| ||||
| © shanty bio 2004-2007 |
|
Minggu, 19 April 2009
Pengolangan Limbah Cair
PENGOLAHAN DAN PEMANFAATAN LIMBAH TEKSTIL
| ||
| © shanty bio 2004-2007 | |
Dampak Negatif Limbah Sampah Terhadap Lingkungan dan Pemanfaatannya
Nature tour area is place that interesting to visited, either by local tourist also foreign countries tourist lovely natural nuance. besides nature tour area place tool the happening of social interaction and economy activity.
to fish society and tourist as many as possible, every nature tour area must watch over uniqueness, preservation, and the beauty. more and more tourist visit, so activity supervision will increase, good also economy. every activity that done, will produce economy benefit for area. but that must be rememberred that waste or rubbish that evoked from activity can threaten nature tour area.
when be let not be managed be threat serious for continuance and nature tour area preservation. on the contrary, when managed well, has potential value, like penyediaan job field, quality enhanced and environment aesthetics, and utilization other upon which compost maker that can be used to repair critical tune at various region in indonesia, and can also influence state's stock exchange acceptance.
Kawasan wisata alam merupakan tempat yang menarik untuk dikunjungi, baik oleh wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara yang menyenangi nuansa alami. Selain itu kawasan wisata alam adalah sarana tempat terjadinya interaksi sosial dan aktivitas ekonomi.
Untuk menjaring masyarakat dan wisatawan sebanyak mungkin, setiap kawasan wisata alam harus menjaga keunikan, kelestarian, dan keindahannya. Semakin banyak kunjungan wisatawan, maka aktivitas dikawasan tersebut akan meningkat, baik aktivitas sosial maupun ekonomi. Setiap aktivitas yang dilakukan, akan menghasilkan manfaat ekonomi bagi kawasan tersebut. Namun yang harus diingat adalah bahwa limbah atau sampah yang ditimbulkan dari kegiatan tersebut dapat mengancam kawasan wisata alam.
Sampah apabila dibiarkan tidak dikelola dapat menjadi ancaman yang serius bagi kelangsungan dan kelestarian kawasan wisata alam. Sebaliknya, apabila dikelola dengan baik, sampah memiliki nilai potensial, seperti penyediaan lapangan pekerjaan, peningkatan kualitas dan estetika lingkungan, dan pemanfaatan lain sebagai bahan pembuatan kompos yang dapat digunakan untuk memperbaiki lahan kritis di berbagai daerah di Indonesia, dan dapat juga mempengaruhi penerimaan devisa negara.
Pengertian Sampah
Sampah adalah semua material yang dibuang dari kegiatan rumah tangga, perdagangan, industri dan kegiatan pertanian. Sampah yang berasal dari kegiatan rumah tangga dan tempat perdagangan dikenal dengan limbah municipal yang tidak berbahaya (non hazardous).
Soewedo (1983) menyatakan bahwa sampah adalah bagian dari sesuatu yang tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang harus dibuang, yang umumnya berasal dari kegiatan yang dilakukan manusia (termasuk kegiatan industri), tetapi bukan yang biologis.
Komposisi Sampah
Berdasarkan komposisinya, sampah dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Sampah Organik, yaitu sampah yang mudah membusuk seperti sisa makanan, sayuran, daun-daun kering, dan sebagainya. Sampah ini dapat diolah lebih lanjut menjadi kompos;
2. Sampah Anorganik, yaitu sampah yang tidak mudah membusuk, seperti plastik wadah pembungkus makanan, kertas, plastik mainan, botol dan gelas minuman, kaleng, kayu, dan sebagainya. Sampah ini dapat dijadikan sampah komersil atau sampah yang laku dijual untuk dijadikan produk lainnya. Beberapa sampah anorganik yang dapat dijual adalah plastik wadah pembungkus makanan, botol dan gelas bekas minuman, kaleng, kaca, dan kertas, baik kertas koran, HVS, maupun karton;
Di negara-negara berkembang komposisi sampah terbanyak adalah sampah organik, sebesar 60 – 70%, dan sampah anorganik sebesar ± 30%.
