.jpg"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="BLOGGER_PHOTO_ID_5145153676588385090" spid="_x0000_i1027" type="#_x0000_t75" alt="" href="http://4.bp.blogspot.com/_sOMvCBRYXlE/R2dCAjfYg0I/AAAAAAAAAQM/YsWQfibbqDI/s1600-h/foto-3.jpg" style="'width:150pt;height:112.5pt'" button="t"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image003.jpg" href="http://4.bp.blogspot.com/_sOMvCBRYXlE/R2dCAjfYg0I/AAAAAAAAAQM/YsWQfibbqDI/s200/foto-3.jpg"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;EcolQ adalah perusahaan jasa, digital media dan internet publishing yg mengkhususkan diri pada manajemen lingkungan, perencanaan penggunaan lahan dan transportasi. Bagian ini membahas secara khusus masalah di bidang water supply, reuse and treatment. Berbagai isu lingkungan terbaru secara rutin dapat dibaca di sini melalui Majalah EcolQ. Situs ini juga menyajikan kalender program lingkungn yg berlangsung. EcolQ.com juga menjadi portal lingkungan yg mempermudah akses menuju isu-isu terkait. Selebihnya situs ini adalah sebuah gerbang pemasaran dari produk-produk barang maupun jasa yg ditawarkan EolQ, baik berupa audio kaset, video, CD ataupun berupa buku-buku dan publikasi lain. Sedikit berbeda dari situs ini adalah tersedianya akses untuk mengenal profil beberapa pembicara seminar lingkungan tingkat internasional. Mungkin anda tertarik untuk mengundangnya ? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;sumber : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7010959403829459285-3619047309923063331?l=limbahlingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/feeds/3619047309923063331/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/2009/04/situs-pengolahan-limbah-cair.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default/3619047309923063331'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7010959403829459285/posts/default/3619047309923063331'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://limbahlingkungan.blogspot.com/2009/04/situs-pengolahan-limbah-cair.html' title='situs pengolahan limbah cair'/><author><name>bayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15977229976436225652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_2uX9aQGk_BE/STf6oU3QBTI/AAAAAAAAAAk/38Md5vLO48U/S220/Picture0180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