Ancaman Bagi Kawasan Wisata Alam
Dampak negatif yang ditimbulkan dari sampah yang tidak dikelola dengan baik adalah sebagai berikut:
a. Gangguan Kesehatan:
· Timbulan sampah dapat menjadi tempat pembiakan lalat yang dapat mendorong penularan infeksi;
· Timbulan sampah dapat menimbulkan penyakit yang terkait dengan tikus;
b. Menurunnya kualitas lingkungan
c. Menurunnya estetika lingkungan
Timbulan sampah yang bau, kotor dan berserakan akan menjadikan lingkungan tidak indah untuk dipandang mata;
d. Terhambatnya pembangunan negara
Dengan menurunnya kualitas dan estetika lingkungan, mengakibatkan pengunjung atau wisatawan enggan untuk mengunjungi daerah wisata tersebut karena merasa tidak nyaman, dan daerah wisata tersebut menjadi tidak menarik untuk dikunjungi. Akibatnya jumlah kunjungan wisatawan menurun, yang berarti devisa negara juga menurun.
Pengelolaan Sampah
Agar pengelolaan sampah berlangsung dengan baik dan mencapai tujuan yang diinginkan, maka setiap kegiatan pengelolaan sampah harus mengikuti filosofi pengelolaan sampah. Filosofi pengelolaan sampah adalah bahwa semakin sedikit dan semakin dekat sampah dikelola dari sumbernya, maka pengelolaannya akan menjadi lebih mudah dan baik, serta lingkungan yang terkena dampak juga semakin sedikit.
Tahapan Pengelolaan sampah yang dapat dilakukan di kawasan wisata alam adalah:
a. Pencegahan dan Pengurangan Sampah dari Sumbernya
Kegiatan ini dimulai dengan kegiatan pemilahan atau pemisahan sampah organik dan anorganik dengan menyediakan tempat sampah organik dan anorganik disetiap kawasan yang sering dikunjungi wisatawan.
b. Pemanfaatan Kembali
Kegiatan pemanfaatan sampah kembali, terdiri atas:
1). Pemanfaatan sampah organik, seperti composting (pengomposan). Sampah yang mudah membusuk dapat diubah menjadi pupuk kompos yang ramah lingkungan untuk melestarikan fungsi kawasan wisata.
Berdasarkan hasil, penelitian diketahui bahwa dengan melakukan kegiatan composting sampah organik yang komposisinya mencapai 70%, dapat direduksi hingga mencapai 25%.
| Gb.1. Proses Pemilahan Sampah | Gb.2. Proses Pembuatan Kompos | |
2). Pemanfaatan sampah anorganik, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Pemanfaatan kembali secara langsung, misalnya pembuatan kerajinan yang berbahan baku dari barang bekas, atau kertas daur ulang. Sedangkan pemanfaatan kembali secara tidak langsung, misalnya menjual barang bekas seperti kertas, plastik, kaleng, koran bekas, botol, gelas dan botol air minum dalam kemasan.
c. Tempat Pembuangan Sampah Akhir
Sisa sampah yang tidak dapat dimanfaatkan secara ekonomis baik dari kegiatan composting maupun pemanfaatan sampah anorganik, jumlahnya mencapai ± 10%, harus dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA). Di Indonesia, pengelolaan TPA menjadi tanggung jawab masing-masing Pemda.
Dengan pengelolaan sampah yang baik, sisa sampah akhir yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan lagi hanya sebesar ± 10%. Kegiatan ini tentu saja akan menurunkan biaya pengangkutan sampah bagi pengelola kawasan wisata alam, mengurangi luasan kebutuhan tempat untuk lokasi TPS, serta memperkecil permasalahan sampah yang saat ini dihadapi oleh banyak pemerintah daerah.
PenutupPengelolaan sampah yang dilakukan di kawasan wisata alam, akan memberikan banyak manfaat, diantaranya adalah:
a. Menjaga keindahan, kebersihan dan estetika lingkungan kawasan sehingga menarik wisatawan untuk berkunjung;
b. Tidak memerlukan TPS yang luas, sehingga pengelola wisata dapat mengoptimalkan penggunaan pemanfaatan kawasan;
c. Mengurangi biaya angkut sampah ke TPS;
d. Mengurangi beban Pemda dalam mengelola sampah.
Ramah Lingkungan dari Hulu Hingga Hilir - AutoCar

Toyota terus mengembangkan aktivitas ramah lingkungan. Aplikasinya dimulai dari pabrik dan lingkungannya, hingga berputarnya roda mobil produksi mereka di jalan-jalan.
Persoalan lingkungan hidup saat ini hadir darisemakin tingginya output karbon yang dihasilkan oleh hampir seluruh sektor industri mulai dari hulu hingga hilir. Kendaraan, scbagai salah satu bagian penting roda kehidupan pun menjadi salah satu penyumbang terbesar tercemarnya udara, bahkan bisa dibilang sebagai salah satu perusak lingkungan utama. Mulai dari produksi, distribusi, operasi hingga usai masa pakainya, mobil menghasilkan kontribusi terhadap kerusakan lingkungan.
Saat ini diperkirakan kepemilikan mobil di dunia mencapai 900 juta unit. Asosiasi Industri Otomotif Jepang (JAMA) bahkan memperkirakan tahun 2010, kepemilikan mobil di dunia akan mencapai satu miliar unit dan menjadi 1,5 miliar unit di 2020. Tentunya, dampak lingkungan yang terjadi akibat produksi hingga pemakaian mobil sebanyak ini akan semakin buruk terhadap lingkungan.
Toyoota, sebagai salah satu produsen otomotif terbesar di dunia pun bergerak cepat untuk tidak menjadi yang terbesar pula dalam menyumbang kerusakan lingkungan. Dalam acara Toyota Environmental Forum (TEF) 2008 di Tokyo bulan Juni lalu, mereka pun menyosialisasikan beberapa tindakan aktif untuk memberikan kontribusi positif terhadap masa depan dunia yang lebih baik dengan merealisasikan lingkungan masyarakat rendah karbon (low carbon society).
"Sejak berdiri, Toyota telah menjalankan bisnisnya berdasarkan prinsip untuk berkontribusi pada pengembangan masyarakat sejahtera melalui manufaktur otomotif," ujar Presiden Toyota Motor Corporation (TMC), Katsuaki Watanabe. "Toyota mencari jalan mengombinasikan tenaga manusia dan teknologi untuk membantu mewujudkan masyarakat yang dapat menjaga keseimbangan antara aktivitas perusahaan dan pemeliharaan lingkungan," tambahnya. Untuk itu, Toyota merencanakan tiga aktivitas dengan fokus pada penelitian dan pengembangan, proses produksi, dan kontribusi sosial. Singkatnya, ramah lingkungan dari hulu sampai hilir.
PROSES PRODUKSI
Dimulai dari pabriknya, TMC sudah mengindikasikan proses produksi yang ramah lingkungan. Semua aktivitas di pabrik Toyota menunjukkan tanggung jawab besar terhadap lingkungannya di semua aspek produksi dan distribusi. Pengembangan teknologi pengurangan emisi CO2 misalnya, pada pabrik Tsutsumi di Nagoya, TMC sukses mengurangi emisi CO2 hingga 51% dibandingkan tahun 1990. Pengurangan CO2 yang dicapai hingga 740 ton/tahun itu setara dengan penghematan 1.500 barrel minyak mentah. Hal tersebut antara lain didapat berkat penggunaan bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar minyak pada sistem pembangkit turbin gas yang mereka miliki dengan pengalihan penggunaan bahan bakar gas petroleum cair (LPG) menjadi gas alam cair (LNG).
Penggunaan energi terbarukan juga menjadi salah satu aktivitas ramah lingkungan TMC untuk menghasilkan mobil yang juga ramah lingkungan. Masih di Tsutsumi, di pabrik yang memproduksi mobil hybrid Toyota Prius ini, terdapat barisan 12.000 panel surya di atap pabrik untuk memasok sistem pembangkit foto-voltaik yang mampu menghasilkan output listrik hingga 2.000 kW untuk proses produksi mereka. Sumber energi tersebut, dapat memasok sumber listrik hingga 5% dari kebutuhan listrik total pabrik Tsutsumi.
PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
Isu soal energi dan lingkungan yang berhubungan erat dengan produk otomotif adalah soal ketergantungan pada bahan bakar minyak dan munculnya emisi CO2. Pengembangan teknologi otomotif yang dilakukan Toyota menunjukkan bahwa dalam sepuluh tahun terakhir (1997-2007), nilai efisiensi bahan bakar rata-rata dari mobil Toyota yang dijual di Jepang meningkat sekitar 28%. Toyota pun terus melakukan pengembangan dengan memperkenalkan mesin dan transmisi baru dengan efisiensi lebih baik lagi.
Peningkatan efisiensi bahan bakar ini dapat diwujudkan antara lain berkat kemampuan mesin-mesin Toyota mengonsumsi bahan bakar alternatif (Flexible Fuel Vehicle). Sejak 2006, semua mobil yang diproduksi Toyota sanggup menenggak bahan bakar E10 (10% ethanol), bahkan di bulan Mei 2007, Toyota memperkenalkan Toyota Corolla di Brasil yang mampu menenggak bahan bakar ethanol 100% (E100).
Hal lain yang menjadi fokus utama Toyota saat ini adalah penggunaan teknologi hybrid pada mobil produksi mereka. Tak hanya soal efisiensi bahan bakar, teknologi hybrid yang memadukan penggunaan mesin bensin/diesel yang efisien dengan motor listrik menawarkan emisi gas buang lebih rendah. Toyota saat ini terus melakukan peningkatan penggunaan teknologi hybrid dengan menawarkan lebih banyak varian hybrid di antara model mobil produksinya. Hingga tahun 2008, total penjualan model hybrid Toyota telah mencapai 1,5 juta unit di seluruh dunia, di mana hal itu sama dengan keberhasilan mengurangi tujuh juta ton emisi CO2 dan memangkas konsumsi bahan bakar minyak hingga 2,7 juta kiloliter.
Penggunaan teknologi hybrid pun terus dikembangkan oleh Toyota. Teknologi hybrid kini dikembangkan dengan meningkatkan kemampuan motor listriknya (Plug-in Hybrid Vehicle/ Electric Vehicle) dan mengombinasikannya dengan bahan bakar alternatif, seperti hidrogen (Fuel Cell Hybrid Vehicle). Toyota bahkan menargetkan dapat memasarkan mobil berteknologi plug-in hybrid ini pada tahun 2010. "Dan pada tahun 2020 akan ada varian hybrid dari semua model Toyota yang dijual," tegas Watanabe.
BATERAI
Lebih jauh lagi, untuk mendukung teknologi plug-in hybrid (PHV) dan mobil listrik (EV) mereka, TMC lebih serius untuk mengembangkan baterai sebagai unit utama pemasok energi. Bisa dibi-lang baterai merupakan kunci dari perkembangan teknologi plug-in hybrid dan kendaraan listrik Toyota di masa yang akan datang. Untuk menghadapi itu, sejak Juni 2008, TMC membentuk departemen yang secara khusus mengembangkan baterai yang jauh lebih baik dari teknologi baterai lithium-ion masa kini.
"Di saat kami dapat mengembangkan baterai yang mengalahkan performa baterai lithium-ion (di masa akan datang), kami akan memperkenalkan mobil bertenaga listrik di semua model kami," ujar Masatami TaMmoto, Executive Vice President TMC. Baterai ini pula yang akan menjadi kunci bagi kelangsungan PHV di masa yang akan datang. Watanabe optimis Prius berteknologi plug-in bahkan sudah mulai dipasarkan pada tahun 2010, paling tidak di pasar domestik Jepang.
MASA DEPAN HYBRID Dl INDONESIA
PERKEMBANGAN teknologi hybrid juga berada di ambang pintu Indonesia. Pernyataan President TMC, Katsuaki Watanabe, bahwa pada tahun 2020 semua model Toyota akan mendapatkan teknologi hybrid menjadi salah satu kunci. Hal ini menjadi tak tertutup kemungkinan varian Toyota Kijang Innova bahkan Toyota Avanza juga akan mencicipi teknologi 'hijau' ini dalam dua dekade mendatang. Apalagi General Manager Planning Dept. Asia-Oceania-Middle East TMC, Shuji Eguchi sempat mengungkapkan, "Hal tersebut mungkin saja," usai berlangsungnyaTEF 2008 di Jepang. Indikasi lain adalah mulai diproduksinya Toyota Camry Hybrid di Thailand. Seperti kita tahu, hampir sebagian besar produk global Toyota yang nadir di Indonesia datang dari pabrikdi Thailand.
Meski begitu, Senior Managing Director TMC Dato Akira Okabe justru melihat Indonesia belum menjadi pasar potensial bagi produk hybrid. "Harga mobil hybrid yang tinggi dan karakteristik pembeli mobil yang berbeda," menjadi alasan Okabesan. Menurutnya, saat ini yang lebih dibutuhkan masyarakat di Asia adalah mobil kecilyangefisien.
Sedangkan menurut Joko Trisanyoto, Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor, selain karena tingginya harga mobil hybrid, skema insentif pemerintah bagi industri di Indonesia juga belum menguntungkan bagi mobil berteknologi hybrid. "Padahal insentif bisa turut menekan harga jual mobil (berteknologi) hybrid," ujarnya. Meski begitu, PT TAM tetap memasarkan Toyota Prius hybrid bagi mereka yang menginginkannya.
Membantu Menyelamatkan Planet Bumi melalui Renovasi Rumah
Menurut sebuah survei tahun 2006, hampir sepertiga dari para pemilik rumah di Inggris telah melakukan renovasi penghematan energi di dalam rumah mereka pada tahun lalu. Renovasi rumah ini berguna bagi para pemilik rumah, karena pada akhirnya dapat menghemat uang dengan memotong biaya gas, tagihan listrik, serta dapat membantu menurunkan pemanasan global dengan mengurangi emisi karbon dioksida. Survei yang dilakukan oleh Halifax Building Society mencerminkan komitmen yang tengah berlangsung pada umat manusia untuk meningkatkan efisiensi energi dengan memikirkan masa depan planet dan generasi mendatang.
Perkembangan Positif Bumi
Gerakan Ramah Lingkungan
Sekarang ini, ketika kita melihat ke sekeliling dunia ini, kita benar-benar melihat gerakan ramah lingkungan yang sedang berkembang pesat. Hal ini merupakan perkembangan yang menandai datangnya Zaman Keemasan. Kita melihat para pemimpin bermunculan di sektor swasta, organisasi pemerintah, nonpemerintah, maupun inisiatif warga negara perorangan untuk melindungi ketahanan lingkungan.
Transformasi Ramah Lingkungan Global
Para ilmuwan di bidang iklim telah menyajikan bukti-bukti meyakinkan bahwa pemanasan global benar-benar terjadi. Pemanasan global bertanggung jawab atas aktivitas angin topan yang kuat, mencairnya es di kutub, dan telah menyebabkan perubahan drastis terhadap pola iklim kita yang mengakibatkan kekeringan, banjir, dan gelombang panas yang hebat di seluruh dunia. Untuk mengatasi krisis ini, usaha bersama secara global diperlukan untuk mengurangi emisi karbon. Untuk mencapai tujuan ini, peningkatan efisiensi energi adalah salah satu tindakan pelaksanaan yang paling mudah diambil.
Berita baiknya adalah ada banyak cara untuk menghemat energi yang telah terbukti berhasil dan tidak mahal biayanya. majalah Newsweek terbitan 29 Januari Tahun Emas 4 (2007) menguraikan tujuh cara yang bisa memberikan dampak positif terbesar dalam menyelamatkan dunia dari pemanasan global melalui efisiensi energi:
1. Menggunakan bahan insulasi yang efektif
Pemanas dan penyejuk ruangan menyedot 36% dari energi total dunia. Sebagaimana diperlihatkan oleh prototipe rumah-rumah 'nol-energi' di Swiss dan Jerman, penggunaan bahan insulasi yang mutakhir dapat menurunkan atau bahkan menghapuskan pemakaian alat pemanas dan pendingin udara; dan jumlah penghematannya bisa besar sekali.
PERTAMINA GELAR CARA PENANGANAN LIMBAH RUMAH TANGGA
Cilacap. PT Pertamina UP IV Cilacap sangat memperhatikan terhadap lingkungan, perhatian tersebut tidak hanya dengan melakukan aksi penanaman pohon dan berbagai kegiatan lapangan. Namun perusahaan tersebut juga tidak segan memanggil tokoh lingkungan yang teruji menjadi pelopor penyelamatan lingkungan, yakni dengan menghadirkan Hartini Bambang Wahono 77 tahun, seorang praktisi lingkungan asal Jakarta.
Bertempat di Gedung Wanita Patra Pertamina Cilacap, sosok peraih penghargaan Kalpataru dan pelopor pengelolaan limbah rumah tangga ini, akhir pekan lalu memberikan pelatihan mengubah limbah dapur menjadi barang yang bermanfaat.
Kegiatan yang digelar dalam rangka hari lingkungan hidup tersebut, di hadiri peserta mencapai 200 orang lebih. Mereka adalah para anggota PKK yang ada di Cilacap kota dan sekitarnya.
Menurut Hartini Bambang Wahono, bahwa dapur adalah sumber limbah, jika kita bisa mengolah limbah dapur, kita bisa ikut menyelamatkan lingkungan.
Yang bisa membusuk di olah menjadi kompos, sedang sampah yang tidak busuk di olah menjadi barang yang berguna.
Dengan perbandingan yang sesuai, sampah daun kol, kangkung, timun dan sayur lain bisa jadi kompos. Semua sampah organik itu dicacah, dicampur dengan kompos yang sudah ada, dipendam di dalam tanah, dan jadilan kompos. Sementara yang non-organik, seperti plastik dan bungkus diterjen, dianyam menjadi kerajinan tangan sederhana seperti tas belanja dan dompet.
Lebih lanjut menurut Hartini, dalama hal ini yang penting niat, sebab pihaknya sudah melakukannya puluhan tahun dan tidak ada limbah dapur yang terbuang, semuanya berguna. Pupuk dari limbah dapur bisa digunakan untuk memupuk tanaman, baik tanaman hias maupun tanaman keras. Sementara hasil olah sampah non organik bisa digunakan untuk keperluan sehari-hari.
Langkah seperti itu efektif, karena kalau membuang plastik bungkus deterjen butuh waktu 400 tahun agar plastik tersebut bisa dibusukan oleh tanah, hal itu sesuai data akademis.
Pada kesempatan tersebut juga dipaparkan sekaligus dipraktekan bagaimana mengubah sampai oganik dapur menjadi kompos. Selain itu juga ditunjukan bagaimana sampah non-organik (yang tak bisa membusuk) diolah menjadi barang berharga.
Sementara itu menurut Wakil ketua panitia acara tersebut, Teguh Irmantoro yang juga Kabid Lindungan Lingkungan Pertamina UP IV Cilacap, acara tersebut adalah bagian dari agenda peringatan hari lingkungan hidup 2008, dengan melibatkan ibu-ibu untuk peduli lingkungan dengan pemanfaatan sampah domestik menjadi kompos.
Dikatakan melalui kegiatan tersebut setidaknya ada upaya untuk mengubah pola pikir mengenai sampai rumah tangga sebagai sesuatu yang tidak berguna untuk diubah menjadi yang berguna. (Rien)
